- Studi terbaru mengusulkan nama ilmiah badak jawa menjadi Eurhinoceros sondaicus. Usulan ini berdasarkan hasil penelitian taksonomi yang menyebutkan perbedaan signifikan pada anatomi dan ekologi jika dibandingkan dengan badak India.
- Pemahaman ilmiah yang mendalam terkait hal ini diharapkan mampu menjadi jembatan untuk menyelamatkan badak jawa dari kepunahan. Tak hanya itu, penelitian ini bisa memberikan rekomendasi yang tepat dalam upaya konservasi.
- Perbedaan fisik dan adaptasi lingkungan mempengaruhi pola makan keduanya. Bentuk tengkorak dan gigi badak jawa menyesuaikan diri untuk makan dedaunan di hutan lebat, sedangkan badak India cocok untuk makan rumput di padang terbuka.
- Tak hanya badak jawa, badak sumatera juga sangat kritis. Populasinya terancam perburuan, penyakit, dan degradasi habitat. Peneliti berharap, perubahan nama ini bisa menjadi pintu masuk untuk strategi konservasi yang lebih tajam dan fokus.
Di tengah populasi badak jawa kian terancam punah, studi terbaru mengungkapkan adanya perbedaan klasifikasi dari dua spesies badak bercula satu di Asia. Penelitian tersebut mengusulkan nama ilmiah baru, yakni semula Rhinoceros sondanicus menjadi Eurhinoceros sondanicus.
Studi terbaru ini dipimpin oleh ahli zoologi Francesco Nardelli dari Kelompok Spesialis Perencanaan Konservasi Badak, Swiss dan ahli paleontologi asal Jerman Kurt Heißig yang terbit dalam jurnal Zookeys pada 6 Maret lalu. Penelitian ini mengungkap badak jawa lebih tepat dengan nama ilmiah Eurhinoceros sondanicus karena adanya perbedaan mendalam anatomi dan ekologi dengan badak India (Rhinoceros unicornis).
Meski penelitian ini menyatakan keduanya dalam genus terpisah, hasil studi ini, kata peneliti bisa meningkatkan pemahaman ilmiah dan memiliki dampak penting terhadap upaya konservasi.
“Mengakui Eurhinoceros sondanicus sebagai genus yang berbeda memberikan refleksi yang lebih akurat tentang sejarah evolusi dan spesialisasi ekologinya,” ujar Nardelli dan Heißig kepada Science daily.

Klasifikasi ini, katanya, tak hanya meningkatkan pemahaman tentang evolusi badak tapi memberikan kerangka kerja yang jelas untuk perencanaan konservasi dan menyusun strategi yang lebih tepat dalam melindungi satwa yang kini kritis terancam punah.
Populasi badak jawa kini hanya 82 individu di Taman Nasional Ujung Kulon, bahkan laporan Auriga (2023) mencatat 15 diantaranya tak pernah tampak di kamera deteksi sejak 2021. Sepanjang 2019-2023 saja, ada 26 individu mati diburu di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon yang menjadi habitat aslinya.
Baca juga: Jalan panjang konservasi Badak Jawa di Ujung Kulon
Perbedaan struktur tubuh dan pola hidup
Badak Asia bercula satu menjadi contoh sejarah evolusi yang mendapat pengaruh dari tekanan ekologi. Adaptasi terhadap keberagaman sumber pangan yang mereka konsumsi terlihat dari perbedaan struktur pada gigi dan tengkorak. Badak jawa dan badak India awalnya diketahui memiliki persamaan evolusi karena memiliki cula satu, namun penelitian ini membedah lebih dalam taksonomi, anatomi hingga pola hidup keduanya.

Badak jawa memiliki tengkorak yang lebih ramping, bagian kepala belakang yang lebih lebar dan rendah, serta hidung dan gigi yang lebih pendek. Struktur ini cocok untuk memakan dedaunan.
Sebaliknya, badak India memiliki tengkorak yang lebih kokoh dan gigi lebih tinggi. Sehingga bisa beradaptasi memakan rumput. Badak India cenderung menyukai hamparan padang rumput di kaki Gunung Himalaya, perbatasan India dan Nepal.
“Adaptasi mamalia darat besar terhadap kondisi lingkungan dengan keragaman sumber pakannya terlihat dari variasi morfologi gigi dan tengkorak mereka. Pada badak, adaptasi ini teridentifikasi pada struktur gigi dan postur kepala mereka ” tulis para peneliti dikutip dari Science daily.
Badak Jawa telah punah di sebagian besar habitat aslinya dan kini jumlahnya sangat sedikit di Semananjung Ujung Kulon. Mereka disebut sebagai spesies “pengungsi” yang bertahan di habitat terakhirnya. Meski begitu, spesies ini juga disebut penjelajah karena berdasarkan artefak persebarannya cukup tersebar di beberapa lokasi seperti India Timur, Bangladesh, bagian selatan China, Laos, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Thailand, semenanjung Malaysia, Pulau Sumatera, dan sebelah barat Pulau Jawa. Sebaliknya, badak India adalah penggembala.

Baca juga: Cerita Hukuman Bagi Para Pemburu Badak Jawa
Beda penampilan dan cara bertahan hidup
Studi ini juga menyebutkan ada perbedaan yang signifikan pada penampilan dan cara bertahan hidup. Kulit badak jawa berpola poligonal yang unik, sedangkan badak India tidak tapi punya lipatan kulit yang dalam. Khusus badak jawa betina tidak memiliki cula.
Secara bobot pun badak India jauh lebih besar daripada kerabatnya dari Sunda. Ukurannya hanya dikalahkan oleh gajah dan badak putih. “Berat badak india jantan lebih dari 2.000 kg dan betina mencapai 1.600 kg.” Sementara itu bobot badak jawa hanya sekitar 900-2.300 kg.
Selain itu, perbedaan karakteristik lingkungan juga mempengaruhi cara mereka bertahan hidup. Badak Sunda dikenal sebagai pengembara soliter, tapi badak India pengembara sementara yang disebut crash.
“Kedua spesies ini memiliki adaptasi yang unik untuk bertahan hidup, menekankan pentingnya memahami sistematika mereka untuk konservasi yang efektif,” ungkap penelitian itu.

Badak Sunda punya jarak tempuh 15-20 kilometer dalam sehari untuk menemukan kubangan, kolam, atau aliran sungai tempat mereka berenang. Meski akan menempati wilayahnya yang lebih kecil dalam waktu yang relatif lama jika menemukan lokasi sumber pakan. Ia juga lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan akan hidup bersama dalam beberapa waktu selama masa kawin tiba.
Tapi, badak India tidak begitu. Mereka justru membangun hirarki antara jantan dan betina untuk waktu yang relatif lama dan bukan dalam ikatan perkawinan monogami. “Tapi kedua memiliki satu kesamaan yakni memiliki wilayah teritorial dan menandai dengan cara yang hampir sama.”
Baca juga: Nasib Badak Jawa yang Menjadi Maskot Piala Dunia U-20
Pengukuhan nama baru badak jawa
Berdasarkan studi ini, baik Nardelli dan Kurt mengusulkan nama ilmiah baru untuk badak jawa menjadi Eurhinoceros sondaicus. Dengan mengklasifikasikan ulang spesies ini secara resmi sebagai Rhinoceros sondaicus, baik Nardelli dan Kurt, berharap dapat menarik perhatian dunia terhadap status genting nasib badak bercula satu tersebut.
Dibutuhkan langkah-langkah dan memperkuat inisiatif konservasi termasuk mengidentifikasi habitat tambahan yang sesuai untuk relokasi potensial, meningkatkan langkah-langkah anti perburuan untuk memerangi perburuan ilegal, dan melakukan studi genetik untuk menilai keanekaragaman dan memastikan strategi kelangsungan hidup jangka panjang.

Ancaman badak di Indonesia
Tak hanya badak jawa, populasi badak sumatera juga mengkhawatirkan. Peneliti satwa Yayasan Auriga Nusantara, Riszki Is Hardiyanto mengatakan, berbicara populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), keduanya berada di ujung tanduk. Namun, badak di sumatera lebih mengkhawatirkan. Misalnya, seperti di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, badak terakhir terekam kamera jebak pada 2014.
Sementara itu di Kalimantan, badak sumatera tersisa dua individu. Yakni, Pari yang tinggal di alam liar dan Pahu di Borneo Rhino Sanctuary. Sementara populasinya kini diperkirakan tak lebih dari 60 individu.

Aktivitas perburuan, predator (ajag atau anjing hutan), penyakit, inbreeding dan bencana alam mengancam badak jawa di habitatnya. jumlah mereka yang tersisa sangat sedikit, keragaman genetik dalam kawanan badak Jawa sangat sedikit, dan hanya ada sekitar dua badak jantan untuk setiap badak betina.
Sejumlah penelitian menunjukkan, badak terancam karena lingkungan yang rusak dan serangan penyakit. Salah satu penyakit yang paling mematikan adalah infeksi protozoa yang merupakan parasit darah, yakni Trypanosoma evansi.