- Penyakit darah mewabah dan menyerang tanaman pisang di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) dalam beberapa waktu belakangan ini. Pisang-pisang yang terdampak didominasi jenis pisang gapok (kepok) alias pisang medan (Musa acuminata balbisinia cola).
- Alexius Samailepped, Kepala Desa Maileppet mengatakan, serangan wabah ini membuat para petani kelimpungan karena pisang mereka terancam gagal panen. Para petani sejatinya sudah melakukan berbagai cara agar serangan bakteri ini tak menyebar. Namun, sejauh ini belum efektif. Total ada sekitar 180 hektar lahan pisang terdampak penyakit ini.
- Mairawita, Ahli Entomologi, Taksonomi dan Penyakit Tanaman Universitas Andalas mengatakan, penyakit ini diduga disebabkan bakteri ralstonia yang menyebar melalui serangga penyerbuk dan penggerek bonggol. Ia sarankan penggantian tanaman untuk memutus rantai penyebaran karena bakteri dapat bertahan hingga 30 tahun.
- Rahmadi, pendamping petani di Siberut menyarankan proteksi wilayah guna menghindari sebaran penyakit ini. Karena itu, ia meminta pemerintah segera menerbitkan surat edaran dan mengkoordinasi dengan melibatkan aparat tingkat desa dan kecamatan.
Wabah penyakit darah menyerang hamparan tanaman pisang milik petani sejumlah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) dalam beberapa waktu belakangan ini. Pisang-pisang yang terdampak dominan jenis pisang gepok atau kepok, alias pisang Medan (Musa acuminata balbisinia cola).
Alexius Samailepped, Kepala Desa Maileppet mengatakan, serangan wabah ini membuat para petani kelimpungan. Sebabnya, pisang-pisang yang sudah berbuah, rusak dan tak bisa panen. “Rusak semua kena bakteri ini,” katanya.
Para petani sudah melakukan berbagai cara agar serangan bakteri ini tak menyebar. Termasuk, menginformasikan kepada Dinas Pertania. Sejauh ini belum efektif. Alih-alih berhenti, serangan wabah terus menyebar dan menghabiskan ratusan hektar tanaman pisang.
Dampak wabah ini menimbulkan kerugian yang tak sedikit karena hasil panen menurun drastis. Alexius bilang, sebelumnya, setiap dua minggu sekali para petani bisa memanen sampai satu ton pisang. Kini, turun separuh lebih karena hanya bisa membawa pulang 100-200 kilogram.
Ada 180 warga desanya yang menggantungkan hidup dari berkebun pisang dengan luasan 187 hektar. Selain desanya, serangan wabah ini menyebar hingga ke desa-desa lain, seperti Madobag, Muara Siberut, Matotonan dan juga Muntei.
Paulus, Kepala Desa Muntei mengatakan, penyakit pisang yang melanda wilayahnya tidak terjadi secara serentak. Sudah menyebar, terutama di pusat desa. “Gejala awal mulai dari pucuk daun menguning, selanjutnya menyerang batang, bahkan ke buah, baik itu yang masih muda atau pun sudah siap panen.”
Mengantisipasi tak makin meluas, para petani menebang pohon yang terkena wabah dan membakarnya. Pisang-pisang di Muntei yang terserang adalah pisang Medan. “Yang jelas pendapatan petani kita menurun,” katanya, tanpa menyebut pasti angka kerugian dimaksud.

Mairawita, Ahli Entomologi, Taksonomi dan Penyakit Tanaman Universitas Andalas mengatakan, ada dua jenis serangga yang menularkan penyakit ini hingga menyebarkan dengan cepat. Yakni, serangga penyerbuk bunga dan serangga penggerek bonggol dari pohon pisang yang lebih dulu tertular.
Selain itu, penggunaan alat potong yang tidak steril juga turut memicu persebaran penyakit ini. Karena itu, sangat penting sebelum menebang, parang yang digunakan sterilkan dengan menyemprotkan disinfektan. “Jadi ada banyak faktor memang. Biasanya, gejalanya ditandai dengan daun layu berwarna kuning,” katanya.
Serangan penyakit darah ini bukan pertama kali. Pada 2008, fenomena serupa pernah terjadi dan melanda hampir di semua daerah penghasil pisang di Sumbar, seperti Tanah Datar, Bukittinggi, Agam, Solok dan beberapa daerah lain.
“Pada waktu itu yang kami anjurkan adalah mengganti tanaman pisang dengan tanaman lain seperti ubi jalar karena kemampuan bakteri Pseudomonas bisa bertahan di tanah selama 30 tahun. Jadi perlu waktu yang panjang untuk memperbaikinya,” katanya.
Sebelunnya, Meirawati Dkk., juga sempat riset soal serangan wabah ini. Dalam penelitiannya, Meirawati sebut serangan penyakit darah (Blood disease bacteria (BDB)) disebabkan Ralstonia Solanacearum Phylotipe IV, penyebab utama kehilangan hasil pisang di Indonesia.
Penelitian di Tabek Panjang dan Pasar Usang itu menemukan, serangga berperan penting dalam penyebaran penyakit darah bakteri pada tanaman pisang di Sumbar. Serangga yang diomaksud berasosiasi dari 4 ordo yaitu Hymenoptera seperti lebah dan semut, Diptera seperti lalat, Lepidoptera seperti kupu-kupu dan Hemiptera seperti kutu daun.
Jenis yang paling banyak adalah lalat 38,46% lalu jenis lebah. Jenis lebah yang sering ditemukan adalah Trigona spp dan lalat Drosophila sp. Lebah Trigona spp atau galo-galo sering terlihat mengunjungi bunga pisang.

Kata Dinas Pertanian
Hati Samahura, Kepala Dinas Pertanian Kepulauan Mentawai mengakui, ada serangan penyakit darah melanda kebun pisang warga. Penyakit ini bisa menyebabkan buah pisang mengecil dan layu.
Dia sudah menginstruksikan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk menyampaikan pencegahan berupa sanitasi tanaman. “Jadi, tanaman yang terserang dipotong atau ditumbangkan atau dicincang lalu disiram minyak tanah dan dibakar. Selain itu, juga mensterilkan peralatan yang digunakan,” katanya.
Sejauh ini, mereka belum mengetahui berapa total luasan tanaman pisang terdampak wabah ini. Berdasar informasi yang mereka peroleh, serangan penyakit ini menyebar hingga Siberut Selatan, Siberut Barat Daya dan Kecamatan Pagai Selatan.
Dia menyarankan, petani menyemprotkan pestisida trichoderma pada bagian pisang yang terindikasi terkena penyakit.
Mairawita melihat gambar yang beredar, pisang-pisang itu kemungkinan terkena bakteri ralstonia. Batang pisang yang terserang akan rusak seluruhnya. Guna menghindari penyebaran secara massif, dia pun menyarankan penanganan secara cepat.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Mentawai, paling banyak memproduksi pisang, terutama di Siberut. Pada 2023, produksi pisang capai 42.620 kuintal, berasal dari Siberut Selatan 4.712 kuintal, Siberut Utara 1684 kuintal, Siberut Barat Daya 1.060 kuintal, Siberut Barat 472 kuintal dan Siberut Tengah 84 kuintal.
Rahmadi, pendamping petani di Siberut menyarankan, proteksi wilayah guna menghindari sebaran penyakit ini. “Agar serangan tidak semakin meluas. Sementara pisang yang sudah terserang dilakukan eradikasi atau pemusnahan agar sumber penyakit juga musnah.”
Dia mendorong, pemerintah segera menerbitkan surat edaran dan mengkoordinasi dengan melibatkan aparat tingkat desa dan kecamatan. “Tindakan ini penting karena pisang menjadi salah satu komoditas yang jadi sumber penghasilan masyarakat.”
***