Kian Sulit Temukan Kunang-Kunang, Dampak Krisis Iklim?

4 days ago 15
Web Liputan Hot Petang Viral Non Stop
  • Apakah Anda tahu kunang-kunang? Dulu, kunang-kunang begitu mudah muncul di pekarangan rumah atau di kebun dan lahan pertanian. Kini, sudah sulit temukan kunang-kunang memancarkan sinar, berkerlap kerlip di malam hari.
  • Damayanti Buchori,  Entomolog Institut Pertanian Bogor (IPB) University tidak menampik kunang-kunang mulai sulit belakangan ini. Kondisi ini karena pelbagai faktor, antara lain, perubahan tata guna lahan hingga mereka susah mencari makan. Saat kunang-kunang mengeluarkan cahaya untuk mencari pasangan juga terkendala. Ketika ada polusi cahaya lampu, sistem komunikasi terganggu.
  • Riset Sara M Lewis dkk berjudul Illuminating firefly Diversity: Trends, Threats, and Conservation Strategies (2024) menyebutkan, perubahan iklim jadi salah satu ancaman keberlangsungan hidup kunang-kunang. Suhu bumi lebih panas, berpengaruh terhadap kunang-kunang yang sebagian besar membutuhkan kelembapan untuk bertahan hidup.
  • Makanan kunang-kunang seperti hewan invertebrata bertubuh lunak juga hidup di tempat lembab. Selama ini,  mereka banyak di tempat dengan sumber air bagus dan permanen.

Saya duduk tertegun di teras rumah, sore itu. Pulang ke rumah masa kecil di Yogyakarta,  selalu menyenangkan. Hiruk pikuk Kota Surabaya tempat mencari nafkah langsung tergantikan dengan suasana Jogja yang tenteram.  Meski begitu, ada yang mulai berubah.

Dulu, ada sawah membentang luas persis di seberang teras rumah, sekitar awal 2000-an. Kalau hari mulai gelap usai panen padi, saya dan dua saudara laki-laki berhamburan lari ke sawah mengejar kunang-kunang. Satwa malam yang memancarkan cahaya itu berhamburan, jumlahnya banyak sekali.

Kini, sawah itu sudah jadi kos-kosan tiga lantai dengan puluhan pintu. Anak-anak itu kini sudah dewasa dan berkeluarga. Kunang-kunang tak ada lagi, ke mana perginya?  Sudah puluhan tahun saya tak melihat kunang-kunang. Apakah kunang-kunang sudah punah?

Di perjalanan kerja keluar kota ke Balikpapan, Kalimantan Timur, saya juga bertanya kepada anak lima tahun soal kunang-kunang di bandara. Balita itu tahu kunang-kunang tetapi dari kanal YouTube.

Tak berhenti, saya bertanya kepada beberapa mahasiswa berusia 22 tahun yang dekat dengan tempat tinggal. Mereka berasal dari pelbagai kota, yakni Solo, Tangerang, Padang, dan Papua. Hanya mahasiswa asal Papua yang mengaku pernah melihatnya.

Hadi Poernomo, warga Kelurahan Patrang,  Kecamatan Patrang Kabupaten Jember,  Jawa Timur merasakan kegundahan serupa. Laki-laki 47 tahun itu memilih bergerak dan mengundang kembali kunang-kunang.

Dia sulap tanah lapang yang gersang menjadi kebun yang sekarang menjadi rumah bagi banyak serangga dan burung termasuk kunang-kunang.

Hadi sangat piawai meski bukan lulusan ilmu pertanian atau biologi. Dia ciptakan ekosistem bagus dengan suhu yang ideal dan tak panas agar kunang-kunang bisa bertahan hidup dan berkembang biak.

“Saya ingin kembangkan rumah yang lingkungan sehat dengan mengembalikan kualitas udara dan air,” katanya saat ditemui di Nara Garden Jember.

Hadi Poernomo, warga Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur berupaya menghadirkan kunang-kunang di Kebun yang ia beri nama Nara Garden. Foto: Wulan Yanuarwati/Mongabay Indonesia

Setelah ekosistem terbentuk dengan baik, dia berinisiasi membuat penangkaran kunang-kunang sederhana. Dia juga menyakini,  kehadiran kunang-kunang menjadi indikator suatu lingkungan sehat dan alami.

“Awalnya,  gagal, lalu saya tangkar, saya bawa lagi. Mungkin karena kualitas udara masih panas dan sirkulasi belum bagus, 5-6 kali ujicoba selama dua tahun,” katanya.

Saat dia membawa kunang-kunang dari Lereng Gunung Argopuro, Jember, dengan terlebih dahulu memastikan kondisi air tak tercemar.  Sumber pangan dia siapkan. Kelembapan dia jaga.

Dia menolak pestisida dan membiarkan tanaman tumbuh alami. Kalau ada hama baik serangga maupun ulat, mereka juga bagian dari ekosistem itu.

“Kualitas udara, air, dan sumber pangan serangga disiapkan. Tanpa kita racun, kan biasanya pestisida, tapi biarkan hidup saja alami. Siklus akhirnya tumbuh, berkembang biak.”

Bukan tanpa alasan dia berupaya melestarikan kunang-kunang kembali. Selain kecintaan terhadap alam sejak kecil, dia memiliki keterikatan batin dengan serangga ini. Mereka sangat lekat dengan mitos dan selalu mengingatkan kepada orangtuanya.

“Kunang-kunang akrab dengan mitos. Kalau pergi pas kecil, orang tua minta jangan main surup-surup (petang) ada kunang-kunang, itu kukunya orang mati,” katanya.

Masyarakat Jawa,  memang sangat akrab dengan budaya bertutur dan mitos. Hampir segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa lekat dengan mitos. Ada mitos untuk pelbagai tujuan, seperti menakut-nakuti dengan tujuan mayoritas baik.

Mitos kunang-kunang adalah kuku orang mati sudah lama berkembang di masyarakat Jawa. Namun kini masih belum bisa dia pastikan sejak kapan mitos itu muncul.

Hadi menyakini,  ada tujuan tertentu mengapa mitos itu ada turun temurun agar manusia menjaga alam dan binatang di sekitarnya.

“Jadi orangtua menakuti kita dengan mitos. Penting mitos karena menurut pemahaman saya diciptakan untuk menjaga alam dari tangan orang tak tanggungjawab.”

Kini, kondisi alam sudah berubah. Hadi inat saat kecil, bila ada kunang-kunang, lingkungan sekitar sangat sejuk. Berbeda dengan saat ini, cuaca panas tak tertahankan hingga banyak serangga tak bisa bertahan hidup atau pindah ke tempat lain.

Mawar dan kunang-kunang. Foto: Ernesto Rodriguez from Pixabay

Perubahan iklim, menuju kepunahan?

Damayanti Buchori,  Entomolog Institut Pertanian Bogor (IPB) University tidak menampik kunang-kunang mulai sulit belakangan ini. Kondisi ini karena pelbagai faktor, antara lain, perubahan tata guna lahan hingga mereka susah mencari makan.

Saat kunang-kunang mengeluarkan cahaya untuk mencari pasangan juga terkendala. Ketika ada polusi cahaya lampu, sistem komunikasi terganggu.

“Di samping habitat hilang, reproduksi hilang untuk ketemu pasangan gak mudah. Ketika bertelur mungkin kena pestisida. Faktornya banyak tapi basically karena antroposen ya karena faktor manusia maka punah,” katanya.

Secara umum, serangga merupakan hewan berdarah dingin. Perkembangbiakan tergantung pada suhu. Serangga tropis sudah terbiasa dengan suhu hangat tetapi secara keseluruhan dampak perubahan suhu terhadap serangga juga bermacam-macam.

Dataran rendah yang semula suhu hangat sudah menjadi sangat panas. Sedangkan dataran tinggi sudah tak terlalu dingin. Maka, indikasi migrasi serangga ke dataran tinggi terjadi. Makanya, kunang-kunang tak lagi mudah ditemukan di dataran rendah yang sangat panas.

“Ada yang kemudian pindah ke pegunungan, lebih dingin. Memang dispersal perpindahan geografis teridentifikasi serangga dari dataran rendah ke tinggi,” katanya.

Alasannya, karena di bawah sudah terlalu panas hingga serangga pindah ke pegunungan, di mana sekarang juga tak terlalu dingin lagi. Mirip dengan dataran rendah yang dahulu sejuk.

“Mulai ada kepunahan di daerah tertentu.”

Dia tak menyangkal perubahan suhu bumi berpengaruh kepada kehidupan serangga. Namun, lagi-lagi bukan hanya satu faktor saja tetapi banyak faktor pendukung. Termasuk,  suhu yang mempengaruhi siklus hidup tanaman yang seharusnya jadi sumber makanan bagi serangga.

“Ada interaksi gangguan-gangguan pengaruh langsung dan tak langsung.”

Riset Sara M Lewis dkk berjudul Illuminating firefly Diversity: Trends, Threats, and Conservation Strategies (2024) menyebutkan, perubahan iklim jadi salah satu ancaman keberlangsungan hidup kunang-kunang. Suhu bumi lebih panas, berpengaruh terhadap kunang-kunang yang sebagian besar membutuhkan kelembapan untuk bertahan hidup.

Makanan kunang-kunang seperti hewan invertebrata bertubuh lunak juga hidup di tempat lembab. Selama ini,  mereka banyak di tempat dengan sumber air bagus dan permanen.

Perubahan iklim juga menyebabkan kekeringan. Belum lagi bencana alam seperti banjir dan erosi tanah karena badai.

Kondisi itu, katanya,  bakal menyebabkan kerusakan habitat, menyapu bersih dan menjauhkan populasi lokal dengan habitat aslinya.

Perubahan iklim juga menyebabkan peningkatan kebakaran hutan besar-besaran dan berintensitas tinggi. Kebakaran berisiko menghancurkan populasi kunang-kunang.

Belum lagi di daerah pesisir, kenaikan permukaan laut yang cepat rentan menggenangi lahan basah pesisir seperti hutan bakau dan rawa asin yang termasuk habitat kunang-kunang.

Damayanti mengatakan,  kepunahan itu  adalah sesuatu yang pasti akan terjadi. Meskipun begitu, katanya, masih bisa dicegah agar tak terjadi dalam waktu dekat.

“Harusnya kita tetap sediakan habitat itu, hutan kota itu penting. Kalau di desa saya yakin masih ada, bagaimana pengurangan pestisida supaya kunang-kunang gak kena racun juga,” katanya.

Kunang-kunang yang bersinar terang di malam hari. Foto: Unsplash/Jerry Zhang/Free to use

*******

Menangkap Isyarat Kunang-kunang di Malam Hari

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|