Tikus dan Hubungan Uniknya dengan Manusia

1 day ago 5
  • Tikus diperkirakan muncul sejak tiga juta tahun lalu, menyebar dengan cepat di Asia Tenggara, dan sejak saat itu berhasil mengkolonisasi setiap benua kecuali Antarktika.
  • Penyebaran tikus dan lahirnya sejumlah spesies invasif, tidak terlepas dari hubungan unik manusia dan tikus yang hidup di lingkungan yang sama.
  • Penyebaran tikus ke seluruh dunia tidak terlepas dari kemampuan adaptasinya yang luar biasa, reproduksi yang tinggi, serta hubungan uniknya dengan manusia yang sering disebut sebagai komensalisme.
  • Hingga saat ini, tikus masih menjadi masalah di lingkungan pedesaan [hama pangan] hingga perkotaan [penyakit] di seluruh dunia. Situasi diperburuk oleh perubahan iklim, sehingga menuntut upaya pengendalian tikus secara serius.

Sebagai jenis hewat pengerat, tikus [Rattus spp.] sejatinya memiliki peran penting dalam ekosistem lingkungan. Mereka berfungsi sebagai penghubung penting rantai makanan, serta membantu meregenerasi dan mempertahankan keanekaragaman tumbuhan di hutan.

“Mereka merupakan insinyur lingkungan yang penting,” dikutip dari buku Aplin dan kolega [2003] tentang metode lapangan untuk studi hewan pengerat di Asia dan Indo-Pasifik.

Tikus masuk dalam Ordo Rodentia, kelompok mamalia dengan spesies terbanyak di dunia. Tercatat, ada lebih 2.700 jenis yang 42 persen dari semua mamalia di Bumi adalah hewan pengerat.

Anggota pertama tikus [genus Rattus] yang saat ini tercatat memiliki 64 spesies, muncul sekitar tiga juta tahun lalu pada era Pliosen akhir dan menyebar dengan cepat ke seluruh Asia Tenggara.

“Keturunan mereka sejak itu berhasil menjajah semua jenis habitat utama dan ditemukan di setiap benua kecuali Antarktika,” jelas Aplin dan kolega.

Merujuk penelitian Puckett dan kolega [2020], penyebaran tikus ke seluruh dunia tidak terlepas dari kemampuan adaptasinya yang luar biasa, reproduksi yang tinggi, serta hubungan uniknya dengan manusia yang sering disebut sebagai komensalisme.

Tidak seperti mutualisme, hubungan ini hanya menguntungkan satu pihak, dalam hal ini tikus. Sebagai hewan komensal, tikus hidup berdekatan dengan manusia, menggunakan makanan, air, dan habitat yang disediakan oleh manusia.

“Dengan demikian, distribusi dan kelimpahannya mencerminkan masyarakat manusia,” tulis penelitian Puckett dan kolega.

Baca: Tikus Babi, Satwa Endemik Papua yang Aktif Malam Hari

Tikus yang memiliki kemampuan adaptasi dan reproduksi yang tinggi. Foto: Pixabay/Alexas_Fotos/Free for use

Migrasi dan perdagangan

Interaksi manusia dengan tikus sering terjadi pada empat spesies ini, tikus rumah asia [R. tanezumi], tikus hitam [R. rattus], tikus coklat [R. norvegicus], dan tikus pasifik [R. exulans].

Menurut Harper & Bunbury [2015], tiga spesies terakhir merupakan jenis paling invasif. Tikus hitam tercatat berasal dari Asia Tenggara dan Tiongkok, sementara tikus pasifik berasal dari Indonesia bagian selatan dan kini telah menyebar ke seluruh Pasifik.

“Tikus kemungkinan telah menyebabkan kepunahan spesies asli yang tidak tercatat di pulau-pulau tropis,” tulis penelitian tersebut. “Kerugian pra-Eropa mungkin melebihi 2.000 spesies dan terutama dari burung rel, merpati, beo, dan jenis pengicau.”

Masih penelitian yang sama menjelaskan, migrasi manusia prasejarah telah membawa tikus hitam dari India ke Timur Tengah, dan kemudian ke Eropa, sementara tikus coklat menyusul dari Tiongkok selatan pada abad ke-15.

Aktivitas manusia, seperti perdagangan maritim, migrasi, dan kolonisasi, menjadi pendorong utama penyebaran global tikus. Pada abad ke-19 dan 20, invasi tikus semakin intensif akibat pendirian pangkalan militer dan uji coba nuklir, serta dampak globalisasi.

Tikus hitam, dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa, mendominasi pulau-pulau tropis, sedangkan tikus coklat lebih menyukai iklim sedang dan perkotaan.

Sementara itu, penyebaran rattus tanezumi [tikus rumah asia] berpusat di wilayah Asia Tenggara. Diperkirakan penyebarannya dimulai dari wilay Myanmar dan Thailand, kemudian meluas ke timur menuju Cina dan Jepang, serta ke selatan menuju semenanjung di Indonesia.

Sebagai informasi, dikutip dari detik.com, populasi tikus di dunia saat ini mencapai 7 miliar, atau bersaing dengan populasi manusia yang diperkirakan mencapai 8 miliar.

Baca: Inilah Alasan Mengapa Tikus Sering Dijadikan Objek Penelitian

ikus kayu ini juga diteliti terkait interaksi sosialnya dan manfaatnya bagi lingkungan. Foto: Pixabay/Hans/Free for use

Hama dan penyakit

Seiiring waktu, kedekatan habitat koloni tikus dengan permukiman manusia justru memicu persepsi negatif, seperti pencurian makanan, perkembangbiakan tdak terkendali, serta hewan jorok.

Di Indonesia, merujuk penelitian Singleton [2003], tikus sawah [R. argentiventer] menjadi musuh utama para petani padi, merenggut sekitar 17 persen hasil panen setiap tahunnya. Meskipun angka ini sering dianggap konservatif, berbagai penelitian membuktikan bahwa kerugian bisa melonjak hingga 30 persen, terutama di lumbung padi.

Ancaman hama tikus bagi pertanian bahkan masih berlanjut dalam beberapa tahun terakhir. Pusdatin Pertanian [2018] mencatat bahwa tikus sawah adalah hama utama tanaman padi dengan tingkat serangan puso [gagal panen] tertinggi.

“Luas serangan tikus sawah di Indonesia mencapai 66.087 hektar per tahun dengan 1.852 hektar mengalami puso,” tulis penelitian Siregar dan kolega [2020].

Namun, yang perlu dicatat adalah, dari 48 genus tikus di Indonesia dan lebih dari 150 jenis, hanya 5-6 persen yang menjadi hama tanaman pangan, menurut penelitian Suripto dan kolega [2002].

Baca juga: Hiu Tikus, Spesies yang Menggunakan Ekor Panjangnya untuk Berburu Mangsa

Tikus putih yang sering dijadikan objek penelitian ilmiah. Foto: Pixabay/Sipa/Free for use

Di lanskap perkotaan, populasi tikus yang tidak terkendali menjadi sumber penyakit. Merujuk penelitian terbaru Richardson dan kolega [2025], tikus juga menyimpan dan menularkan lebih dari 50 patogen dan parasit zoonosis ke manusia, yang memengaruhi kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Dua spesies tikus yang menjadi sosok antagonis adalah Rattus norvegicus dan Rattus rattus yang umum tersebar di kota-kota besar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Penelitian Richardson dan kolega juga menunjukkan lonjokan populasi penduduk kota sejalan dengan meledaknya populasi tikus. Hal ini juga diperparah dengan suhu yang semakin hangat sehingga memberikan keuntungan bagi tikus, memperpanjang musim kawin mereka dan meningkatkan kesuburan.

“Kota-kota dengan populasi manusia yang lebih padat dan lebih banyak urbanisasi juga mengalami peningkatan angka tikus lebih besar. Suhu yang menghangat dan lebih banyak orang yang tinggal di kota, dapat memperluas periode aktivitas musiman dan ketersediaan makanan untuk tikus kota,” tulis penelitian tersebut.

Untuk mengatasi itu semua, penelitian yang sama menyarankan pemerintah kota untuk melakukan sejumlah strategi pengendalian tikus secara serius. Misalnya, mengelola sampah yang benar, membuat aturan bangunan yang ketat, serta mengendalikan tikus yang terencana.

Pada akhirnya, tikus seakan menjadi bayangan manusia. “Hidup berdampingan dengan manusia sambil mewakili kecenderungan terburuk kita sendiri,” tulis penelitian Puckett dan kolega [2020].

Referensi:

Aplin, K. P., Brown, P. R., Jacob, J., Krebs, C. J., & Singleton, G. R. (2003). Field methods for rodent studies in Asia and the Indo-Pacific.

Harper, G. A., & Bunbury, N. (2015). Invasive rats on tropical islands: their population biology and impacts on native species. Global Ecology and Conservation, 3, 607–627.

Puckett, E. E., Orton, D., & Munshi‐South, J. (2020). Commensal rats and humans: integrating rodent phylogeography and zooarchaeology to highlight connections between human societies. Bioessays, 42(5), 1900160.

Richardson, J. L., McCoy, E. P., Parlavecchio, N., Szykowny, R., Beech-Brown, E., Buijs, J. A., Buckley, J., Corrigan, R. M., Costa, F., DeLaney, R., Denny, R., Helms, L., Lee, W., Murray, M. H., Riegel, C., Souza, F. N., Ulrich, J., Why, A., & Kiyokawa, Y. (2025). Increasing rat numbers in cities are linked to climate warming, urbanization, and human population. Science Advances, 11(5), eads6782. https://doi.org/10.1126/sciadv.ads6782

Singleton, G. (2003). Impacts of rodents on rice production in Asia.

Siregar, H. M., Priyambodo, S., & Hindayana, D. (2020). Preferensi serangan tikus sawah (Rattus argentiventer) terhadap tanaman padi. Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi, 13(1), 16–21.

Suripto, B. A., Seno, A., & Sudarmaji, S. (2002). Jenis-jenis tikus (Rodentia: Muridae) dan pakan alaminya di daerah pertanian sekitar hutan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 8(1), 63–74.

Terobosan Baru, Hibernasi Buatan pada Tikus

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|