- Bunga anggrek satu ini kecil, tak lebih dari 1,5 cm. Namun, dalam satu tangkai dapat menghasilkan hingga 30 kuntum bunga mekar. Warnanya kuning, dengan pola bintik jingga atau kemerahan.
- Anggrek spesies baru ini telah berevolusi secara unik dengan mereduksi organ daunnya secara ekstrem, sehingga proses fisiologi penting seperti fotosintesis dilakukan pada organ akarnya. Nama yang disematkan pada spesies anggrek baru ini adalah Chiloschista tjiasmantoi Metusala.
- Jenis ini disebut anggrek akar, sebab penampakannya seperti sekumpulan akar-akar berwarna kehijauan. Dari penelusuran, anggrek ini seperti javanica yang disebut anggrek hantu. Disebut demikian karena penampakannya tanpa daun, berkamuflase dengan baik pada batang pohon, sehingga kehadirannya kadang sulit dikenali.
- Sejauh ini, C. tjiasmantoi baru ditemukan di lima lokasi, di dua kabupaten, Aceh. Lokasi detil penemuan tidak disebutkan untuk alasan konservasi. Saat ini, habitat alami mereka terancam alih fungsi lahan. Diperkirakan jumlahnya kurang dari 2.500 individu dewasa. Perkebunan kopi sebagai habitat spesies ini cukup rentan karena mereka bisa dipangkas atau ditebang kapan saja.
Ukuran bunganya mungkin tak membuat orang melirik. Bunga anggrek satu ini kecil, tak lebih dari 1,5 cm. Namun, dalam satu tangkai dapat menghasilkan hingga 30 kuntum bunga mekar. Warnanya kuning, dengan pola bintik jingga atau kemerahan. Biasanya, berbunga pada pertengahan Juli serta awal November hingga akhir Desember.
Jika harga di marketplace jadi ukuran seberapa tinggi minat para penggemar anggrek, boleh jadi anggrek baru ini bakal tak difavoritkan. Bunga sejenis, misalnya Chiloschista javanica, hanya dijual dengan harga rata-rata, sekitar Rp25 ribu.
Tapi tunggu dulu. Bagi peneliti atau kolektor, bunga anggrek jenis ini termasuk istimewa. Terlebih, spesies yang baru ini ditemukan di Aceh.
“Anggrek spesies baru ini telah berevolusi secara unik dengan mereduksi organ daunnya secara ekstrem, sehingga proses fisiologi penting seperti fotosintesis dilakukan pada organ akarnya. Keunikan ini, membuka peluang riset lanjutan untuk menelisik berbagai aspek biologinya,” ungkap Destario Metusala, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional, dalam siaran pers BRIN, Rabu (26/3/2025).
Baca: Anggrek La Galigo, Jenis Baru dengan Nama Epos Terbaik di Dunia

Perkebunan kopi habitat anggrek
Destario mengisahkan awal mula penemuannya. Pada 2019, dalam inventarisasi botani yang dipimpinnya, beberapa spesimen Chiloschista didapati tumbuh epifit di perkebunan kopi semi terbuka di dekat hutan, di Provinsi Aceh. Beberapa individu Chiloschita itu didominasi oleh tumpukan akar fotosintetik yang warnanya menyerupai kulit batang pepohonan.
”Akar Chiloschista biasanya berubah menjadi lebih gelap saat basah dan tampak seperti warna kulit pohon, yang membuatnya sulit ditemukan, sehingga bunganya yang kecil namun cerah sering kali penting untuk mendeteksinya,” tulis Destario, dalam laporan penelitian yang dimuat di Jurnal PhytoKeys, Februari 2025.
Sebagian besar anggrek ini tumbuh pada pohon kopi tua dan pohon peneduh di perkebunan kopi lokal. Bersamanya, ditemukan pula anggrek jenis Vanda pumila. Habitatnya diketahui basah berangin, semi terbuka, dengan intensitas cahaya matahari sedang. Ketinggiannya berkisar antara 700-1.000 m.
Beberapa tanaman, termasuk yang sedang berbunga lalu dikumpulkan sebagai herbarium dan spesimen hidup untuk Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur.
Baca: Rotan Hantu Kalimantan, Spesies Favorit 2024 Pilihan Ilmuwan

Menurut Destario, tanaman ini agak sulit dibudidayakan di dataran rendah atau sekitar 300 mdpl. Meski begitu, dapat ditanam dengan cara menempelkan pada lempengan pakis pohon dengan lapisan lumut di atasnya. Intensitas cahaya sekitar 30-75 persen, dengan sirkulasi udara yang baik, dan tingkat kelembaban sekitar 80 persen atau lebih.
Anggrek ini dicirikan oleh akar yang banyak, berbentuk terete (silindris) hingga pipih. Diameter akar berkisar 2-3,5 mm, berwarna hijau keabu-abuan saat basah dan berubah menjadi putih keabu-abuan saat kering.
Daun hanya satu atau dua, dengan panjang berkisar 4-7 mm. Bunga yang muncul akan bertahan selama lima hari.
Baca: Temuan Spesies Baru Favorit Ilmuwan Dunia, Anggrek Merah dari Pulau Waigeo Papua

Destario menerangkan, seperti dikutip situs BRIN, genus Chiloschista pertama kali dideskripsikan pada 1832 dan kini mencakup 30 spesies yang tersebar dari Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia. Genus ini masuk dalam kelompok anggrek tak berdaun.
Oleh para penggemar anggrek di Indonesia, jenis ini disebut anggrek akar, sebab penampakannya seperti sekumpulan akar-akar berwarna kehijauan. Dari penelusuran, anggrek ini seperti C. javanica yang disebut anggrek hantu. Disebut demikian karena penampakannya tanpa daun, berkamuflase dengan baik pada batang pohon, sehingga kehadirannya kadang sulit dikenali.
Baca: Kebun Botani Atok Man dan Misi Pelestarian Anggrek Bangka Belitung

Ancaman kelestarian anggrek
Dengan penemuan tersebut, Indonesia memiliki lima spesies Chiloschista. Empat spesies sebelumnya yaitu C. javanica yang merupakan endemik Pulau Jawa, C. phyllorhiza yang tersebar di Jawa, kepulauan Sunda Kecil, dan Sulawesi, C. taeniophyllum yang endemik Maluku, serta C. treubii yang juga endemik Maluku.
Nama yang disematkan pada spesies baru anggrek ini adalah Chiloschista tjiasmantoi Metusala. Julukan yang diambil dari Wewin Tjiasmanto, Ketua Yayasan Konservasi Tjiasmanto, seorang filantropis yang peduli terhadap konservasi tanaman Indonesia, khususnya Aceh.
Baca juga: Anggrek Biru, Si Cantik dari Pulau Waigeo yang Belum Dilindungi

Secara morfologi, C. tjiasmantoi mirip C. javanica yang endemik Jawa dan C. swelimii yang ditemukan di Vietnam dan Semenanjung Malaya. Dengan C. javanica, misalnya, nyaris hanya dibedakan pada kantong bibir bunga. Jika C. javanica seperti huruf L, maka C. tjiasmantoi seperti huruf V.
Mengutip hasil laporan, warna dan bentuk bunganya hampir sama. Namun struktur internal bibir bunga sangat berbeda yang menjadi karakter kunci yang baik untuk indentifikasi spesies di genus ini lebih lanjut.
Sejauh ini, C. tjiasmantoi baru ditemukan di lima lokasi, di dua kabupaten, Aceh. Lokasi detil penemuan tidak disebutkan untuk alasan konservasi. Saat ini, habitat alami mereka terancam alih fungsi lahan. Diperkirakan jumlahnya kurang dari 2.500 individu dewasa. Perkebunan kopi sebagai habitat spesies ini cukup rentan karena mereka bisa dipangkas atau ditebang kapan saja.
“Selain itu, banyak petani kopi yang menganggap anggrek ini sebagai tanaman parasit yang berbahaya dan membasminya dengan cara membersihkan ranting kopi dari tanaman epifit,” tulis Destario dalam laporannya.
Ancaman lainnya adalah perubahan iklim. Sejumlah penelitian telah mengungkap pengaruh perubahan iklim pada ekosistem dataran tinggi di Aceh. Hal ini juga berdampak pada sebagian besar spesies tanaman yang sensitif seperti C. tjiasmantoi.
Untuk itu, penelitian berbasis konservasi perlu dilakukan untuk menentukan kerentanan spesies ini terkait perubahan iklim terutama stres kekeringan pada tanaman.

Keanekaragaman jenis anggrek
Secara umum anggrek bisa digolongkan menjadi dua, yaitu epifit dan terresterial. Kategori epifit merupakan jenis anggrek yang tumbuhnya menempel pada tanaman lain, namun tidak bersifat parasit atau merugikan tanaman yang ditumpanginya. Contoh anggrek jenis ini ialah genus Dendrobium, Bulbophyllum, dan Coelogyne.
Sedangkan kategori terresterial adalah anggrek yang tumbuhnya di tanah, contohnya ialah genus Spathoglottis, Calanthe, dan Paphiope–dilum.
Merujuk data Direktorat Pembenihan Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang dikutip Indonesia.go.id, saat ini telah teridentifikasi sekitar 750 famili, 43.000 spesies dan 35.000 varietas hibrida anggrek dari seluruh penjuru dunia.
Indonesia diperkirakan memiliki 5.000 spesies anggrek. Dari jumlah itu, 986 spesies tersebar di Pulau Jawa; 971 spesies berada di Pulau Sumatra; 113 spesies tumbuh di Kepulauan Maluku; dan sisanya ditemukan di Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, dan Kalimantan.