Masyarakat Adat di SM Rimbang Baling Berharap Tuah Gaharu

1 day ago 8
  • Masyarakat adat yang tinggal di sekitar SM Rimbang Baling, Riau,  mulai  budidaya pohon gaharu karena menyadari keberadaan di alam sudah langka dan perlu terjaga. Dorongan budidaya mengingat nilai ekonomi gaharu  tinggi.
  • Satar, petani gaharu  sadar, gaharu makin sulit bahkan hampir mustahil mereka temui di hutan. Dia pikirkan juga perlu ada upaya agar tak perlu tebang di hutan. Apalagi harga gaharu menggiurkan. 
  • Kini pembudidaya gaharu sudah ada yang mulai panen. Sayangnya, harga gaharu budidaya kurang menguntungkan.
  • Pohon gaharu hasil budidaya tidak tumbuh dengan alami. Para petani, seperti Mak Birin dan Satar, mesti menyuntik pohon-pohon dengan cairan alami inokulan untuk menghasilkan gubal gaharu atau mengubah isi batang pohon menjadi hitam.

Satar, petani gaharu belum melupakan keberuntungan mendapatkan sebatang pohon gaharu di hutan sekitar Sungai Tikun, Desa Gajah Bertalut, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, tujuh tahun lalu. Sebatang pohon ‘surga’ ini mengubah jalan hidupnya kemudian.

Kala itu, dia bersama empat rekan, dua hari menyusuri belantara Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Hampir putus asa dan hendak kembali, rupanya pohon yang mereka cari itu tegak tak jauh dari jalur pertama kali mereka menapaki hutan.

Langsung saja, setelah gaharu mereka tumbangkan, menyeret ke barak tempat bermalam selama di hutan. Mereka menguliti pohon ini selama 16 hari.

Masyarakat adat di Desa Aur Kuning, yang bersebelahan dengan Gajah Bertalut ini pun mengambil bagian-bagian bernilai pada sebatang gaharu ini. Mereka harus teliti dan memakai peralatan atau pemotong khusus. Kalau salah, akan mengurangi harga.

Sebatang gaharu biasa bisa dibedakan berdasarkan kelas. Gaharu yang mereka dapatkan saat itu jadi lima kelas. Pengkategorian itu menentukan harga jual. Harga tiap-tiap kelas Rp 40 juta sampai Rp250 juta.

Setelah lebih setengah bulan menghabiskan waktu mengolah pohon gaharu, Satar dan rombongan kembali ke desa. Tak menunggu berganti hari, dia bergegas menghubungi bosnya di Aceh Tamiang. Pembeli langsung ke Aur Kuning, sehari kemudian. Karena paham kualitas, Satar menetapkan langsung harga penawaran.

Setelah negosiasi, Satar ketiban duit Rp1,5 miliar dari 14 kilogram kayu yang kalau dibakar mengeluarkan aroma harum. Uang itu tentu tidak dia nikmati sendiri. Mereka bagi rata, masing-masing peroleh Rp300 juta.

 Suryadi/ Mongabay IndonesiaBibit pohon gaharu berserakan di lahan budidaya sepetak milik Mak Birin, petani masyarakat adat Tanjung Belit. Foto: Suryadi/ Mongabay Indonesia

Satar sadar, gaharu makin sulit bahkan hampir mustahil mereka temui di hutan. Dia pikirkan juga perlu ada upaya agar tak perlu tebang di hutan. Apalagi harga gaharu menggiurkan.

Dengan uang itu dia beli satu hektar kebun karet plus bangun rumah. Sekaligus jadi akhir pengelanaan berburu pohon yang jadi bahan baku industri parfum dan kosmetik bahkan ritual keagamaan ini.

Dia berburu gaharu sejak umur 15 tahun. “Dari Sabang sampai Merauke.”

Meski sudah hampir satu dekade berhenti berburu pohon gaharu, minat Satar akan cuan dari kayu itu tak sepenuhnya memudar. Dia membudidaya pohon gaharu. Ada sekitar 150 batang pohon yang sudah berumur enam tahun. Targetnya, dua tahun lagi memasuki panen perdana.

Langkah itu diikuti belasan masyarakat adat terutama petani di Aur Kuning, termasuk sejumlah desa di kawasan Rimbang Baling, seperti Tanjung Belit, Muara Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertalut, Aur Kuning, Terusan, Pangkalan Serai dan Subayang Jaya.

Mak Birin, petani Desa Tanjung Belit, mengatakan, gerbangnya SM Bukit Rimbang Bukit Baling, bahkan menanam 300 batang pohon gaharu di sela-sela karetnya. Dia lebih awal satu tahun dari Satar. Budidaya ini juga dia lakukan pada sepetak lahan berisi 20 batang gaharu yang tumbuh lebih dua tahun.

Mak Birin juga pemburu gaharu di hutan, sejak 1985. Terakhir, dia mencari kayu itu sampai ke Bengkulu. “Gaharu ini, barangnya sedikit duitnya banyak. Maka masyarakat mau saja cari ke dalam hutan.”

Pohon gaharu hasil budidaya tidak tumbuh dengan alami. Para petani, seperti Mak Birin dan Satar, mesti menyuntik pohon-pohon dengan cairan alami inokulan untuk menghasilkan gubal gaharu atau mengubah isi batang pohon menjadi hitam.

“Kayu-kayu hitam itu diambil karena paling laku,” ujar Mak Birin, di sela-sela simulasi penyuntikan cairan pada pohon miliknya, Desember lalu.

 Suryadi/Mongabay Indonesia.Cairan inokulan belum bersahabat dengan kantong petani. Tak sebanding dengan harga gaharu budidaya. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia.

Mengutip Jurnal Hutan Tropis Juli 2017, tulisan Safinah Surya Hakim dkk, menyebutkan, inokulan merupakan pupuk organik dari sejumlah jenis cendawan. Hasilnya,  bisa berupa cair, kapsul maupun serbuk yang dipindahkan ke pohon untuk menghasilkan gaharu, baik suntik maupun oles.

Masalahnya, harga cairan itu belum tergolong ramah di kantong petani. Satar mengatakan,  satu liter inokulan cair antara Rp600.000- Rp 1,5 juta. Dia belum mampu beli. Apalagi, satu liter cairan paling hanya cukup menyuntik dua batang pohon. Seperti yang telah dia uji coba beberapa waktu lalu.

Lain hal Mak Birin. Sudah banyak pohon yang dia suntik. Dia memesan cairan inokulan dari Sijunjung, Sumatera Barat.

Dia bilang, pohon layak suntik setelah usia tanam lebih lima tahun. Praktiknya, pohon di bor terlebih dahulu dengan jarak tertentu, sebelum suntik. Hasilnya, menunggu dua tahun kemudian.

Gaharu tiap pohon tidak merata, tergantung pemberian inokulan dan teknik mengolah atau mencincang kayu-kayu yang menghitam. Mak Birin sudah panen tujuh pohon. Rata-rata dia dapat lima kilogram dari masing-masing pohon.

Birin menyimpan beberapa kotak kayu gaharu di rumah. Dia belum berminat menjual hasil budidaya itu sama sekali karena harga masih tergolong murah. Bahkan, pohon gaharu di sela-sela tanaman karet masih dia biarkan begitu saja meski sudah suntik lima tahun lalu.

Budidaya gaharu amat penting bagi konservasi tumbuhan di alam dan turut mendorong ekonomi masyarakat adat di tengah menyempitnya ruang hidup mereka setelah penetapan SM Bukit Rimbang Bukit Baling pada 2014 seluas 141.226,25 hektar.

Saat ini, mayoritas perkebunan karet, sumber ekonomi utama turun temurun, justru masuk dalam blok khusus, area yang hanya dapat mereka manfaatkan terbatas.

Di tengah situasi itu, Yapeka buat studi singkat dorong pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) lima produk utama, gaharu, salah satunya.

“Karena semakin sulit cari gaharu di alam, waktu yang lama dengan risiko, kita coba kembangkan dengan budidaya,”  kata Agustinus Wijayanto,  Direktur Program ITHCP.

Yapeka,  organisasi nirlaba memiliki perhatian terhadap konservasi, pendidikan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat. Melalui Integrated Tiger Habitat Conservation Program (ITHCP), sejak 2015, Yapeka dorong peningkatan ekonomi masyarakat adat dengan memanfaatkan sumber daya alam di SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

Dalam budidaya gaharu, Yapeka memberikan dukungan peralatan, meliputi mesin bor portable, jarum suntik termasuk inokulan.

Selanjutnya, yayasan itu juga memberikan pelatihan pada masyarakat dengan mendatangkan ahli pengembangbiakan gaharu dari Bogor. Termasuk dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H), Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Kehutanan.

Sejak itu, banyak masyarakat adat Rimbang Baling antusias budidaya gaharu. Yapeka mencatat, Tanjung Belit ada 17 petani, Tanjung Beringin (28), Gajah Bertalut (27), Aur Kuning (15) dan Terusan (5).

 Suryadi/Mongabay Indonesia.Satar, petani karet Aur Kuning mulai budidaya gaharu di sela-sela pohon karetnya. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia.

 

Harga murah

Penelitian Sri Rahayu Prastyaningsih, tentang potensi pohon penghasil gaharu budidaya di Kampar, terbit di Wahana Forestra:Jurnal Kehutanan (2015), menjelaskan,  budidaya gaharu (Aquilaria malacensis) di Kampar berawal dari program Dinas Kehutanan Riau. Ia menyangkut pencanangan penanaman satu miliar pohon gaharu di lahan kelompok tani maupun mitra.

Jauh sebelum program pemerintah daerah atau sejak 1997, masyarakat Kampar sudah mulai menanam pohon-pohon yang menghasilkan gaharu. Baik dengan pola tanam monokultur maupun multikultur atau di sela-sela tanaman semusim dan tahunan.

Hanya saja, bagi Birin, Satar dan puluhan petani gaharu budidaya di SM Bukit Rimbang Bukit Baling, harga gaharu dari proses penyuntikan itu masih tergolong murah.

“Saat ini, harga merosot. Orang beli gaharu budidaya juga tak ada. Kalau bagus harga (gaharu), kita siapkan (perbanyak tanam) saja lagi,” kata Birin.

Seandainya harga gaharu budidaya sama menjanjikan dengan alami, mungkin Masyarakat Adat Kampar Kiri Hulu akan mengurangi aktivitas ke hutan.

Bahkan, Mak Birin, mengatakan harga gaharu budidaya yang tinggi dapat mendorong masyarakat adat mengganti sawit dengan pohon gaharu. “Lagi pula, gaharu tak bisa berdampingan dengan sawit.”

Soal harga gaharu budidaya kurang menguntungkan, tak Mauludi bantah. Dua tahun belakangan, dia berhenti menampung gaharu karena harga sudah tidak cocok.

Menurut dia, masalah itu juga pengaruh perang timur tengah. Rata-rata pembeli gaharu kebanyakan dari negara itu.

Mauludi bahkan sempat merugi. Dia beli gaharu ke petani Rp10 juta, hanya lepas ke tauke Rp7,5 juta. Penurunan harga itu juga karena bobot kayu menyusut setelah petani olah.

Relasi Mauludi, sebagai penampung lokal, cukup luas dalam bisnis gaharu. Dia mengaku tak canggung bernegosiasi ketika menawarkan harga kayu pada tiap-tiap tauke yang dijumpai. Pengusaha dari Singapura hingga Tiongkok bahkan pernah berkunjung ke Tanjung Belit untuk melihat langsung pohon gaharu.

“Bisnis itu menjanjikan. Sebab itu dibilang, kayu dari surga. Kalau jalan lagi bisnis gaharu, saya jarang sopir travel. Saya pernah beli tiga ons dapat untung Rp10 juta. Kalau orang tak paham tak percaya,” kenang Mauludi, sambil membakar sedikit serpihan kayu gaharu dengan mancis.

 Suryadi/Mongabay Indonesia.Mak Birin, menunjukkan titik pohon yang telah disuntik dengan cairan inokulan. Tampak menghitam. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia.

******

Petani Muda Lombok Ini Pulihkan Lahan dengan Gaharu dan Buah-buahan

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|