- Maraknya serangan ikan todak di perairan Kepulauan Mentawai membuat nelayan dan peselancar was-was. Dalam setahun terakhir, tercatat empat insiden serangan ikan dengan nama latin Xiphias gladius, dua di antaranya berakhir dengan kematian.
- Sutrisno, nelayan pencari gurita asal Desa Sinaka, Mentawai sebut, ikan todak sering ditemui tidak sampai 30 meter dari tepian. Ikan ini mampu ‘melompat’ hingga 5 meter. Karena itu, ia pun meminta para nelayan tetap waspada demi menghindari adanya kejadian serupa.
- Harfiandri Damanhuri, peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta mengatakan ikan todak merupakan ikan yang nokturnal atau beraktivitas malam hari. Bobot ikan todak bisa mencapai 450 kilogram dengan panjang 4,6 meter. Ikan ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 97 kilometer per jam dan dapat hidup hingga 16 tahun.
- Selvia Oktaviyani, peneliti di Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebut ikan todak biasa hidup di perairan samudera dengan kedalaman 0-75 meter, bahkan lebih. Ikan ini mampu bertahan di suhu 18-22 derajat celsius dan termasuk ke dalam kelompok ikan pelagis yang berenang di kolom air bagian atas.
Jurasman tampak begitu waspada. Matanya awas melihat ke sekeliling, seolah berusaha menembus kedalaman air di perairan Mentawai, tengah Maret. Dia tak ingin, peristiwa yang membuatnya kehilangan saudara iparnya terulang.
“Jangan turun dulu. Kita perlu pastikan tidak ada (ikan) todak di sekitar ini,” kata nelayan asal Desa Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai kepada Mongabay.
Usai memastikan situasi aman, Jurasman pun melompat ke dalam air. Sejenak kemudian, tubuhnya hilang bersamaan dengan ombak samudera yang menjelang.
Bagi Jurasman, ikan todak memang menjadi momok menakutkan bagi para nelayan seperti dirinya. Gara-gara serangan todak itu pula, dia kehilangan Fernanto, saudara iparnya akibat serangan ikan dengan nama latin Xiphias gladius itu pada Oktober 2024.
Berdasar data yang Mongabay himpun, ada lebih empat kasus serangan todak sepanjang tahun lalu, dua berakhir dengan kematian. Selain Fernanto, satu korban meninggal lain adalah Giulia Manfirini, peselancar asal Italia yang tewas karena serangan todak, juga Oktober.
Bagi Jurasman, kematian Fernanto benar-benar membuatnya trauma. Malam itu, dia dan rombongan nelayan lain, termasuk korban mencari teripang di sekitar perairan Tanjung. Namun, baru satu jam berenang, terdengar teriakan minta tolong dari korban. “Pas kami dekati, ternyata lehernya terluka,” katanya, menceritakan peristiwa saat itu.
Pengalaman tak mengenakkan itu membuat Jurasman harus lebih berhati-hati saat menggunakan senter di laut. “Kalau ketemu todak, matikan senternya, menjauh dan kalau sudah 10 meter baru hidupkan lagi senternya.”
Masyarakat meyakini, ada dua penyebab serangan todak. Pertama, karena korban sedang dalam masalah saat berangkat melaut hingga kurang awas dengan kondisi sekitar. Kedua, nelayan yang sembarangan menyorotkan lampu senter hingga menarik perhatian ikan ini.
Serangan todak, katanya, sejatinya tak hanya terjadi di perairan Boriari tetapi di dusun-dusun lain. Pius, nelayan asal Dusun Mangkabaga, juga pernah menjadi korban serangan ikan saat mencari gurita. Sekitar tiga bulan laman Pius harus berjalan terpincang-pincang karena serangan itu.
Ada juga Bahtiar Saogo, harus mendapat sejumlah jahitan di kepala karena serangan todak. Seperti halnya Pius, serangan todak nelayan asal Dusun Korit Buah, Desa Sinaka alami saat sedang memukul-mukul gurita di dalam air. Tiba-tiba saja, seekor todak meluncur ke kepalanya, tepat dia meletakkan headlamp.

Bagaimana menghindarinya?
Sarti, nelayan kawakan mengatakan, serangan todak cukup sering terjadi. Namun, dulu, tak sampai memakan korban lantaran nelayan banyak menggunakan lampu petromaks yang mereka di bagian depan perahu. “Jadi, serangannya tidak sampai kena ke nelayan karena duduk di bagian belakang perahu, jauh dari sumber cahaya.”
Lampu petromaks secara umum, cahaya menyebar dan dapat membuat nelayan melihat beberapa meter ke bawah air. Hingga 2007, masih ada nelayan gunakan lampu ini. Setelah itu lebih banyak gunakan senter dan ternyata mengundang bahaya.
Menurut Sarti, todak menyerang sumber cahaya dari senter yang kebanyakan mereka letakkan di kepala.
Jertianus, nelayan senior dan pengepul teripang di Dusun Sinaka, selalu mengingatkan nelayan agar berhati-hati saat menggunakan senter. Terkadang, katanya, todak bisa saja menyerang sampai terbang ke pasir pantai dan mati di sana. Jarak terbang bisa 4-5 meter.
“Di Pulau Tanopo itu besar-besar, beratnya bisa lima sampai enam kilogram, panjangnya paling 60, 72-80 sentimeter,” katanya.
Dia mengatakan, Xiphias gladius ini berada di perairan dangkal. “Arah dekat Matotonan (Desa Sinaka), pinggir kampung Dusun Sinaka, Pulau Tanopo dan di teluk-teluk.”
Sutrisno, nelayan Sinaka sering mendapat banyak tangkapan gurita mengatakan, todak sering ditemui tidak sampai 30 meter dari tepian. “Sekitar 20 meteran saja sudah ada. Hati-hati saja jangan sembarangan nyalain senter,” katanya.
Rahmad Ziki, Tenaga Kesehatan Poskesdes di Koritbuah, mencatat, ada tiga korban serangan todak selama 2024 di Desa Sinaka. Pertama, Fernanto tewas di Boriai pada 10 Oktober 2024, Bakhtiar Saogo (34) warga Koritbuah dengan kepala terluka karena serangan. Lalu, Ernis (47), warga Boriai juga kena serangan sampai kaki tembus pada 9 November 2024.
Seperti korban meninggal di Boriai, todak menancap di rahang bawah sebelah kanan dan tembus ke leher sebelahnya dengan posisi moncong miring ke bawah. “Dicabut sama mereka, jadi gigi-giginya tinggal. Pasien kekurangan darah dan banyak urat yang putus,” katanya.

Apa kata ahli?
Tejo Sukmono, ahli biologi ikan Universitas Jambi mengatakan, sebagian besar ikan laut bersifat fototaxis positif. Mereka memiliki kecenderungan mendekati sumber rangsangan atau sumber cahaya.
“Itu artinya ikan-ikan tersebut akan mendekat pada saat ada cahaya. Penggunaan lampu petromak nelayan zaman dulu, selain berfungsi sebagai penerang, juga sebagai atraktan atau penarik ikan, seperti lampu-lampu yang ada di bagan-bagan apung ikan,” katanya.
Beberapa ikan suka cahaya tinggi atau sangat terang. Ada juga suka agak redup seperti cumi.
Tejo mengatakan, para nelayan sebenarnya perlu melakukan eksperimen dengan mengubah warna cahaya lampu senter. Sebab, beberapa hewan memiliki kecenderungan lain pada warna yang berbeda, seperti putih atau kuning. “Jadi ini harus pengalaman di lapangan. Kan ada kadang kacanya yang berwarna-warna itu atau,” katanya.
Harfiandri Damanhuri, peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta mengatakan, todak merupakan ikan nokturnal atau beraktivitas malam hari. Pada kasus tewasnya peselancar asal Italia tahun lalu, dia menduga todak terkejut karena cahaya atau warna dari papan selancar hingga merasa terancam dan menyerang korban.
Andri bilang, todak termasuk dalam ordo Istiophoriformes, famili Ixiphiidae, genus xiphias. Sedangkan ikan marlin masih dalam satu ordo namun berbeda famili, yaitu, istiphoridae.
Bobot todak bisa mencapai 450 kilogram dengan panjang 4,6 meter. “Hidupnya soliter atau menyendiri dan sifatnya predator. Todak hidup di perairan dengan suhu 18- 22 derajat celcius,” katanya kepada Mongabay.
Menurut Andri, todak memiliki kemampuan bertahan di suhu dingin karena memiliki pemanas di otak. “Ikan ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 97 kilometer per jam, lebih lambat dari ikan marlin yang dapat secepat 130 km per jam,” katanya.
Selain itu, todak juga termasuk dalam kelompok ikan umur panjang hingga 16 tahun lebih.
“Mengandung kadar logam berat yang tinggi, termasuk pemakan plankton, umumnya cemarannya terikat dalam rumput laut dan itu sudah ada penelitiannya, bahwa rumput laut sejenis alga bisa menyerap logam berat dan itu makanannya, logam berat diserap alga, alga dimakan ikan, lalu terkontaminasi merkuri atau arsenik.”
Andri mengatakan, untuk populasi belum ada penelitian tentang itu di Sumatera Barat. Mungkin karena bukan ikan tangkapan jadi sulit menghitung populasinya. “Kecuali target tangkapan baru bisa diestimasi,” katanya.
Todak termasuk biota dilindungi.
Selvia Oktaviyani, peneliti di Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau, nelayan berhati-hati dan menggunakan pelindung saat melaut. Menurut dia, kilatan cahaya lampu senter memantik insting berburu todak. Sebab, makanan ikan ini berkumpul di sekitar perahu yang menggunakan lampu.
“Atau bisa saja sebagai reaksi defensif dari gangguan cahaya tersebut. Karena itu gunakan cahaya bertahap dengan intensitas rendah untuk mengurangi daya tarik. Saat menarik ke kapal, jika masih hidup sebaiknya dibiarkan mati lebih dulu untuk menghindari serangan mendadak,” katanya.
Todak biasa hidup di perairan samudera, seperti Samudera Pasifik, Samudera Atlantik dan Samudera Hindia dengan kedalama 0-75 meter, bahkan lebih. Ikan ini mampu bertahan di suhu 18-22 derajat celsius dan termasuk ke dalam kelompok ikan pelagis yang berenang di kolom air bagian atas.
*****