- Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, memiliki potensi tangkapan gurita yang melimpah. Saat musim panen, mereka bisa menghasilkan 2,5 ton per hari.
- Nelayan gurita di Nias Barat juga sadar akan keberlanjutan lingkungan dan biota laut ini. Makanya mereka pakai alat tangkap yang tidak merusak, serta berupaya menjaga terumbu karang, tempat hidup gurita.
- Sayangnya, masih ada nelayan dari luar Kepulauan Nias yang datang dan melakukan praktik merusak. Ketiadaan POLAIRUD atau TNI AL di lokasi ini menyuburkan praktik tersebut.
- Nelayan gurita juga membutuhkan dukungan pemerintah, terutama untuk membantu pengiriman dan perputaran ekonomi warga yang menggantungkan diri dari tangkapan hewan bersulur ini.
“Alioke, moi yawa nidano! (ayo, lekas! Air laut sudah naik!).” Teriak Ruwin Zendrato, nelayan gurita, memanggil rekannya dari atas sampan. Pada Kamis (27/3/25), nelayan tradisional Nias, Sumatera Utara (Sumut) itu tengah bersiap melaut ke Samudera Hindia.
Dia bilang, dari pukul 7:00 WIB mereka bersiap pergi melaut mencari gurita. Kalau mau lebih banyak harus jauh ke tengah laut menempuh waktu 1-2 jam. “Setelah seharian mencari gurita. Sore sekitar pukul 17:00 WIB Kami balik pulang,” kata Zendrato, nelayan dari Desa Ono Limbu, Kecamatan Sirombu, Simeasi, dan Lolofitu Moi, Nias Barat, Sumut.
Mereka mencari gurita dengan riang. Bersorak riuh ketika ada yang berteriak mengangkat hasil tangkapan. Kemudian memasukkan gurita-gurita yang mereka tangkap dengan keranjang ke mesin pendingin sederhana yang terbuat dari fiber berisi es.
Terdapat 4-5 orang dalam satu perahu kelompok pencari gurita, empat orang turun ke laut, menangkap gurita dan biota lain seperti lobster, sotong, ikan, dan rajungan. Seorang lagi bertugas mengendalikan perahu dan menjaga barang bawaan, termasuk hasil tangkapan.
Setidaknya ada 10 perahu yang berangkat setiap hari. Mereka jaga jarak tidak terlalu jauh satu dengan yang lain.
“Seorang nelayan yang sudah sejam berada di laut akan naik ke atas perahu istirahat sambil mengambil sepotong gurita yang dimasukkan dalam kail pancing, sembari istirahat minum kopi atau teh, kami juga memancing ikan.”
Rizal Tanjung, kelompok nelayan penangkap gurita Nias Barat, menyebut, ada dua metode penangkapan. Dengan cara menyelam dan membawa tombak, seerta menangkap menggunakan umpan yang sudah dirancang sedemikian rupa.
Metode pertama, melelahkan karena nelayan harus mencari jejak keberadaan gurita yang bersembunyi atau berada di antara batu karang dan lokasi-lokasi lain tempat hewan bersulur ini beraktivitas. Penyelam harus mengetahui betul lokasinya bersembunyi. Jumlah tangkapan tidak terlalu banyak, hanya sekitar 15-20 ekor.
Metode kedua menggunakan alat tangkap terbuat dari cangkir atau botol plastik berwarna cerah seperti merah, oranye, dan kuning. Warna cerah ini paling gurita sukai dan mampu memancing mereka fokus melihat target umpan, dan langsung mengejarnya.
Di ujung botol tadi terpasang mata kail antara 6-9 unit. Besi seukuran jari-jari sepeda motor sebanyak 9 batang menggantung di antara mata kail. Di ujungnya, terpasang dua sendok makan yang sudah jadi delapan bagian.
Fungsi besi seperti jari-jari sepeda motor dan sendok yang terpotong delapan bagian itu sebagai cara mengeluarkan bunyi-bunyian yang memancing gurita keluar dari sarangnya.
Alat tangkap ini dibuat sedemikian rupa sehingga bentuknya mirip kepiting. Untuk menjaga keseimbangan wadah seperti botol berwarna itu, diisi semen seberat satu kilogram. Niscaya stabil ketika ombang kencang atau gelombang naik.
Ketika masuk ke air, batangan besi dan potongan sendok yang dipotong akan saling beradu. Gurita yang mendengar dentingan dan benturan besi ini terpancing keluar dan seperti melihat kepiting. Langsung mengejarnya, kemudian menggigit bagian ujung botol, masuk jebakan.
Metode kedua ini cukup efektif. Sekali melaut, nelayan bisa mendapat hingga 100 ekor gurita yang mencapai 70-100 kg. Jika harga per kilo Rp57.000, maka dalam sehari mereka bisa mendapat Rp5 juta.
Rizal bilang, nelayan penangkap gurita mulai gunakan alat yang diberi nama Lakhe Gurita, atau dalam bahasa nias berarti umpan gurita ini sejak tahun 2017. Karena ampuh, nelayan yang biasa menyelam dan menombak, mulai beralih menggunakan lakhe gurita.
Tidak butuh kocek banyak untuk merakit umpan ini. Hanya perlu Rp100.000. Besi berbahan stainless, hingga mampu bertahan 3-4 tahun.
Mereka menggunakan benang pancing yang bervariasi. Panjangnya tergantung kedalaman laut tempat para nelayan berburu gurita. Kadang mereka harus mencari di laut dengan kedalaman 15-25 meter.
“Bentuknya seperti mainan yoyo. Besi-besi dan sendok digantungkan di ujung-ujung Yoyo yang berputar itu… Tiap nelayan hanya butuh satu atau dua umpan gurita.”
Nelayan pun harus menggunakan kacamata renang. Fungsinya, untuk melihat pergerakan gurita, mulai dari keluar sarang, mengamati botol atau cangkir plastik, dengan warna mencolok, hingga irama benturan besi dan sendok yang membuatnya tertarik.
Kacamata renang ini juga bermanfaat untuk memilah gurita yang akan ditangkap. Pada saat umpan gurita dimasukkan ke laut, nelayan berenang ke bolak-balik. Jika ada gurita yang mengejar umpan, tetapi ukuran masih di bawah 2-3 ons, maka nelayan tidak akan mengambilnya. Mereka menarik umpan ke arah lain, menghindari gurita yang belum cukup umur itu.

Sadar keberlanjutan
Menurut Rizal, nelayan Nias barat sadar konsep keberlanjutan. Untuk menjaga kelangsungan biota laut ini dan menghindari kepunahan lokal, beberapa cara mereka jalani.
Antara lain, ada kesepakatan antara nelayan untuk gurita terkecil yang boleh ditangkap berbobot antara 2,5 ons hingga 3 ons, meski belum ada aturan resmi terkait hal ini.
Nelayan sadar akan konsep simbiosis mutualisme dengan gurita. Sumber ekonomi mereka dari biota laut ini akan tetap tersedia sepanjang mereka menjaga karang, habitat penting hewan bersulur ini.
Membatasi ukuran gurita yang boleh ditangkap pun jadi langkah penting. Dengan tidak mengambil anakan gurita, nelayan masih bisa berharap populasi biota laut ini akan terus ada dan berkembang.
Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan pun faktor penting. Rizal bilang, dua metode penangkapan gurita ini tidak merusak habitat satwa dan tumbuhan di laut. Dia menjamin, tidak ada satupun nelayan gurita dan nelayan lainnya yang menggunakan alat tangkap yang merusak.
Mereka yang menggunakan alat tangkap seperti bom, lanjutnya, bukan berasal dari Pulau Nias. beberapa kali, mereka mendapati nelayan yang melakukan praktik ini. Langsung pergi ketika terpantau nelayan Nias Barat.
Keberadaan nelayan yang melakukan praktik merusak itu karena absennya Pol Airud dan TNI AL di wilayah perairan mereka. Padahal, kalau patroli di perairan Nias Barat, maka kapal-kapal yang menggunakan alat tangkap merusak itu tidak akan berani datang atau menjalankan aksi mereka.
“Kami berharap patroli laut dari POLAIRUD Polda Sumut dan PSDKP serta TNI AL bisa memperluas wilayah jelajahnya hingga sampai ke perairan Nias Barat ini.”
Tak merata
Nelayan gurita di Kepulauan Nias berasal dari tiga wilayah, Nias Barat 100 nelayan, 75 orang dari Nias Selatan, dan 50 orang dari Nias Utara. Tidak semua menghasilkan jumlah tangkapan sama.
Februari sampai Juli, biasa nelayan gurita Nias Barat bisa menangkap 100-120 kilogram per kapal per hari. Kalau satu kapal terdiri dari empat orang, maka setiap orang menghasilkan 25 kilogram per hari. Berarti, Nias Barat yang memiliki 100 nelayan bisa menghasilkan 2,5 ton tangkapan per hari.
Di luar bulan itu, mereka hanya bisa menangkap 25-30 kilogram per hari. Pasalnya, gurita banyak yang mengerami telur atau menjaga anak mereka. Sang induk bahkan rela tidak makan dan keluar berhari-hari.
Sementara di Nias Selatan, tangkapannya tidak sebanyak itu di periode sama. Hanya 10-15 kilogram per nelayan, atau 1,5 ton per hari dalam jumlah terbanyak.
Faktor utamanya dipicu metode tangkap mereka yang masih tradisional. Menyelam, dan menombak. Padahal, Nias Selatan memiliki 101 pulau-pulau kecil, potensi besar untuk habitat gurita. Sementara Nias Barat hanya 10 pulau kecil.
Sedangkan Nias Utara, jadi yang paling kecil. Karena hanya bisa menghasilkan rata-rata 10-15 kilogram per orang atau total 750 kg per hari. Nelayan Kabupaten ini pun masih memakai metode menyelam dan menombak.
“Di sana banyak buaya yang begitu dikhawatirkan oleh para nelayan menangkap gurita, apalagi caranya para nelayan harus berenang di laut yang bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan predator tersebut. Kalau kami yang disuruh menangkap ke sana pasti pulang sudah bawa banyak uang dari hasil penangkapan Gurita itu,” kata Rizal.

Perlu penampung besar
Sejauh ini, nelayan menjual hasil tangkapan mereka ke penampung tingkat desa. Setelah itu, untuk menjaga kualitasnya tetap segar, gurita dikemas dan diberi es.
Dari situ, mereka mengirim gurita ke Kota Sibolga melalui pelabuhan di Gunungsitoli, Nias. Jarak dari Barat ke pelabuhan sekitar dua jam perjalanan. Sedangkan dari Gunungsitoli ke Sibolga membutuhkan waktu 10-12 jam perjalanan laut.
Di sinilah masalah timbul. Proses pengiriman ke penampung utama di Sibolga kadang terkendala kapal yang tidak kunjung berangkat dari Pelabuhan Gunungsitoli. Apalagi, jika es habis dan tidak ada penjual di sekitar lokasi. Gurita yang semula segar jadi terlihat lembek. Kualitasnya yang grade A pun turun.
Rizal bilang, penampung tingkat desa akan terbantu jika ada agen besar yang datang membeli tangkapan mereka. Agen besar tentu akan datang dengan kapal yang besar dan alat pendingin yang mampu bertahan hingga 15 jam perjalanan dari Kepulauan Nias ke Sibolga, bahkan ke Kota Medan untuk pengemasan lebih lanjut dan ekspor.
“Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan hal ini, penyediaan fasilitas harus terus dilakukan supaya Nias Barat lebih maju ekonominya, mengingat sektor Kelautan cukup bisa diandalkan di sini.”

*******