Kelompok Muda Beraksi Atasi Sampah Plastik di Pesisir Sumut

19 hours ago 5
  • Sampah plastik tengah menghantui pantai barat Sumatera Utara. Belum berhasilnya pemerintah daerah menciptakan pengelolaan sampah plastik yang efektif berkelindan dengan  konsumsi kemasan plastik yang tak terkendali. Melihat persoalan ini, sekelompok anak muda berupaya mencari cara atasi masalah.
  • Syarifah Ainun, Permanent Member of The Chemical Engineering Degree in Sumatra Region, menyebut, situasi pantai barat Sumut masih asri di tahun 1971-1998. Pembangunan yang masif 3 tahun setelahnya, dan tingkat konsumsi belanja masyarakat lokal merubah rupa kawasan.
  • Limbah plastik menumpuk dan mencemari laut pantai barat Sumut. Pemerintah setempat panik dan sempak membersihkan sampah-sampah tersebut. Penyadartahuan dilakukan, tapi pola konsumtif yang tidak terkontrol membuat hal itu menjadi percuma.
  • Anak muda pesisir barat Sumut menginisiasi gerakan Bank Sampah Yamantab (BSY) sejak 2022. Fokusnya, menolak penggunaan plastik yang  merusak lingkungan. Berbagai aksi sudah mereka lakukan, seperti,  menolak pembuangan limbah plastik ke laut dan menggelar berbagai aksi, mendesak pemerintah supaya menyediakan peralatan daur ulang sampah plastik.

Sampah plastik tengah menghantui pantai barat Sumatera Utara (Sumut). Belum berhasilnya pemerintah daerah menciptakan pengelolaan sampah plastik yang efektif berkelindan dengan konsumsi kemasan plastik yang tak terkendali. Melihat persoalan ini, sekelompok anak muda berupaya mencari cara atasi masalah. 

Syarifah Ainun, Permanent Member of The Chemical Engineering Degree in Sumatra Region, menyebut, situasi pantai barat Sumut masih asri pada 1971-1998. Pembangunan masif tiga tahun setelahnya, dan tingkat konsumsi belanja masyarakat lokal mengubah rupa kawasan. Penggunaan plastik makin tinggi.

Dia bilang, masuknya barang rumah tangga yang terbuat dari plastik, bungkus sampo, sabun, deterjen, kemasan minuman membanjiri wilayah ini.

“Industri kecil dan menengah bermunculan dan tumbuh.”

Akibatnya, limbah plastik menumpuk dan mencemari laut pantai barat Sumut. Pemerintah panik dan berupaya membersihkan sampah-sampah itu. Mereka lakukan penyadartahuan tetapi pola konsumsi tak terkontrol membuat itu jadi percuma.

Pemerintah juga sempat membangun tempat pembuangan akhir sampah tetapi lokasinya jauh dan tak ada petugas yang mengumpulkan membuat masyarakat memilih membuang sampah ke gorong-gorong. Beberapa bahkan membakar sampah mereka dan menimbulkan masalah kesehatan baru.

Plastik, kata Ainun, terbentuk dari unsur karbon, oksigen, hidrogen, klorin, belerang, dan nitrogen. Sebagian besar plastik terbuat dari bahan baku fosil. Membakar plastik akan membuat senyawa-senyawa ini menjadi racun, apalagi kalau membakar dalam jumlah besar.

“Apa yang dilakukan masyarakat di sana berisiko tinggi. Menambah masalah baru, yaitu pencemaran udara.”

Sementara plastik yang menumpuk jadi sampah butuh waktu lama untuk memuai alami. Berbagai inovasi  untuk mengatasi tumpukan limbah  bermasalah bagi lingkungan, termasuk daur ulang. Namun, industri daur ulang plastik di Indonesia belum banyak, dan belum menyentuh Sumut, khusus pesisir pantai barat.

Catatan Ainun, setidaknya ada 500 kg hingga satu ton plastik dibuang per hari ke tempat pembuangan akhir ataupun lokasi pemrosesan di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah.

“Kita mendorong pemerintahan  membuat kebijakan untuk meminimalisir penggunaan kantong plastik serta membuat satu inovasi baru pengolahan daur ulang limbah plastik di sana.” 

Limbah plastik shampo kemasan yang dibuang ke aliran parit di Hulu dan berujung di Hilir Pantai Barat Sumut. Foto: Ayat S Karo-Karo / Mongabay Indonesia

Aksi kelompok muda

Di tengah buntunya pemerintah daerah mengatasi sampah plastik, anak muda pesisir barat Sumut menginisiasi gerakan Bank Sampah Yamantab (BSY) sejak 2022. Fokusnya, menolak penggunaan plastik yang merusak lingkungan. 

Berbagai aksi sudah mereka lakukan, seperti,  menolak pembuangan limbah plastik ke laut dan menggelar berbagai aksi, mendesak pemerintah supaya menyediakan peralatan daur ulang sampah plastik.

Mereka juga menyelipkan penyadartahuan kepada masyarakat lokal dalam setiap kampanye. Materinya terkait bahaya limbah plastik bagi kehidupan di masa depan. 

BSY pun memberikan pelatihan mengolah limbah sampah plastik jadi bernilai ekonomi tinggi, seperti jadi keranjang, tas, pot bunga, celengan, sampai boneka dan mainan anak-anak. 

Barang-barang itu juga mereka buat di markas. Jadi tempat  pelajar, mulai dari sekolah dasar hingga menengah atas. 

Mendatangi sekolah-sekolah juga jadi fokus mereka. Di kelas, BSY memberikan gambaran ihwal bumi sudah tidak sehat karena ulah manusia yang serakah dan tidak mempertimbangkan generasi penerus. 

Damai Mendrofa, Direktur BSY, mengatakan, sampah plastik di pesisir barat Sumut tidak jauh beda dengan banyak daerah di Indonesia yang menjadi ancaman. Hanya saja, pegiat lingkungan yang fokus pada isu ini sedikit.

Isu penanggulangan sampah plastik, katanya, harus terus mereka dorong supaya lebih populer di masyarakat. Terutama di wilayah-wilayah pantai barat mulai dari Kepulauan Nias, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Kota Sibolga dan  Tapanuli Tengah.

Sampah plastik terlihat bertebaran di bibir pantai Pulau Koncan, Sibolga. Wilayah ini jadi muara limbah plastik dari hulu. Masyarakat dan pengunjung tempat wisata pun kadang membuang sampah sembarangan.

“Ini jadi tantangan besar untuk semua, terutama pemerintah agar segera meng-upgrade program-program pembangunan yang ramah lingkungan, memberikan anggaran  lebih besar terhadap isu-isu  pengolahan limbah sampah plastik di wilayah mereka.”

Masyarakat dan pemerintah, katanya, harus meninggalkan program angkut dan buang limbah sampah plastik ke tempat pembuangan akhir. Upaya menyediakan mesin pengolahan limbah plastik agar bisa terdaur ulang.

Damai bilang, masyarakat sudah sadar bahaya plastik. Langkah selanjutnya, mendorong tanggung jawab semua pihak.

“Semua harus bergerak cepat, tanpa menunggu. Menegakkan aturan, dan membuat regulasi yang dijalankan jadi wajib. Lihat saja bagaimana Singapura bisa tertib,” katanya. 

Langkah lain, katanya, menjaga keseimbangan plastik di konsumen. Pemerintah dan produsen harus bisa mengolah kembali plastik-plastik  itu. Idealnya, 900 kg dari satu ton plastik di tangan konsumen terolah kembali.

Selama ini, pencemaran terjadi karena plastik terbuang dan tidak kembali ke produsen. “Kalau ini berjalan dengan seimbang, pabrikan tidak akan mencari lagi bahan baru (untuk plastik).” 

Sampah memenuhi perairan pantai barat Sibolga dan Tapanuli Tengah. foto: BSY

*****

Mikroplastik dalam Tubuh Manusia Bisa Pengaruhi Fungsi Otak

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|