- Sebuah kolaborasi yang melibatkan peneliti dari berbagai negara termasuk Indonesia, menyajikan temuan baru tentang hutan Kalimantan di masa lalu. Peneliti menggunakan spesimen tanaman rotan yang tersimpan di berbagai museum dan herbarium dunia.
- Mempertimbangkan kembali peran hutan Kalimantan pada masa lampau bagi sumber keanekaragaman hutan hujan tropis Asia, sangat penting dalam memberi arah kebijakan konservasi di pulau ini di era sekarang.
- Ada dua cara sebuah pulau membangun keanekaragaman hayatinya. Melalui imigrasi, yaitu saat spesies datang dari wilayah lain, dan spesiasi yaitu munculnya spesies baru yang terbentuk dari spesies yang sudah ada di wilayah itu sendiri.
- Kalimantan adalah satu-satunya radiator, kawasan yang menghasilkan keanekaragaman spesies baru yang tinggi, yang lalu mendistribusikannya ke kawasan lain.
Sebuah kolaborasi yang melibatkan peneliti dari berbagai negara termasuk Indonesia, menyajikan temuan baru tentang hutan Kalimantan di masa lalu. Peneliti menggunakan spesimen tanaman rotan yang tersimpan di berbagai museum dan herbarium dunia.
Mereka juga menganalisa material yang diambil jauh di bawah permukaan tanah dari eksplorasi minyak di Papua Nugini. Kandungan material itu akhirnya turut membuka tabir rupa vegetasi di masa lalu.
“Pulau tropis Asia, New Guinea, 1.930 meter di bawah tanah. Butiran serbuk sari purba, Dicolpopollis, tertutup rapat oleh miliaran ton batu,” tulis Benedikt Kuhnhauser, mengawali artikel naratif yang ditayangkan Kew Royal Botanic Garden, edisi 13 Maret 2025.
Dia adalah penulis utama laporan kolaborasi peneliti yang dimuat pada Jurnal Science tentang peran pulau-pulau dan evolusi tanaman rotan di hutan hujan tropis Asia. Selain bekerja pada Kew, dia juga berafiliasi pada Universitas Oxford, Inggris.
Saat akhirnya fosil serbuk sari itu terangkat ke permukaan, diketahui masih berkerabat dengan tanaman rotan saat ini. Dari sini, rekonstruksi peran hutan di pulau-pulau Asia dimulai.
Baca: Kantong Semar Berbulu, Spesies Baru dari Kalimantan

Kalimantan adalah pulau ketiga terbesar di dunia yang pernah tertutupi lebatnya hutan hujan. Pulau ini memiliki salah satu hutan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi. Dengan lima belas ribu jenis tumbuhan, enam ribu di antaranya adalah endemik.
Namun, data yang dikumpulkan dari 2001-2023 juga memperlihatkan Kalimantan adalah pulau yang paling banyak kehilangan tutupan pohon di Indonesia.
Mempertimbangkan kembali peran hutan Kalimantan pada masa lampau bagi sumber keanekaragaman hutan hujan tropis Asia, sangat penting dalam memberi arah kebijakan konservasi di pulau ini di era sekarang.
Baca juga: Macan Dahan, Satwa yang Rawan Terdampak Proyek Infrastruktur di Sumatera dan Kalimantan

Pentingnya Pulau Kalimantan
Seorang palinologis (ahli polen) Christoper D. Bates yang bekerja pada sebuah kantor konsultan geologi di Jakarta menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia lalu menghubungi rekannya Robert J. Morley, palinologis di Universitas London, Inggris. Mereka terkejut, yang mereka temukan adalah fosil Dicolpopollis, masih berkerabat dengan tanaman rotan moderen. Hal itu diungkap Benedikt dalam artikelnya.
Fakta menarik lainnya, fosil polen yang mereka temukan usianya lebih tua 20 juta tahun dari fosil polen rotan tertua yang diketahui sebelumnya. Ini memberi waktu dan tambahan data penting bagi rekonstruksi filogenetik tanaman. Temuan spesies baru itu kemudian diberi nama Dicolpopollis cenomanicus dan D. novaguineensis. Dua takson ini hidup di era sekitar 100,5 hingga 93,9 juta tahun lalu dan 93,9 hingga 89,8 juta tahun silam.
Pada saat yang sama, Benedikt sedang berada di Pulau Kalimantan mengumpulkan pohon rotan. Tepatnya di Taman Nasional Bukit Lambir, Sarawak, Malaysia. Dia takjub dengan biodiversitas pulau ini. Hanya kurang dari satu kilometer persegi bisa ditemukan lebih dari seribu spesies pohon, bandingkan dengan hanya sekitar lima ratus spesies untuk seluruh daratan Eropa.
Menurutnya, ada dua cara sebuah pulau membangun keanekaragaman hayatinya. Melalui imigrasi, yaitu saat spesies datang dari wilayah lain, dan spesiasi yaitu munculnya spesies baru yang terbentuk dari spesies yang sudah ada di wilayah itu sendiri.
Berkat kemajuan sekuensing DNA, kini para ahli bisa menyelidiki evolusi garis keturunan sampai pada tingkat spesies.
“Segera, saya mengumpulkan tim internasional yang terdiri dari empat belas ahli yang mengkhususkan diri dalam taksonomi, paleontologi, dan evolusi palem,” ungkap Benedikt. Dari Indonesia, Himmah Rustiami, peneliti Herbarium Bogoriense, BRIN, turut serta dalam kolaborasi ini.

Mengapa tanaman rotan dan kerabatnya (Arecaceae, Calamoideae) jadi model untuk mengetahui asal usul dan penyebaran tanaman di hutan tropis Asia?
Alasannya, tanaman ini ditemukan sangat beragam di Asia. Selain itu, rotan memiliki catatan fosil yang kaya, mencakup pula sejarah geologi suatu wilayah, dikenal secara taksonomi berikut geografisnya, dan penyebarannya tidak tergantung satwa tertentu seperti halnya banyak tanaman tropis lain. Bijinya yang kecil disebarkan aneka burung, primata, mamalia kecil, dan juga reptil.
“Saya menggabungkan pohon kehidupan ini dengan data fosil, termasuk fosil serbuk sari Dicolpopollis purba dari New Guinea, untuk menghasilkan perkiraan kapan pohon palem rotan moderen dan nenek moyangnya muncul,” tulis Benedikt.
Dia juga menambahkan data lokasi tanaman rotan moderen ditemukan, sehingga bisa diketahui asal usulnya, bagaimana tanaman ini menyebar ke penjuru Asia, dan dengan cara apa rotan menjadi sekitar 500 spesies seperti yang dikenal sekarang.
Selanjutnya, tim peneliti membuat klasifikasi peran suatu pulau. Yaitu radiator (spesiasi dan emigrasi tinggi), inkubator (spesiasi tinggi tetapi emigrasi rendah), koridor (spesiasi rendah tetapi emigrasi tinggi), dan akumulator (spesiasi dan emigrasi rendah).
Menurut Benedikt, Kalimantan adalah satu-satunya radiator, kawasan yang menghasilkan keanekaragaman spesies baru yang tinggi, yang lalu mendistribusikannya ke kawasan lain.
“Kalimantan, yang terletak di tengah daerah tropis Asia, juga merupakan satu-satunya pintu gerbang antara kawasan di sebelah barat dan timurnya, yang menjadikannya sebagai kawasan terpenting di daerah tropis Asia dalam membangun keanekaragaman rotan moderen.”

Kalimantan menjadi satu-satunya penghubung antara Indochina, semenanjung Thai-Malay, Sumatera, Jawa di bagian barat. Sementara di timur dengan Palawan, Filipina, dan Sulawesi.
New Guinea, Indochina, dan Sulawesi bertindak sebagai inkubator. Semenanjung Thai-Malay, Sumatera, Jawa, dan Maluku berperan sebagai koridor. Sementara India, Palawan, Filipina, dan Australia diidentifikasi sebagai akumulator.
“Laporan ini akan memberikan dasar yang kuat untuk penelitian tentang biogeografi dan evolusi rotan di Asia tropis, khususnya Indonesia,” kata Himmah Rustiami, dikutip Kew.
Seperti pendapat Benedikt, populasi manusia yang tumbuh pesat, hutan hujan tropis yang menyusut cepat, dan pemahaman baru tentang peran regional dalam menghasilkan keragaman daerah tropis Asia memiliki implikasi bagi konservasi. Klasifikasi regional dapat memberikan informasi berharga dalam menentukan prioritas konservasi.
Rotan Hantu Kalimantan, Spesies Favorit 2024 Pilihan Ilmuwan