- Namanya ritual semah antau dan nagoghi. Ia merupakan tradisi dalam Masyarakat Adat Kenegerian Malako Kociak, asal muasal Desa Tanjung Beringin, di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kampar, Riau. Kenegerian ini berada dalam Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.
- Sederhananya, semah antau dan nagoghi merupakan tradisi Masyarakat Adat Malako Kociak menghormati harimau di hutan dan buaya di sungai. Ia sekaligus bentuk permohonan maaf masyarakat adat pada alam atas pelanggaran terhadap pantang larang.
- Agustinus Wijayanto, Direktur Program Integrated Tiger Habitat Conservation Programme (ITHCP) mengatakan, semah antau dan nagoghi menggugah kembali muatan-muatan adat tentang isu lingkungan. Masyarakat Adat Malako Kociak punya perhatian kuat, melalui cara mereka melestarikan hutan, sungai dan air.
- Lasti Fardilla Noor, Knowledge Management Working Group ICCAs Indonesia (WGII), berpendapat, semah antau dan nagoghi jadi simbol harmoni antara manusia dan alam. Kepercayaan lokal menjadi landasan pengaturan ekologi.
Namanya ritual semah antau dan nagoghi. Ia merupakan tradisi dalam Masyarakat Adat Kenegerian Malako Kociak, asal muasal Desa Tanjung Beringin, di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kampar, Riau. Kenegerian ini berada dalam Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.
“Tujuan dan maksud utama semah antau dan nagoghi, untuk pembersihan atas tingkah laku salah anak kemenakan melanggar adat ataupun agama. Meminta pada Tuhan supaya kampung aman, damai dan tidak terjadi hal-hal tidak diingini,” kata Datuk Pucuk, Ajismanto, Desember lalu.
Ada ritual potong kerbau. Sebelum Raja Gunung Sahilan datang, kerbau sudah bersih. Siap bagi-bagi ke masyarakat lima suku, Domo Bukit, Domo Bawah, Putopang, Caniago dan Melayu.
Kerajaan Gunung Sahilan berpusat di Desa Gunung Sahilan, Kecamatan Gunung Sahilan. Saat ini, T Muhammad Nizar, raja ke- 12. Kehadiran raja sangat penting dalam proses semah antau dan nagoghi di Malako Kociak.
Raja pun tiba sekitar pukul 13.00 siang bersama permaisuri, datuk besar, wazir atau sekretaris kerajaan serta rombongan. Sebelum, menapaki beberapa anak tangga, wazir membacakan aturan selama raja berada di Malako Kociak. Salah satunya, tak boleh memakai pakaian berwarna kuning, selain raja sendiri.
Silat dan taburan beras kuning menyambut raja. Musik dari calempong, gendang dan oguong dengan empat perempuan mengiringi prosesi itu.
Aflozen, pemain musik tradisional Malako Kociak, mengatakan, bunyi-bunyian menyambut raja adalah irama arakan.
Dari dermaga, raja beranjak ke rumah panjang batiang papan milik Masyarakat Suku Domo Bawah.
Seorang perempuan adat berlutut di depan pintu dengan merapatkan dua telapak tangan, membacakan pisomba atau ucapan selamat datang dalam bahas lokal.
Puncak kegiatan semah antau dan nagoghi 15 Desember lalu. Datuk Pucuk dan Senaro, dua pimpinan masing-masing Suku Domo Bukit dan Domo Bawah, memerintahkan dubalang menurunkan dan meletakkan kepala kerbau, sehari sebelumnyamke haluan piyau berhias kajang atau tenda berselimut kain.
Raja dan para tokoh adat mengawali tradisi dengan berkumpul dan musyawarah singkat di rumah Mak Zainab, generasi ke 11 Datuk Pagar, makam keramat yang akan mereka ziarahi.
Musik tradisional selama pertemuan singkat di kediaman Mak Zainab yang sudah lanjut usia. Aflozen dan para perempuan adat masih berperan dalam tugas ini. Kali ini, memainkan irama canang bunian hingga ziarah ke makam.
Sebelum raja, para datuk dan ninik mamak beranjak ke makam, rombongan dilepas dengan silat bungo oleh dua dubalang. Dubalang berperan sebagai pengawal datuk dan ninik mamak. Tiap suku memiliki seorang dubalang.
Ada dua tempat diziarahi. Terlebih dahulu ke makam Datuk Darah Putih. Dia dikenal sakti juga sebagai dukun kampung semasa hidupnya. Selanjutnya, ke makam Datuk Pagar. Juga diyakini sakti karena kemampuan berkomunikasi dengan harimau hingga dapat melindungi masyarakat adat dari interaksi negatif terhadap satwa itu.
“Datuk Darah Putih beda dari manusia lain karena darahnya putih. Kelebihannya, sebagai dukun kampung. Datuk Pagar, bisa bicara dan bertemu datuk belang (harimau). Sebab itu, dia beramanat, ketika meninggal minta dijauhkan kuburannya dari pemukiman masyarakat,” kata Ajismanto, Datuk Pucuk.
Letak makam Datuk Pagar sekitar 300 meter dari makam Datuk Darah Putih. Untuk mencapainya mesti menaiki 70 anak tangga karena posisi pada lereng bukit.
Menurut Datuk Ajismanto, almarhum Datuk Pagar memang minta dimakamkan jauh dari perkampungan supaya Datuk Belang (harimau) tidak masuk ke pemukiman masyarakat.
Datuk Darah Putih dan Datuk Pagar juga disebut sebagai nenek moyang masyarakat adat yang pertama kali membuka kampung Malako Kociak. Istilah lokal, menyebut keduanya berjasa dalam concang latih nagoghi.
Proses mendoa sedikit lebih lama di makam Datuk Pagar. Pada makam ini, ninik mamak meninggalkan sepiring jantung dan hati kerbau yang dipotong sehari sebelumnya. Ia dimasak dan dibungkus dengan daun pisang berbentuk kerucut.

Ziarah ke makam dua datuk merupakan semah nagoghi. Datuk Pucuk Ajismanto, mengatakan tradisi itu sebagai wujud permohonan maaf pada hutan dan seluruh isinya, bila masyarakat berbuat salah. Terutama, ketika mencari nafkah buat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Masyarakat mencari kehidupan, melengkapi ekonomi, masuk hutan ke luar hutan. Kalau seandainya ada kesalahan dari anak kemenakan, kalau tidak dibersihkan atau tidak dimohonkan pada Tuhan, di situ mendatangkan keraguan,” kata Ajismanto.
Semah antau dan nagoghi dilaksanakan secara berurutan dan tidak bisa dipisahkan. Setelah menyelesaikan ziarah, raja dan tokoh adat langsung beranjak ke dermaga. Lima piyau kajang sudah menunggu di bibir sungai.
“Secabik sirih dan satu hisap rokok jadilah,” kata Datuk Senaro, Bakhtiar.
Muara Sungai Tikun, juga dikenal sebagai lokasi perhentian raja. Ceritanya, tiap Raja Gunung Sahilan turun dari kerajaan untuk mengunjungi daerah-daerah kekuasaannya, selalu berhenti di pertigaan sungai itu. Sebab itu, sejarah tidak boleh lewat dan jadi rangkaian perjalanan semah antau.
Tak ada jeda waktu lama dalam persinggahan itu. Selanjutnya, perjalanan menyusuri Sungai Subayang lanjut sampai pada perbatasan Kenegerian Gajah Bertalut. Persis di persimpangan Sungai Mago.
Di sini, akan ada ritual penting, puncak semah antau. Piyau yang Datuk Senaro tumpangi menepi ke tebing. Dari haluan, dia melarungkan kepala kerbau ke dalam sungai.
Masyarakat adat meyakini, pelarungan kepala kerbau sangat sakral. Tulang kepala itu akan mengapung bila titik lokasi dan orang yang memasukkan ke dalam sungai kurang tetap. Peristiwa itu pernah kejadian.
Serupa semah nagoghi, semah antau juga bertujuan agar masyarakat adat tidak mendapat gangguan buaya maupun segala binatang buas ketika beraktivitas di sungai. Mengingat, masyarakat adat Malako Kociak bergantung pada sungai. Mulai urusan mandi, mencuci sampai mencari ikan. Apa lagi, masyarakat kerap mencari ikan terutama menyelam untuk menembak pada malam hari.
Makan bersama di tepi sungai menutup rangkaian semah antau dan nagoghi, di atas daratan berpasir dan berbatu kerikil. Persis di seberang Datuk Senaro melarungkan kepala kerbau, raja dan para tokoh adat berjejer dan menyatu bersama masyarakat. Menikmati hidangan yang dibawa sedari awal.
Datuk Pucuk, Ajismanto dan Datuk Senaro, Bakhtiar, kompak tidak ingin warisan tradisi dari nenek moyang mereka hilang. Apapun kondisinya, semah antau dan nagoghi tetap mereka laksanakan tiap tahun. Baik ada atau tidak ada gangguan di hutan dan sungai.
Meskipun masyarakat adat iuran beli kerbau. Beruntung, beberapa tahun belakangan, pemerintah desa turut mendukung kegiatan ini. Baik fasilitas maupun pendanaan.

Hubungan manusia dan alam
Sederhananya, semah antau dan nagoghi merupakan tradisi Masyarakat Adat Malako Kociak menghormati harimau di hutan dan buaya di sungai. Ia sekaligus bentuk permohonan maaf masyarakat adat pada alam atas pelanggaran terhadap pantang larang.
Agustinus Wijayanto, Direktur Program Integrated Tiger Habitat Conservation Programme (ITHCP) mengatakan, semah antau dan nagoghi menggugah kembali muatan-muatan adat tentang isu lingkungan. Masyarakat Adat Malako Kociak punya perhatian kuat, melalui cara mereka melestarikan hutan, sungai dan air.
“Secara tidak langsung sebenarnya mereka memelihara alam lewat kesenian dan budaya. Semah antau terkait dengan air. Semah nagoghi atau ke makam, mereka terhubung dengan harimau dan masa lalu. Penting anak muda mengingat itu,” katanya.
Sebagai informasi, Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling seluas 141.226,25 hektar merupakan kantong harimau Sumatera di Riau. Kenegerian Malako Kociak berada di tengah-tengah hutan konservasi itu.
Anggi Kemala Rezki, Field Officer Forum HarimauKita, menerangkan populasi harimau Sumatera di Rimbang Baling cenderung tersebar di area jelajah luas dan terfragmentasi dengan tipe habitat hutan primer hingga sekunder. Tergantung pada kesediaan sumber pakan yang memadai dan kondisi lingkungan.
Tradisi semah antau dan nagoghi, katanya, contoh nyata kearifan lokal dapat menjadi landasan kuat dalam upaya konservasi hutan. Masyarakat adat tidak hanya menunjukkan penghormatan terhadap satwa, juga mengakui hak hidup di habitat alaminya.
Tradisi itu, juga menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu bersifat top down (dari atas ke bawah) atau oleh pihak luar. Masyarakat dengan pengetahuan dan pengalaman turun temurun dari nenek moyang, mengembangkan praktik harmonis dengan alam.
“Penghormatan terhadap habitat dengan melarang menebang pohon dan mengubah fungsi hutan, adalah bentuk nyata upaya menjaga habitat harimau. Masyarakat sangat memahami kelestarian hutan sangat penting bagi kelangsungan hidup satwa .”
Tantangan yang mungkin terjadi, perkembangan zaman dengan perubahan nilai hidup dan gaya hidup, tuntutan ekonomi dan budaya luar. Kondisi ini, katanya, bisa menggeser nilai-nilai yang selama ini menjadi dasar dari tradisi semah antau dan nagoghi.
Lasti Fardilla Noor, Knowledge Management Working Group ICCAs Indonesia (WGII), berpendapat, semah antau dan nagoghi jadi simbol harmoni antara manusia dan alam. Kepercayaan lokal menjadi landasan pengaturan ekologi.
“Dalam tradisi ini, ada ungkapan rasa syukur atas ikan-ikan sungai yang dapat mereka panen dan ada makhluk seperti buaya dan harimau yang perlu dihormati. Ini mencerminkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa tunggal, melainkan bagian sejajar dari ekosistem,” kata Asti, sapaan akrab Lasti.
Ritual semah antau dan nagoghi, tak hanya sakral secara spiritual, juga strategis secara ekologis. Pada gilirannya, ia mengatur perilaku kolektif untuk menjaga keseimbangan hutan dan sungai melalui larangan adat yang dipatuhi bersama.
Semah antau dan nagoghi maupun tradisi lain yang mengkoneksikan ekologi dengan manusia, mengajarkan bahwa konservasi terbaik seringkali berasal dari akar budaya.
“Rasa hormat pada alam jadi warisan tak ternilai untuk generasi mendatang.”

*******
Ritual Tolak Bala Suku Bajo Torosiaje: Kearifan Lokal Menolak Bencana