Dampak Mikroplastik Buruk bagi Kesehatan dan Fungsi Kognitif Manusia

21 hours ago 5
  • Meskipun banyak penelitian mengonfirmasi keberadaan mikroplastik di tubuh manusia, dampaknya terhadap kesehatan jangka pendek dan panjang masih belum jelas, dan belum ada konsensus global mengenai hal ini.
  • Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui tiga jalur utama: pernapasan, konsumsi (makanan dan minuman), dan kontak kulit. Mikroplastik yang terhirup atau dikonsumsi dapat masuk ke dalam darah, yang kemudian menyebar ke berbagai organ, termasuk otak, dan dapat memengaruhi fungsi kognitif.
  • Penelitian awal menunjukkan bahwa individu dengan konsumsi mikroplastik tinggi memiliki risiko 36 kali lebih besar mengalami gangguan kognitif, sementara mereka yang terpapar mikroplastik melalui darah menunjukkan peningkatan risiko gangguan kognitif sekitar 15 kali lebih besar.
  • Selain mikroplastik, polusi udara dan bahan kimia lain juga berkontribusi terhadap penurunan kesehatan saraf manusia. Penelitian menunjukkan hubungan antara polusi udara dan penyakit seperti Alzheimer, yang semakin memperkuat urgensi untuk menangani masalah pencemaran lingkungan secara menyeluruh.

Terminologi “mikroplastik” pertama kali diperkenalkan pada tahun 2004, dan sejak itu telah ada ribuan studi yang meneliti keberadaannya di berbagai lingkungan—air, udara, tanah—bahkan dalam produk konsumsi sehari-hari seperti air minum dalam kemasan (AMDK), ikan, garam, dan lain sebagainya.

Bahkan, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik juga ditemukan dalam tubuh manusia, misalnya dalam darah, plasenta, dan air susu ibu (ASI).

Meski demikian sejauh ini belum ada penelitian resmi yang dapat menjawab secara komprenhensif bagaimana sebenarnya dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, baik jangka pendek maupun panjang. Hal ini disebabkan oleh masih minimnya kajian yang secara spesifik membahas efek kesehatan mikroplastik.

Bahkan, WHO sendiri belum merilis pernyataan resmi terkait dampak kesehatan mikroplastik terhadap manusia ataupun standar batas amannya.

Greenpeace Indonesia dan Universitas Indonesia berkolaborasi dan membentuk sebuah tim peneliti yang menjalankan sebuah penelitian mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan tubuh manusia, khususnya sistem saraf.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penelitian ini, program Bincang Alam  mendalaminya melalui diskusi bertajuk “Mikroplastik: Merusak Fungsi Otak Secara Diam-Diam” yang diadakan pada 6 Maret 2025 turut mengundang dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.N., Ph.D (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) & Afifah Rahmi Andini (Greenpeace Indonesia) yang merupakan bagian dari tim penelitian tersebut.

Berikut adalah rangkuman diskusi, yang tata bahasanya telah disesuaikan guna penulisan artikel ini.

Mongabay: Mengapa Greenpeace yang selama ini dikenal lebih fokus ke isu lingkungan hidup, menginisiasi dampak mikroplastik dan dampaknya bagi kesehatan manusia?

Afifah (Greenpeace): Alasan kami mengerjakan riset ini bersama Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, khususnya dengan dr. Pukovisa, karena penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada aspek lingkungan, misalnya dampak plastik terhadap biota laut dan ekosistem.

Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara mikroplastik dan sistem saraf. Namun, penelitian-penelitian tersebut masih terbatas pada model hewan. Kami lalu coba menelusuri lebih lanjut pertanyaan lalu bagaimana dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, dalam hal ini syaraf.

Mongabay: Beralih kepada dr Pukovisa. Apakah mikroplastik sudah menjadi topik yang sering dibahas atau diteliti dalam bidang kedokteran spesialis neurologi? Bagaimana persepsi mikroplastik dalam bidang kesehatan secara umum?

Pukovisa: Saat menerima tantangan dari Greenpeace, publikasi mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan masih terbatas, terutama yang berkaitan dengan manusia. Kebanyakan penelitian yang tersedia dilakukan pada hewan, dengan hasil yang cukup konsisten menunjukkan dampak terhadap otak, sistem reproduksi, saluran cerna, dan jantung.

Tim memutuskan untuk meneliti fungsi kognitif karena melibatkan banyak pembuluh darah dan korteks otak, yang mencakup sekitar 70-80% dari seluruh korteks otak. Mereka juga berkolaborasi dengan berbagai departemen lain, seperti psikologi, infertilitas (obstetri dan ginekologi), serta kardiologi, meskipun penelitian di bidang tersebut masih berlangsung.

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa 95% dari 67 partisipan, baik yang memiliki pola konsumsi mikroplastik tinggi maupun rendah, terdeteksi memiliki mikroplastik dalam tubuhnya.

Instalasi plastik sebagai simbol pencemar dunia. Dunia memproduksi hampir 400 juta metrik ton plastik setiap tahun, tetapi hanya sekitar 9 persen yang didaur ulang. Foto: Eko Widianto/Mongabay Indonesia

Mongabay: Bagaimana sebenarnya implikasi jangka panjang mikroplastik bagi fungsi kognitif manusia setelah masuk ke jaringan syaraf?

Pukovisa: Pada kelompok dengan konsumsi mikroplastik tinggi, 100% partisipan ditemukan memiliki mikroplastik dalam darah, urine, atau fesesnya. Sementara itu, pada kelompok dengan konsumsi rendah (desil 1), sekitar 90% tetap terdeteksi memiliki mikroplastik dalam tubuhnya.

Yang lebih menarik lagi, dari tiga sampel yang dianalisis—darah, urine, dan feses—hanya mikroplastik dalam darah yang memiliki korelasi dengan gangguan kognitif. Hal ini masuk akal karena otak hanya berinteraksi dengan darah, bukan dengan urine atau feses yang merupakan hasil ekskresi.

Temuan ini semakin menguatkan hipotesis bahwa mikroplastik yang masuk ke tubuh melalui udara, makanan, dan kontak kulit dapat beredar melalui darah dan mencapai berbagai jaringan tubuh, termasuk otak.

Dampak jangka panjangnya menjadi perhatian serius, terutama karena otak merupakan pusat kendali utama manusia yang memengaruhi fungsi kognitif, pengambilan keputusan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Penelitian lain, termasuk yang dipublikasikan di Nature, juga menunjukkan peningkatan kadar mikroplastik dalam otak manusia dari waktu ke waktu berdasarkan studi post-mortem. Seiring dengan meningkatnya pencemaran mikroplastik di lingkungan, ada kemungkinan dampak negatifnya terhadap otak manusia juga semakin besar.

Kesimpulannya, temuan ini memperkuat urgensi untuk mengurangi pencemaran mikroplastik dari sumbernya.

Mongabay: Bicara tentang sumber pencermaran, bagaimana mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia? Apa saja yang menjadi sumber utama paparan mikroplastik bagi manusia?

Pukovisa: Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui tiga jalur utama, yaitu pernapasan, konsumsi, dan kontak kulit. Salah satu cara utama paparan terjadi adalah melalui udara yang kita hirup.

Mikroplastik dapat berasal dari polusi lingkungan, proses pembakaran, atau partikel kecil yang menguap dan bercampur dengan udara. Setelah terhirup, partikel ini dapat masuk ke saluran pernapasan, berinteraksi dengan pembuluh darah, dan menyebar ke berbagai organ tubuh.

Selain melalui udara, mikroplastik juga masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Setelah dikonsumsi, partikel mikroplastik melewati sistem pencernaan, di mana sebagian dapat diserap oleh usus dan masuk ke peredaran darah, sementara sisanya dikeluarkan melalui feses.

Paparan lainnya terjadi melalui kontak kulit, meskipun jalur ini memiliki tingkat penyerapan yang lebih kecil dibandingkan inhalasi dan konsumsi.

Beberapa produk kosmetik dan perawatan kulit mengandung mikroplastik, yang dapat terserap melalui kulit dalam jumlah kecil. Selain itu, memegang plastik yang mengalami degradasi, terutama dalam kondisi panas, juga berpotensi meningkatkan paparan.

Setelah masuk ke dalam tubuh, mikroplastik dapat ditemukan di darah, urine, dan feses, tergantung pada jalur masuk dan bagaimana tubuh memproses serta membuang partikel tersebut.

Proses mikroplastik terserap ke tubuh manusia. Sumber: Jurnal Yonsei Medical melalui Universitas Indonesia dan Greenpeace Indonesia.

Mongabay: Kembali ke penelitian yang dilakukan, bagainana tantangan atau kendala saat penelitian ini dilakukan?

Pukovisa: Salah satu kesulitan utama dalam penelitian ini adalah minimnya sumber referensi yang tersedia, termasuk kurangnya ambang batas atau cut-off untuk konsumsi mikroplastik pada manusia.

Untuk mengatasinya, tim lalu merancang metode sendiri dengan membuat skoring konsumsi mikroplastik berdasarkan kuesioner. Responden ditanya berbagai aspek seperti jenis makanan, kemasan, minuman, sabun cuci, dan produk lain yang bersinggungan dengan mikroplastik.

Studi ini melibatkan sekitar 500 responden yang kemudian dikategorikan dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat konsumsi mikroplastiknya.

Dari kelompok ini, 30 orang dengan konsumsi terendah (desil 1) dan 30 orang dengan konsumsi tertinggi (desil 10) yang dipilih secara acak untuk penelitian lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan sampel darah, urine, dan feses guna mendeteksi fragmen mikroplastik.

Hasil awal menunjukkan bahwa individu dengan konsumsi mikroplastik tinggi memiliki risiko 36 kali lipat lebih besar mengalami gangguan kognitif berdasarkan kuesioner Dementia Eight (D8).

Sementara itu, dari pemeriksaan lebih objektif menggunakan Comprehensive Cognitive Assessment, ditemukan bahwa individu dengan paparan mikroplastik yang terdeteksi dalam darah, urine, atau feses memiliki risiko gangguan kognitif sekitar 15 kali lipat lebih tinggi.

Namun, penelitian ini masih berlangsung karena belum ada cut-off pasti terkait jumlah mikroplastik dalam tubuh yang berhubungan dengan gangguan kognitif. Oleh karena itu, tim masih mengolah data lebih lanjut untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih akurat.

Ukuran, kadar dan jumlah partikel mikroplastik yang ditemukan pada sampel penelitian. Sumber: Universitas Indonesia & Greenpeace Indonesia

Mongabay: Apakah hasil penelitian ini sudah diprediksi sebelumnya, atau justru ada temuan baru yang mengejutkan?

Afifah: Penemuan mikroplastik dalam tubuh manusia bukanlah sesuatu yang mengejutkan, mengingat tingginya produksi dan pencemaran plastik di lingkungan.

Di Indonesia, produksi plastik terus meningkat, diperkirakan mencapai lebih dari tujuh juta ton pada 2025 dan terus bertambah hingga 2030. Dari jumlah tersebut, 35% merupakan plastik kemasan sekali pakai yang hanya digunakan dalam hitungan menit atau jam sebelum menjadi sampah.

Konsekuensinya, jumlah sampah plastik juga meningkat drastis, dengan kenaikan hampir 80% dalam empat tahun terakhir. Sayangnya, sistem pengelolaan sampah yang ada belum mampu mengatasi lonjakan ini, dengan tingkat daur ulang hanya berkisar 10-15%.

Sebagian besar sampah plastik berakhir di TPA, dibakar, atau bocor ke lingkungan, termasuk sungai dan laut, yang akhirnya menjadi sumber utama mikroplastik.

Menariknya, penelitian menemukan bahwa jenis mikroplastik yang banyak mencemari lingkungan, seperti PE, PET, dan PP, juga mendominasi kontaminasi dalam tubuh manusia. Hal ini semakin memperkuat hubungan antara tingginya pencemaran plastik dengan keberadaan mikroplastik dalam tubuh, sebagaimana yang ditemukan dalam riset dr. Pukovisa dan berbagai studi lainnya.

Jenis-jenis material yang menghasilkan mikroplastik. Sumber: Universitas Indonesia dan Greenpeace Indonesia

Mongabay: Apa yang bisa disimpulkan dalam penelitian ini?

Pukovisa: Penelitian tentang pengaruh lingkungan terhadap kesehatan, termasuk bidang kognitif, menunjukkan korelasi kuat antara polusi udara dan penyakit seperti demensia, terutama Alzheimer. Mikroplastik, yang semakin banyak ditemukan di lingkungan, juga menjadi perhatian serius.

Studi terbaru, termasuk dari China, menemukan peningkatan jumlah mikroplastik dalam jaringan otak manusia dari tahun ke tahun, yang menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya pada kesehatan otak.

Penelitian ini penting menggunakan metode ilmiah yang ketat dan objektif, tanpa intervensi atau kepentingan tertentu, sehingga hasilnya dapat dipercaya.

Pada dasarnya, tingkat keparahan dampak lingkungan terhadap kesehatan sudah sangat tinggi.

Harapan kami, setelah melakukan penelitian dengan metode ilmiah yang baik, adalah agar para penggiat dan peneliti lain dapat melanjutkan upaya ini. Penting bagi kita untuk memastikan bahwa pertemuan-pertemuan ilmiah tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga dapat berdampak luas, bahkan hingga level mengubah masyarakat dan negara.

Untuk itu, kami membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari semua pihak, termasuk teman-teman penggiat, ilmuwan, dan pemangku kepentingan.

Kita sendiri mungkin sudah terpapar banyak polutan dan mikroplastik. Jika ada teman-teman yang bersedia berkontribusi lebih jauh, misalnya dengan mewakafkan jenazahnya untuk penelitian lebih lanjut, kami siap menerimanya.

Di Indonesia, sudah ada beberapa yang mendaftar, dan ini bisa menjadi langkah penting untuk memahami dampak lingkungan pada kesehatan manusia. Intinya, mari kita lihat bersama ke depan dan bertindak sekarang sebelum terlambat.

Temuan mikroplastik dalam sampel urine dan darah. Sumber: Universitas Indonesia dan Greenpeace Indonesia

Mongabay: Apa yang menjadi pesan dari Greenpeace kepada semua pihak untuk mengambil peran dan tanggung jawab masing-masing dalam isu mikroplastik ini?

Afifah: Mikroplastik telah terbukti memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, termasuk penurunan fungsi kognitif yang dapat berujung pada penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Meskipun hingga saat ini WHO belum mengeluarkan regulasi khusus terkait mikroplastik, peningkatan produksi dan penggunaan plastik yang tidak terkendali harus dianggap sebagai ancaman serius.

Sebagai salah satu negara dengan konsumsi mikroplastik tertinggi di dunia, Indonesia perlu lebih progresif dalam mengadopsi regulasi seperti yang telah dilakukan negara lain.

Oleh karena itu, pendekatan kehati-hatian (Precautionary Principle) perlu diterapkan untuk mengurangi paparan mikroplastik, terutama melalui produk konsumsi sehari-hari. Untuk mengatasi masalah ini, berbagai pihak harus mengambil langkah konkret.

Pemerintah perlu mempercepat pembatasan atau pelarangan plastik sekali pakai, seperti kantong plastik, sachet, styrofoam, dan botol plastik kecil, tanpa harus menunggu hingga 2030.

Selain itu, diperlukan regulasi yang lebih ketat mengenai standar ambang batas aman mikroplastik dalam lingkungan dan produk pangan, serta sistem alternatif berbasis guna ulang untuk mengurangi pencemaran mikroplastik.

Produsen harus memiliki tanggung jawab untuk beralih ke model bisnis yang lebih berkelanjutan dengan menggunakan kemasan berbahan lebih aman, seperti stainless steel atau kaca, serta memberikan transparansi terkait risiko migrasi zat berbahaya dari kemasan plastik ke produk pangan.

Masyarakat juga berperan penting dalam mengurangi paparan mikroplastik dengan memilih bahan alternatif yang lebih aman dan dapat digunakan kembali.

***

Foto utama: Mikroplastik yang berasal dari plastik, kini sudah memasuki tubuh manusia, di darah dan paru-paru. Foto: 5Gyres/Universitas Oregon State

Mikroplastik dalam Tubuh Manusia Bisa Pengaruhi Fungsi Otak

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|