Viral Buaya Raksasa Mirip ‘Godzilla’, Inilah Fakta Ilmiahnya

1 month ago 88
  • Video viral yang diambil di Australia Utara menampilkan buaya muara berukuran kolosal, yang oleh warganet disamakan dengan monster fiksi Godzilla. Ukurannya yang sangat besar dan penampilannya yang menyeramkan membuatnya tampak berbeda dari buaya pada umumnya.
  • Buaya muara adalah reptil hidup terbesar di dunia, dengan jantan dewasa bisa mencapai panjang hingga 7 meter dan berat lebih dari 1.000 kg. Mereka memiliki moncong yang lebar dan panjang, serta sepasang punggung menonjol dari mata hingga moncong. Warna kulit mereka berubah seiring bertambahnya usia.
  • Buaya muara adalah keturunan dari buaya-buaya raksasa purba seperti Deinosuchus dan Sarcosuchus. Mereka sangat adaptif dan dapat hidup di berbagai habitat perairan, mulai dari air tawar hingga air asin, serta memiliki sebaran geografis yang luas di wilayah Indo-Pasifik.

Sebuah video yang memperlihatkan seekor buaya raksasa dengan ukuran yang luar biasa baru-baru ini menggemparkan media sosial. Banyak warganet yang terpukau sekaligus merasa ngeri, menyebut reptil raksasa ini mirip dengan monster fiksi terkenal, Godzilla. Rekaman yang diambil oleh seorang pemandu satwa liar di Australia Utara, Damian “Wildman” Duffy, ini dengan cepat menjadi viral dan telah ditonton lebih dari 8 juta kali dan ratusan ribu like.

Dalam video tersebut, seekor buaya muara terlihat berenang santai di perairan dangkal, namun ukurannya yang kolosal membuatnya tampak jauh berbeda dari buaya pada umumnya. Penampilannya yang menyeramkan, dengan sisik-sisik kasar dan moncong yang besar,  semakin memperkuat kemiripannya dengan sosok monster fiksi Godzilla yang ikonik tersebut. Tak heran, video ini pun memicu berbagai komentar dan spekulasi dari para warganet yang penasaran akan identitas dan ukuran sebenarnya dari buaya raksasa ini.

Lantas, apa sebenarnya buaya raksasa yang mirip Godzilla ini? Seberapa besar ukurannya dan bagaimana ia bisa tumbuh sebesar itu?

Buaya yang terlihat dalam video tersebut adalah Buaya Air Asin (Crocodylus porosus). Di Indonesia, buaya ini lebih sering disebut dengan istilah Buaya Muara. Buaya ini  merupakan reptil hidup terbesar di dunia dan spesies buaya terbesar yang menghuni wilayah tropis Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia.

Ukuran dan Penampilan Sang Raksasa Reptil

Buaya muara dikenal sebagai salah satu predator puncak yang mendominasi perairan di wilayahnya, dan salah satu faktor yang paling mencolok dari mereka adalah ukurannya yang luar biasa. Mereka menunjukkan dimorfisme seksual yang signifikan, sebuah perbedaan mencolok antara jenis kelamin jantan dan betina, di mana jantan tumbuh jauh lebih besar daripada betina. Seekor buaya muara jantan dewasa dapat mencapai panjang yang mencengangkan, hingga 7 meter, menjadikannya salah satu reptil terbesar di dunia. Berat mereka juga tak kalah mengesankan, bahkan dapat melebihi 1.000 kg.

Usia/Jenis Kelamin Panjang Berat
Menetas 28 cm 71 g
Betina Dewasa Hingga 3 m Hingga 150 kg
Jantan Dewasa 3,5 – 5 m (hingga 7 m) 200 – 1.100 kg (hingga 2.200 kg)

Untuk memberikan gambaran betapa masifnya ukuran mereka, mari kita bandingkan dengan beberapa reptil raksasa lainnya. Anaconda hijau, ular terbesar di dunia, meskipun dengan panjang tubuhnya yang dapat mencapai 6 meter, beratnya “hanya” sekitar 200 kg. Komodo, sang kadal terbesar yang masih hidup di dunia, memiliki panjang tubuh maksimal 3,13 meter dan berat sekitar 166 kg. Dari perbandingan ini saja, sudah jelas bahwa buaya muara jauh melampaui reptil-reptil mengesankan ini dalam hal ukuran dan massa tubuh.

Buaya muara merupakan jenis paling buas jika dibandingkan tiga jenis lainnya yang ada di Indonesia. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Pertumbuhan buaya muara dari bayi hingga dewasa juga merupakan sebuah transformasi yang luar biasa. Bayangkan, seekor buaya muara yang baru menetas hanya berukuran sekitar 28 cm dengan berat rata-rata 71 g, sangat kecil dan rentan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka tumbuh dengan pesat. Jantan dewasa biasanya mencapai panjang antara 3,5 hingga 5 meter, dengan berat antara 200 hingga 1.100 kg. Sementara itu, betina biasanya tidak tumbuh sebesar jantan, jarang melebihi 3 meter panjangnya. Perbedaan ukuran ini merupakan salah satu ciri khas yang membedakan buaya muara jantan dan betina.

Baca juga: Misteri Sisik Buaya: Pola Acak yang Mengejutkan

Selain ukuran, buaya muara juga memiliki ciri fisik yang khas dan mudah dikenali. Mereka memiliki moncong yang lebar dan panjang, lebih panjang dari jenis buaya lainnya. Sepasang punggung menonjol terlihat jelas membentang dari mata mereka, terus hingga ke sepanjang tengah moncong, memberikan tampilan yang unik dan kuat, layaknya sosok fiksi Godzilla. Warna kulit buaya muara juga mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Saat masih muda, mereka memiliki warna kuning pucat dengan garis-garis dan bintik-bintik hitam yang khas. Seiring mereka tumbuh dewasa, warna ini berangsur-angsur berubah menjadi hijau-coklat gelap yang lebih seragam, memberikan kamuflase yang sangat baik di habitat alaminya.

Sejarah Evolusi Buaya Muara

Buaya muara ternyata memiliki garis keturunan yang sangat panjang. Nenek moyang mereka telah hidup berdampingan dengan dinosaurus jutaan tahun lalu, menyaksikan langsung kejayaan dan kepunahan makhluk-makhluk raksasa tersebut. Bayangkan, ketika Tyrannosaurus Rex masih berkeliaran bebas di Bumi, leluhur buaya muara sudah berenang di sungai dan rawa-rawa purba. Ini membuktikan bahwa buaya adalah salah satu kelompok reptil yang paling sukses dan beradaptasi di planet ini.

Meskipun buaya muara saat ini menyandang gelar sebagai buaya hidup terbesar di dunia, mereka ternyata masih “kalah” besar dibandingkan dengan beberapa kerabat prasejarahnya yang berukuran raksasa. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Deinosuchus, seekor buaya purba yang hidup pada periode Kapur Akhir. Fosil-fosil Deinosuchus yang ditemukan menunjukkan bahwa mereka dapat mencapai ukuran yang mencengangkan, hingga 10,6 meter panjangnya, atau  melebihi panjang bis kota! Dengan ukuran sebesar itu, Deinosuchus tentu menjadi predator yang sangat menakutkan di zamannya. Kemungkinan besar, mereka memangsa dinosaurus-dinosaurus besar yang hidup di wilayahnya.

Buaya purba raksasa deinosuchu | Gambar oleh Wikimedia dan Reddit

Selain Deinosuchus, ada juga Sarcosuchus imperator, buaya purba raksasa lainnya yang hidup di Afrika pada periode Kapur Awal. Sarcosuchus diperkirakan dapat tumbuh hingga 9 hingga 9,5 meter panjangnya, hampir menyamai ukuran Deinosuchus. Dengan ukuran tubuh sebesar itu, Sarcosuchus mampu memangsa hewan-hewan besar seperti dinosaurus dan bahkan mungkin beberapa jenis megafauna purba lainnya.

Baca juga: Inilah Henry, Buaya Tertua di Dunia dengan 10.000 Anak

Keberadaan buaya-buaya raksasa prasejarah ini menunjukkan bahwa ukuran tubuh yang besar bukanlah hal yang baru dalam evolusi buaya. Namun, mengapa buaya-buaya raksasa ini punah dan hanya menyisakan buaya muara dengan ukuran yang “lebih kecil”? Kemungkinan besar, perubahan lingkungan dan persaingan dengan predator lain memainkan peran penting dalam evolusi ukuran tubuh buaya. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap misteri ini. Yang jelas, buaya muara saat ini merupakan salah satu sisa dari garis keturunan buaya raksasa purba yang pernah menguasai planet ini.

Habitat dan Makanan Buaya Muara

Buaya muara adalah contoh nyata dari makhluk yang sangat adaptif. Mereka tidak terbatas pada satu jenis habitat tertentu, melainkan mampu menghuni berbagai lingkungan perairan yang beragam. Mulai dari lahan basah payau yang merupakan campuran air tawar dan air asin, sungai-sungai air tawar yang mengalir deras, hingga muara sungai yang menjadi pertemuan antara air sungai dan air laut, dan bahkan hutan bakau yang lebat. Kemampuan mereka untuk beradaptasi baik di air asin maupun air tawar inilah yang menjadikannya predator puncak yang sangat sukses di berbagai ekosistem. Bahkan, buaya muara dikenal memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan jarak jauh di lautan, memungkinkan mereka untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain dan memperluas sebaran mereka.

Buaya muara [Crocodylus porosus] yang berada di Pusat Penyelamatan Satwa [PPS] Alobi Foundation Bangka Belitung di Air Jangkang, Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Konflik manusia dengan buaya muara terjadi karena rusaknya habitat buaya di daerah aliran sungai [(DAS]. Foto: Cici Nasya Nita/Mongabay Indonesia

Sebagai predator puncak, buaya muara menduduki posisi teratas dalam rantai makanan di ekosistemnya. Mereka memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan populasi spesies lain. Sebagai karnivora oportunistik, makanan mereka sangat bervariasi dan berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Buaya muara yang masih muda, dengan ukuran tubuh yang relatif kecil, biasanya memangsa hewan-hewan kecil seperti kepiting, udang, serangga air, dan ikan-ikan kecil. Seiring bertambahnya usia dan ukuran tubuh mereka, makanan mereka pun berkembang. Buaya dewasa mulai memangsa ikan-ikan yang lebih besar, katak, burung-burung air, kura-kura, bahkan mamalia-mamalia besar seperti babi hutan, kerbau, dan tak jarang mereka juga memangsa hewan-hewan ternak yang mendekat ke tepi air. Sayangnya, kasus serangan buaya muara terhadap manusia juga pernah terjadi, walaupun biasanya disebabkan oleh manusia yang terlalu dekat dengan habitat mereka atau memasuki wilayah yang dihuni buaya. Buaya muara memiliki strategi berburu yang efektif. Mereka biasanya menunggu dengan sabar di tepi air, bersembunyi di balik vegetasi atau di dalam air, hingga mangsa yang tidak menaruh curiga mendekat. Dengan gerakan yang cepat dan kuat, mereka menerjang mangsanya dan menyeretnya ke dalam air.

Sebaran Geografis Buaya Muara

Buaya muara memiliki sebaran geografis yang sangat luas, mencakup wilayah Indo-Pasifik yang luas. Mereka dapat ditemukan di berbagai negara dan wilayah, mulai dari India timur dan Sri Lanka di bagian barat, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam, Kamboja, Australia utara, Papua Nugini, hingga Kepulauan Solomon di bagian timur.

Sebaran geografis buaya muara | Gambar oleh Wikipedia

Kemampuan mereka untuk mentolerir air asin, dan melakukan perjalanan jauh di laut, memungkinkan mereka untuk menjelajahi lautan dan mendiami berbagai pulau dan wilayah pesisir. Kehadiran mereka di wilayah yang begitu luas ini menunjukkan betapa suksesnya spesies ini dalam beradaptasi dan berkembang biak di berbagai lingkungan.

Fakta-fakta Menarik Sang Raksasa

Buaya muara, sang “Godzilla” dunia nyata, menyimpan segudang keunikan yang membuatnya menjadi makhluk luar biasa. Salah satu yang paling mencolok adalah kekuatan gigitannya yang tak tertandingi. Di antara semua hewan, buaya muara adalah salah satu memiliki kekuatan gigitan terkuat, menjadikannya predator yang sangat efisien dalam melumpuhkan mangsanya. Kekuatan ini memungkinkan mereka untuk menghancurkan tulang dan tempurung mangsa yang keras sekalipun.

Buaya Muara terbesar yang pernah ditemukan pada 2013-2024 | Gambar oleh FFelxii – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=147552492

Tak hanya itu, buaya muara juga memiliki kemampuan menahan napas yang luar biasa.  Buaya muara bisa menahan napas di dalam air selama 10-15 menit saat menyelam untuk berburu. Dalam keadaan terancam, mereka bisa menyelam lebih lama, bahkan sampai 30 menit atau lebih. Pada situasi ekstrim, seperti saat bersembunyi, buaya muara bisa bertahan hingga 2 jam di bawah air. Terakhir, umur panjang buaya muara juga patut mendapat perhatian. Beberapa individu buaya muara diketahui dapat hidup hingga lebih dari 70 tahun, menunjukkan ketahanan dan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap lingkungan.

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|