- Onrizal tidak hanya mengajar. Dosen Ekologi Hutan Tropis dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara (USU), ini juga meneliti orangutan tapanuli.
- Orangutan tapanuli hanya ditemukan di hutan Batang Toru, yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.
- Berdasarkan hasil studi mendalam terkait perilaku, morfologi, dan genetik, orangutan di Batang Toru dinyatakan sebagai spesies terpisah dan diberi nama orangutan tapanuli, pada 2017.
- Orangutan di Batang Toru baru diketahui dan menjadi perhatian masyarakat global sekitar 1997, setelah ada publikasi Erik Meijaard di sebuah jurnal ilmiah yang menyebutkan ada orangutan di selatan Danau Toba.
Onrizal tidak hanya mengajar. Dosen Ekologi Hutan Tropis dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara (USU), ini juga meneliti satwa liar.
Salah satunya adalah orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Kera besar ini hanya ditemukan di hutan Batang Toru, yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.
Lelaki kelahiran Sumatera Barat, 25 Februari 1974, ini telah melakukan riset orangutan di Batang Toru sejak 2005. Namun, saat itu secara genetik orangutan ini belum dipisahkan dari orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).
Hasil penelitiannya bersama Erik Meijaard, Safwanah Ni’matullah, Rona Dennis, Julie Sherman, dan Serge A. Wich berjudul “The historical range and drivers of decline of the Tapanuli orangutan” terbit di Jurnal Plos One pada Januari 2021.
Panut Hadisiswoyo, Direktur Green Justice Indonesia (GJI), yang berpengalaman pada isu penyelamatan orangutan di Sumatera, menyatalan bahwa Onrizal merupakan ilmuwan dan akademisi yang memiliki pandangan mendalam terhadap kelestarian Batang Toru.
“Dia sadar betul, Batang Toru merupakan ekosistem yang sangat penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Terutama, rumah bagi orangutan tapanuli yang terancam punah.”
Menurut Panut, Onrizal adalah sosok akademisi di Sumatera yang berani mengkritik dampak negatif kegiatan manusia di Batang Toru.
“Terutama, deforestasi dan kegiatan industri ekstraktif yang mengancam kehidupan spesies.”
Berikut wawancara Mongabay Indonesia dengan Onrizal.
Baca: Orangutan Tapanuli: Berstatus Kritis dan Terancam di Habitatnya

Mongabay: Sejak kapan Anda terlibat penelitian orangutan tapanuli?
Onrizal: Saya terlibat penelitian orangutan tahun 2000 di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), sementara di Batang Toru mulai 2005 (Orangutan Project).
Saat itu, orangutan di ekosistem Batang Toru masih dikenal sebagai bagian orangutan sumatera.
Berdasarkan hasil studi mendalam terkait perilaku, morfologi, dan genetik, orangutan di Batang Toru dinyatakan sebagai spesies terpisah dan diberi nama orangutan tapanuli, pada 2017.
Mongabay: Apa yang menarik dari orangutan tapanuli?
Onrizal: Sebelum Indonesia merdeka, ada publikasi keberadaan orangutan di selatan Danau Toba, atau di hutan Batang Toru. Tapi setelah Indonesia merdeka, tidak ada sama sekali laporan ilmiah yang menyebutkan keberadaan orangutan di sana.
Orangutan di Batang Toru baru diketahui dan menjadi perhatian masyarakat global sekitar 1997, setelah ada publikasi Erik Meijaard di sebuah jurnal ilmiah yang menyebutkan ada orangutan di selatan Danau Toba.
Sebelumnya, para ahli hanya mengetahui keberadaan orangutan di utara Danau Toba yaitu di hutan Kawasan Ekosistem Leuser.
Selain berbeda dengan orangutan sumatera dan orangutan kalimantan, yang menarik dari orangutan tapanuli adalah hidup di area terbatas atau hutan sempit. Ini dikarenakan, sebagian besar habitat awalnya telah dikonversi oleh manusia untuk berbagai penggunaan.
Pengalaman pertama saya, ketika memasuki hutan primer Batang Toru, kawasan ini memiliki keindahan alam memukau. Aliran sungainya jernih dan lingkungan tenang. Ini tidak lepas dari peran masyarakat adat yang sejak dahulu hidup harmonis di sana.
Keberadaan orangutan tapanuli menjadi nilai tambah sangat berharga. Ekosistem Batang Toru yang luasnya mencapai 156.000 hektar, sekitar 102.000 hektar adalah rumah bagi orangutan tapanuli.
Kawasan Batang Toru yang terfragmentasi menyulitkan orangutan dan satwa lainnya berpindah, sehingga terperangkap di satu blok hutan. Hal ini menyebabkan orangutan banyak bersinggungan dengan aktivitas manusia.
Ini menjadi tantangan, bagaimana membangun harmoni antara kehidupan manusia dengan orangutan tapanuli.
Baca: Ternyata, Orangutan Tapanuli Menyukai Jenis Buah Ini

Mongabay: Bagaimana kondisi orangutan tapanuli saat ini?
Onrizal: Meskipun perhatian global terhadap keberadaan orangutan tapanuli meningkat, namun tekanan terhadap populasi dan habitatnya tidak berkurang. Spesies ini semakin tersudut di habitatnya.
Mongabay: Apa yang menyebabkan orangutan tapanuli terancam di alam liar?
Onrizal: Penyebab utama adalah rusaknya habitat, terutama konversi hutan menjadi perkebunan serta fragmentasi akibat pembangunan berbagai infrastruktur, dan lainnya.
Selain itu, perburuan dan konflik dengan manusia menjadi masalah yang belum terselesaikan.
Baca juga: Orangutan Tapanuli dan 7 Fakta Uniknya

Mongabay: Apakah orangutan tapanuli dapat bertahan dengan konsisi ini?
Onrizal: Kajian ini sudah tertuang dalam PHVA Orangutan 2016. Populasinya di Blok Timur Batang Toru memiliki tingkat kerentanan punah lebih tinggi dibandingkan di Blok Barat.
Hal ini terkait dengan luas habitat tersisa serta populasi masing-masing di blok hutan tersebut.
Mongabay: Apa tantangan terbesar untuk menyelamatkan orangutan tapanuli di habitat alaminya?
Onrizal: Kesepahaman dan kesadaran para pihak harus dibangun, sehingga kebijakan pengelolaan kawasan hutan dapat dilakukan berkelanjutan.
Tindakan konsisten lapangan yang mendukung kelestarian habitat dan populasi orangutan juga harus diwujudkan.
Berikutnya, harus ada kebijakan nasional dan daerah untuk melindungi habitat tersisa serta membangun koridor yang menghubungkan habitat terfragmentasi dan memulihkan habitat yang rusak.
Hal yang tak kalah penting adalah penegakan hukum terkait tindakan pidana dan perdata terhadap kegiatan yang mengancam orangutan dan habitatnya.

Mongabay: Harapan Anda terhadap upaya penyelamatan orangutan tapanuli dan orangutan sumatera?
Onrizal: Konsep penyelamatan berbasis sains dapat dilakukan, sehingga kehidupan manusia dan satwa liar, termasuk orangutan bisa diwujudkan.