- Sumatera adalah pulau terbesar keenam di dunia. Kekayaan alam Sumatera membuat pulau ini dikenal berbagai bangsa dunia. Nama Suwarnadwipa dan Suwarnabhumi diperuntukkan bagi Sumatera, yang artinya Pulau Emas.
- Saat ini berbagai aktivitas ekonomi ekstraktif berlangsung di Sumatera. Mulai dari hutan tanaman industri, perkebunan sawit, serta penambangan batubara dan emas.
- Salah satu indikator rusaknya alam di Pulau Sumatera yakni kian kritisnya keberadaan satwa endemik Sumatera, seperti gajah, harimau, badak, dan orangutan.
- Sejumlah pekerja atau komunitas teater di Sumatera terus menyoroti berbagai kerusakan alam dan ancaman perubahaan iklim global di Sumatera.
Sumatera adalah pulau keenam terbesar di dunia yang luasnya mencapai 47.348.100 hektar.
Di pulau ini terdapat Bukit Barisan, yang memanjang dari Aceh hingga Lampung, sepanjang 1.650 kilometer. Tercatat, ada 40 gunung di Bukit Barisan. Mulai Gunung Bandahara di Aceh hingga Gunung Tanggamus di Lampung. Lanskap Bukit Barisan adalah Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatera.
Sumatera memiliki lahan rawa gambut terluas di Indonesia, mencapai 5,8 juta hektar, di atas Kalimantan (4,5 juta hektar), dan Papua (3 juta hektar).
Sumatera memiliki kekayaan flora dan fauna luar biasa. Ada harimau, gajah, badak, dan orangutan sumatera. Sementara flora, ada bunga bangkai raksasa, kantung semar, juga anggrek. Sumatera juga kaya emas, minyak bumi, gas alam, batubara, timah, bauksit, dan perak.
Baca: Kisah Sungai di Sumatera, dari Kejayaan Menuju Kerusakan

Kekayaan alam Sumatera membuat pulau ini dikenal berbagai bangsa dunia. Nama Suwarnadwipa dan Suwarnabhumi diperuntukkan bagi Sumatera, yang artinya Pulau Emas.
Kekayaan alam tersebut membuat berbagai suku bangsa di dunia, dari Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa, berdatangan ke Sumatera. Kehadiran para pendatang ini, ada yang membawa kebaikan bagi penduduk lokal, tapi banyak pula yang membuat keburukan atau penderitaan.
Narasi kolonialisme di Indonesia sangat erat dengan sejarah penguasaan kekayaan alam di Sumatera. Eksploitasi dan monopoli kekayaan alam, membawa penderitaan bagi penduduk lokal. Termasuk menghancurkan penguasa sebelumnya, yang dipercaya telah membangun peradaban luhur.
Sejak 1945, Sumatera dinyatakan bebas atau merdeka dari kolonialisme bangsa asing. Sumatera bersama Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan berbagai kepulauan di Nusantara, bersatu menjadi Indonesia.
Saat ini, perilaku eksploitasi dan monopoli kekayaan alam, masih dirasakan di Sumatera. Berbagai perusahaan lebih dominan dibandingkan masyarakat dalam menguasai dan mengelola kekayaan alam.
Dikutip dari Yayasan Madani Berkelanjutan, hingga tahun 2020 luas perkebunan sawit di Sumatera mencapai 7.907.812 hektar. Ini lebih luas dibandingkan di Kalimantan yang mencapai 5.990.789 hektar, serta pulau-pulau lainnya di Indonesia.
Luas lahan yang dikuasai perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) di Sumatera, juga terluas di Indonesia. Dikutip dari batukarinfo.com, luasnya mencapai 4,02 juta hektar, sementara di Kalimantan sekitar 2,84 juta hektar.
Sementara penambangan batubara juga terus berlangsung di Sumatera. Cadangan batubara di Sumatera yang kemungkinan besar akan digali sebanyak 11.866,66 juta ton atau sepertiga cadangan nasional (Indonesia).
Baca: Sungai dan Harimau Sumatera

Lingkungan Sumatera Selatan
Sumatera Selatan merupakan wilayah yang merasakan kerusakan lingkungan. Berdasarkan data HaKI (Hutan Kita Institute), wilayah provinsi yang luasnya 9,1 juta hektar ini, dikuasai HTI seluas 1,4 juta hektar, perkebunan sawit seluas 1,25 juta hektar, dan perkebunan karet seluas 1,23 juta hektar.
Sumatera Selatan memiliki cadangan batubara 9,3 miliar ton, terbesar kedua di Indonesia. Jumlah itu hampir seperempat dari total cadangan batubara nasional, mencapai 37,60 miliar ton. Pemerintah menyiapkan lahan seluas satu juta hektar untuk aktivitas penambangan batubara. Saat ini, puluhan perusahaan aktif menambang batubara, terutama di Kabupaten Muara Enim, Lahat, dan Ogan Komering Ulu.
Berdasarkan data Perkumpulan Sumsel Bersih, organisasi pemantau energi di Sumatera Selatan, sekitar 29 izin tambang batubara berada di Kabupaten Muara Enim, yang luas konsesinya mencapai 153.481 hektar. Di Kabupaten Lahat, terdapat 31 izin tambang batubara dengan luas 35.504 hektar.
“Selain itu, tercatat sekitar 16 pembangkit listrik yang menggunakan energi fosil (batubara). Tahun 2023, sebanyak 105,8 juta ton batubara digali, dan jumlah yang hampir sama pada 2024,” kata Boni Bangun, Direktur Perkumpulan Sumsel Bersih, Rabu (2/4/2025).
Baca: Gajah Sumatera yang Tidak Lagi Terlihat di Bentang Alam Besemah

Nasib gajah
Yusuf Bahtimi, kandidat doktor di The Queen’s College, University of Oxford Inggris, yang tengah menyelesaikan kajian mengenai koeksistensi manusia dan gajah di Sumatera Selatan, menyatakan salah satu indikator rusaknya alam di Pulau Sumatera adalah kian kritisnya keberadaan satwa endemik Sumatera.
“Sebut saja gajah sumatera, harimau, badak, dan orangutan,” terangnya, Rabu (2/4/2025).
Hal memprihatinkan adalah gajah yang dulunya hidup berdampingan dengan manusia, dan bahkan turut membangun peradaban manusia di era Kedatuan Sriwijaya atau berbagai kesultanan, seperti Kesultanan Palembang dan Kesultanan Aceh, saat ini justru berkonflik.
“Sebagian masyarakat kini melihat gajah seperti hama atau musuh, sama halnya dengan berbagai perusahaan perkebunan skala besar,” terangnya.
Baca juga: Kala Tambang Batubara ‘Kuasai’ Sumsel: Lingkungan Rusak, Hidup Warga Makin Susah

Persoalan lingkungan
Pada 27 Maret lalu, seluruh pekerja teater di dunia merayakan Hari Teater Sedunia atau World Theatre Day. Tujuan perayaan yang kali pertama digelar pada 1962 adalah meningkatkan kesadaran pentingnya teater dalam kehidupan sosial dan budaya global.
“Teater di Sumatera harus terus memperhatikan berbagai persoalan kerusakan bentang alam dan perubahan iklim global. Sebab, dampaknya merusakan kehidupan sosial manusia dan hilangnya berbagai budaya luhur di dunia,” kata Mahatma Muhammad, sutradara dan penulis dari Komunitas Seni Nan Tumnpah, Sumatera Barat, Kamis (27/3/2025).
Di Sumatera, peran masyarakat adat, nelayan, petani kecil, dan buruh tambang dalam dramaturgi lingkungan ini begitu tragis: mereka yang paling tahu dan hapal cerita, skenario atau lakonnya, tapi suaranya pula yang paling kecil didengar.
Ari Pahala Hutabarat, sutradara dan penulis dari Teater KoBER (Komunitas Berkat Yakin) Lampung, mengatakan persoalan hari ini yang memberikan dampak buruk bagi kondisi sosial dan budaya masyarakat global, termasuk di Indonesia, adalah masalah lingkungan hidup.
“Aktivitas antropogenik yang berdampak rusaknya alam, membawa banyak penderitaan bagi manusia, dan menghilangkan berbagai budaya yang berbasis hubungan manusia dengan alam.”
Ketamakan manusia terhadap kekayaan alam di Sumatera, bukan hanya menghancurkan kekayaan hayati, bentang alam, juga memberikan dampak hilang dan rusaknya tradisi dan budaya. Termasuk, mendorong perilaku korupsi dan perilaku anti-kemanusiaan.
“Teater di Sumatera harus mengkritisi dan menyuarakan persoalan ini,” kata penulis dan sutradara pertunjukan Amnesia pada 2021, sebuah pertunjukan mengkritisi jalur rempah di Nusantara.
Historiografi Hubungan Gajah dengan Manusia di Sumatera Selatan