Sedih, Orangutan Kalimantan ini Mati Tersengat Arus Listrik

1 month ago 69
  • Satu individu orangutan kalimantan meregang nyawa tersengat arus listrik di Jalan Tjilik Riwut Km 9, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (31/1/2025).
  • Dalam video berdurasi 4 menit 54 detik yang diterima Mongabay, terlihat satwa dilindungi ini awalnya berada di pohon kelapa. Berikutnya, ia bergerak dan bergelantungan pada kabel listrik.
  • Sepanjang Januari hingga awal Februari 2025, BKSDA Kalteng telah mendapat empat laporan kemunculan orangutan. Terkait kasus kematian orangutan tersengat listrik, baru kali ini terjadi.
  • Di Indonesia, terdapat tiga jenis orangutan yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii), orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).

Satu individu orangutan kalimantan meregang nyawa tersengat arus listrik, di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (31/1/2025).

Dalam video berdurasi 4 menit 54 detik yang diterima Mongabay, terlihat satwa dilindungi ini awalnya berada di pohon kelapa. Berikutnya, ia bergerak dan bergelantungan pada kabel listrik. Namun, arus 20 kilo Volt (kV) dengan sistem distribusi tegangan menengah (TM), membuat satwa ikonik tersebut meregang nyawa dan jatuh.

“Kami ada di lokasi saat itu dan berusaha memberikan pertolongan pertama. Akan tetapi, nyawanya tidak bisa diselamatkan,” terang Junaidi Slamet Wibowo, Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (31/1/2025).

Menurut Junaidi, selanjutnya Pongo pygmaeus wurmbii dibawa tim medis ke klinik Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, untuk dilakukan nekropsi.

“Tujuannya, guna mengetahui penyebab utama kematian tersebut. Proses ini butuh waktu beberapa hari,” jelasnya.

Baca: Deforestasi DAS Muroi Ancam Habitat Orangutan Kalimantan

Orangutan kalimantan ini bergelantungan di kabel listrik dan tersengat arus yang membuat nyaawanya melayang. Foto: Dok. Tangkapan layar warga Palangkaraya

Hasil nekropsi

Bagaimana hasil nekropsi? Nur Furqon Bahmid, Media and Public Relations BOSF, menyatakan hasil pemeriksaan sudah dilakukan dan telah diserahkan ke BKSDA Kalteng.

“Semua informasi dikeluarkan satu pintu dari pihak BKSDA Kalteng. Kami hanya menerima orangutan tersebut untuk dilakukan nekropsi,” jelasnya, Sabtu (8/2/2025).

Nekropsi merupakan pemeriksaan bedah pada satwa yang sudah mati untuk diketahui  penyebab kematiannya, seperti autopsi pada manusia. Proses ini melibatkan analisis organ, jaringan, dan kemungkinan faktor penyebab kematian, seperti penyakit, infeksi, atau cedera.

Junaidi, dihubungi Minggu (9/2/2025), menyatakan hasil nekropsi menunjukkan penyebab kematian orangutan adalah adanya cairan di saluran pernapasan akibat terjatuh, setelah mengalami sengatan listrik.

Terkait luka bakar, terdapat di lengan kiri dan kanan serta meta kartal dan telapak tangan. Temuan signifikan menunjukkan, ada pendarahan di area paru-paru.

“Pembuluh darah di otak terlihat lebih aktif dan terdapat kekakuan pada otot lengan atas. Ada juga cairan yang keluar dari kemaluan.”

Junaidi mengatakan, berdasarkan laporan dokter, umur mamalia besar ini diprediksi 13 tahun dan tanggal kematiannya 31 Januari 2025.

Baca: Studi: Deforestasi Ancaman Serius Kehidupan Orangutan Kalimantan

Laporan kemunculan orangutan

Sebelumnya, diduga kera besar tersebut berasal dari Sungai Rungan. Orangutan sering dilaporkan muncul di kawasan tersebut, terutama saat mencari makan, dengan radius pergerakan 1-5 kilometer.

Sepanjang Januari hingga awal Februari 2025, BKSDA Kalteng telah mendapat empat laporan kemunculan orangutan. Terkait kasus kematian tersengat listrik, baru kali ini terjadi.

“Laporan berupa kemunculan orangutan. Biasanya, orangutan akan kembali lagi ke hutan. Sungai Rungan itu luas,” terang Junaidi.

Sungai Rungan atau Sungai Dayak Kecil merupakan sungai di Kalimantan Tengah yang merupakan anak Sungai Kahayan. Panjangnya 86,25 km. Sungai ini melintasi Kota Palangkaraya dan Kabupaten Gunung Mas.

Terkait kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Rungan, Janang Firman Palanungkai, Manajer Advokasi, Kajian, dan Kampanye Walhi Kalteng, menyebut pihaknya belum pernah melakukan identifikasi langsung area tersebut.

Namun, berdasarkan pengalaman riset deforestasi di kawasan DAS Muroi yang mengancam habitat orangutan, diperkirakan sumber pakan orangutan biasanya berkurang.

“Ketika orangutan masuk pemukiman, itu bisa menjadi indikasi sumber pakannya menipis. Tentunya, ini bisa disebabkan tutupan hutan yang mulai berkurang,” paparnya.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Orangutan Kalimantan

Dua anak orangutan berada di batang kayu di area Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Kalimantan Tengah. Foto: BOSF/Indrayana

Di Indonesia, terdapat tiga jenis orangutan yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii), orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).

Orangutan kalimantan dikelompokkan menjadi tiga anak jenis. Pongo pygmaeus pygmaeus berada di utara Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) hingga ke timur laut Sarawak (Malaysia). Pongo pygmaeus morio hidup di Sabah (Malaysia) hingga ke selatan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Serta, Pongo pygmaeus wurmbii yang terlihat mulai dari bagian selatan Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) hingga timur Sungai Barito (Kalimantan Tengah).

Dikutip dari Borneo Orangutan Survival Foundation [BOSF] melalui laman orangutan.or.id, saat ini populasi orangutan kalimantan diperkirakan sebesar 57.350 individu. Pada tahun 1973, estimasi populasi orangutan Kalimantan sebanyak 288.500 individu.

Artinya, terjadi penurunan sebanyak 80% dalam waktu kurang dari 50 tahun. Penurunan ini, utamanya disebabkan kehilangan habitat hutan.

Naik Status, Perlindungan Orangutan Kalimantan dan Habitatnya Harus Serius

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|