Nestapa Warga Berau Alami Banjir saat Lebaran

1 day ago 5
  • Banjir parah melanda Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) dalam beberapa hari terakhir. Kampung Tumbit Dayak menjadi salah satu daerah terparah dengan dua korban meninggal dunia. 
  • Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebut, banjir dipicu luapan Sungai Kelay yang membelah Kabupaten Berau. Ada 9 kampung dari 4 kecamatan terdampak banjir kali ini. Sebanyak 10.327 jiwa dan sekitar 3.500 rumah terdampak kali ini.
  • Memasuki hari ke-5, banjir di Berau mulai surut. Namun, di beberapa lokasi, ketinggian air masih mencapai orang dewasa. Kondisi ini membuat masyarakat merayakan Sholat Idul Fitri dan perayaan hari raya dalam kondisi banjir. Terutama yang ada di sekitar hilir Sungai Kelay. 
  • Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD setempat, Novianto Hidayat menyebut, meluapnya Sungai Kelay lantaran area resapan yang terus berkurang karena alih fungsi lahan. Baik untuk perkebunan maupun dan pertambangan. 

Hari masih gelap ketika Muhammad Syahril terlelap, Rabu (27/3/25) sekitar pukul 03.00 dini hari tetapi  teriakan saudaranya membangunkan dari tidur. Pagi buta itu, rumahnya di Kampung Tumbit Dayak, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur  kebanjiran

Syahril bergegas bangkit. Kala itu, air bah mengalir cukup deras. Dalam sekejap, air setinggi 20 sentimeter sudah menggenangi pelataran rumahnya. Sontak, pemuda 22 tahun itu berlari menuju gudang di depan rumah. Tujuannya satu, mengamankan persediaan pangan padi gunung keluarganya di  gudang. 

Pontang-panting, bersama keluarga yang lain, dia pindahkan puluhan karung ukuran 50 kilogram gabah ke dalam rumah. Hampir satu jam,  sampai karung-karung berisi sumber pangan itu berhasil mereka pindahkan. 

Beberapa saat kemudian, tinggi banjir sudah mencapai pinggang orang dewasa. “Airnya deras sekali, waktu itu saja di halaman rumah sudah sampai semata kaki (banjir) di halaman rumah,” katanya, Minggu (30/3/25). 

Syahril menjelaskan sebagian masyarakat di Kampung Tumbit Dayak  beragama Islam. Tak pelak mereka Lebaran dalam kondisi banjir. Takbiran,  tetap jalan  dalam kondisi banjir. “Karena posisi masjid itu di belakang, nah di situ agak tinggi tempatnya,“ katanya. 

Dalam caatan Kecamatan Sambaliung Dalam Angka 2024 dari Badan Pusat Statistik, ada 3.090 jiwa beragama Islam di Kampung Tumbit Dayak, terbesar ketiga  di Kecamatan Sambaliung setelah Desa Sambaliung dengan 15.535 jiwa dan Kampung Bebanir  4.022 jiwa. 

Pada Senin (31/3/25) pagi, banjir  mulai surut tetapi  beberapa lokasi, ketinggian air masih mencapai dada orang dewasa. Kondisi ini,  membuat  Sholat Idul Fitri dan perayaan hari raya dalam kondisi banjir. “Terkhusus warga yang rumahnya di hilir.”

Syahril cerita, tanda-tanda akan banjir sejatinya sudah terlihat sejak sehari sebelumnya. Kala itu, Sungai Kelay, satu sungai terbesar di Berau mulai penuh. Sore hari, sungai pun meluap dan mulai menggenangi permukiman di hilir. 

Tadinya, Syahril tak terlalu khawatir. Dia nilai, kampungnya dekat daerah hulu  lebih aman dari banjir. Perkiraannya,  salah.  Banjir meluas bahkan sampai di kampungnya yang relatif lebih jauh dari Sungai Kelay. 

“Seiring waktu air mulai terus naik ke hulu, ke pusat perkampungan, puncaknya  Kamis pagi, di depan halaman rumah itu saja sudah setinggi pinggang orang dewasa, jalanan tenggelam,“ katanya. 

Listrik pun padam hingga dua hari dari Rabu malam hingga Jumat sore.

Bila di hulu ketinggian air mencapai semeter lebih, di hilir, banjir  lebih parah lagi sampai  dada orang dewasa. Situasi itu pun memaksa sebagian warga mengungsi ke tempat lebih aman. 

Banjir juga memakan korban jiwa, dua warga Kampung Tumbit Dayak meninggal dunia. Mereka adalah Yae Deng, perempuan 70 tahun dan Lajiu Langa, pria  68 tahun.  

 Setahu Syahril, kedua orang itu meninggal ketika dalam perjalanan pulang dari kebun menuju rumah. Keduanya diduga terseret arus air bah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membenarkan dua orang tewas karena banjir di Berau. 

“Kemarin pas Jumat sempat surut tapi karena pas malam cuacanya di sini hujan terus, jadi airnya naik lagi.“ 

Foto udara banjir yang melanda Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: BPBD Kabupaten Berau.

Sumber pangan hilang

Sama halnya di Tumbit Dayak, Kampung Merasa yang sama-sama berada di hulu Sungai Kelay juga turut terendam. Di kawasan ini, banjir bahkan capai dua meter. ”Biasanya masjid ini tidak pernah terendam kalau banjir,” terang Jeferson Afuy, 30, warga setempat Selasa (1/4/2025). 

Jeferson bilang, sebelumnya, banjir memang pernah terjadi di kampungnya, tetapi tidak separah sekarang ini. Selain banyak merendam tempat ibadah, durasi banjir juga berlangsung lebih lama. “Kalau sebelumnya itu rumah rumah warga nggak ada yang terendam banjir,” katanya. 

Selain merendah rumah dan tempat ibadah, hasil panen warga juga turut terdampak. Hasil panen yang banyak disimpan di pondokan lumbung padi rusak tergenang banjir. “Karena kan warga tidak berpikir akan sampai kesini,” katanya. Sampai pada tanggal 25 malam, air semakin naik dan merendam sumber pangan warga itu. 

Selain sumber pangan, banyak ternak warga mati. Sebagian besar warga Kampung Merasa itu beternak ayam, bebek, sapi dan babi. Kendati pun saat ini banjir mulai surut, warga masih was-was lantaran hujan kembali turun.

Kepala BMKG Kabupaten Berau, Ade Haryadi mengatakan bahwa kondisi atmosfer cukup labil di Berau dalam seminggu ini. Pertumbuhan awan sedang intensif sehingga menyebabkan hujan secara kontinu turun—terutama pada dini hari dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.

”Curah hujan di hulu Sungai Kelay tercatat sampai 95 mm (milimeter), masuk kategori lebat terjadi pada 24 Maret,” kata Ade pada Selasa (1/4/2025), “sementara di Bandara Kalimarau mencapai 105 mm (milimeter) pada tanggal 27 Maret dengan kategori sangat lebat,” katanya.

Ade menegaskan curah hujan 95 mm itu merupakan tertinggi yang pernah terjadi di hulu Sungai Kelay pada tahun 2025 ini. Namun, sambung dia, curah hujan tertinggi yang menimpa Berau pada tahun ini tercatat 105 mm di bandara Kalimarau. 

Dalam catatan BMKG Berau, curah hujan tertinggi juga tercatat pernah terjadi. DI antaranya pada Maret 2024, curah hujan terukur dengan intensitas tinggi tercatat lebih dari 300mm. Namun, yang tertinggi terjadi pada tahun 2012–curah hujan dalam satu bulannya mencapai 453 mm. 

Di samping curah hujan tinggi, Ade menjelaskan bahwa Berau juga sedang menghadapi tingginya pasang air laut. Ketinggiannya mencapai 2,7 meter pada pagi hari, jam 9-12 pagi. Ia memprediksi kondisi ini berlangsung hingga 3 April 2025, mendatang.

Fasilitas umum di Kabupaten Berau yang terdampak banjir. Foto: BPBD Kabupaten Berau.

Resapan berkurang

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Novianto Hidayat mengatakan berdasarkan informasi dari tim di lapangan air mulai surut. Kondisi banjir bertahan dengan ketinggian  1,5 meter.  Namun ia menegaskan ketinggian air banjir itu terjadi secara bervariasi. 

Meski sampai saat ini, total 9 kampung di empat kecamatan masih terdampak banjir. ”Itu (perkembangan) banjir hari ke 5,” kata Novianto, Senin, (31/3/2025).

Beberapa daerah yang masih terdampak banjir itu meliputi Kampung Merasa, Kecamatan Kelay; Kampung Inaran, Bena Baru, Tumbit Dayak, Long Lanuk, Pegat Bukur di Kecamatan Sambaliung; Tumbit Melayu dan Labanan Makarti di Kecamatan Teluk Bayur; juga Kampung SIdung di Kecamatan Segah. 

Data korban sementara yang dihimpun BPBD Berau per Minggu (30/3/2025), banjir tersebut berdampak terhadap lebih kurang 10.327 jiwa dan sekitar 3.500 rumah. Selain adanya dua korban jiwa, musibah banjir itu juga menyebabkan 47 jiwa masyarakat mengungsi. 

Novianto menegaskan tim BPBD sudah dan masih terus melakukan evaluasi, drop logistik, pendirian posko, pendirian dapur umum serta mendistribusikan air bersih. Pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga dan mengawasi anak-anak yang bermain air. Kondisi itu dapat berbahaya terbawa arus, hewan buas dan berbisa, serta penyakit kulit dan diare.

“Jangan panik, melihat tanda-tanda alam dan aplikasi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), evakuasi mandiri dan amankan barang-barang berharga,” katanya.

Novianto menjelaskan posisi air masih bertahan hingga Selasa (1/04/2025), siang. Dalam tiga jam ke depan, sambung dia, ketinggian banjir diperkirakan akan kembali naik. Hal ini terjadi karena ada hujan deras di area hulu Kabupaten Berau. 

Melihat beberapa faktor, termasuk cuaca, ia menilai ada potensi banjir masih terjadi hingga tiga hari mendatang. Namun dengan kedalaman banjir yang berkurang. 

Banjir merendam beberapa daerah di Kabupaten Berau. Ia menilai hal itu terjadi karena beberapa faktor. Adapun di antaranya karena intensitas hujan sedang tinggi di hulu, seperti area Kampumg Berasa, Kecamatan Kelay. Sementara untuk area hilir Kabupaten Berau, air permukaannya laut sedang naik. 

Di samping itu, ia menjelaskan faktor banjir lainnya adalah kurangnya area resapan karena vegetasi keras banyak yang sudah ditebangi—baik untuk kegiatan bukaan lahan perkebunan dan pertambangan. “Bandingkan citra satelit yang dahulu dan sekarang sangat jauh berbeda,” tandasnya.

*****

Banjir di Kalimantan Timur, Bencana Alam atau Akibat Ulah Manusia?

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|