- Cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) jenis baru dari Jawa Timur ini dinamakan Cyrtodactylus pecelmadiun yang terinspirasi dari makanan khas pecel madiun.
- Habitatnya berada tidak lebih dari 40 cm dari atas permukaan tanah. Biasanya di berbagai lingkungan yang dekat aktivitas manusia seperti di tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun.
- Spesies ini ditemukan di sekitar Madiun, yaitu di wilayah Maospati dan Mojokerto. Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan
- Cecak jarilengkung pecel madiun, adalah satu dari lima cecak jarilengkung yang telah teridentifikasi habitatnya di Jawa. Yaitu C. belanegara (2024), C. petani (2015), C. semiadii (2014), dan C. marmoratus (1831).
Inilah cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) jenis baru dari Jawa Timur. Nama ilmiahnya Cyrtodactylus pecelmadiun yang terinspirasi dari makanan khas pecel madiun.
Habitatnya berada tidak lebih dari 40 cm dari atas permukaan tanah. Biasanya di berbagai lingkungan yang dekat aktivitas manusia seperti di tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun.
Mengapa ada nama pecel madiun?
Spesies ini ditemukan di sekitar Madiun, yaitu di wilayah Maospati dan Mojokerto.
“Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan,” ungkap Awal Riyanto, peneliti Ahli Madya Herpetologi Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, yang terlibat dalam penelitian.
Cecak jarilengkung pecel madiun, adalah satu dari lima cecak jarilengkung yang telah teridentifikasi habitatnya di Jawa. Yaitu C. belanegara (2024), C. petani (2015), C. semiadii (2014), dan C. marmoratus (1831).
Penemuan ini menambah keragaman spesies cecak jari lengkung di Jawa yang sudah dieksplorasi sejak zaman Belanda.
Baca: Cecak Jarilengkung Papeda, Jenis Baru dari Pulau Obi

Keragaman tersembunyi
Penemuan spesies baru ini berawal saat para peneliti pada Maret dan Mei 2023 mengumpulkan beberapa spesimen cecak jari lengkung dari Maospati, Kabupaten Magetan dan Mojokerto. Spesimen itu lalu dibawa ke Museum Zoologicum Bogorienese, BRIN, Cibinong.
Dari ukuran, cecak jantan ini panjangnya 67,2 mm, sedangkan betina 59 mm (SVL, Snout Vent Length atau dari moncong ke pangkal ekor). Tubuh memanjang, kaki depan relatif pendek, sedangkan kaki belakang lebih panjang dibanding kaki depan. Jari kaki tertekuk, ada cakar di ujung jari. Sebagaimana cecak rumah, ekornya mampu beregenerasi dengan panjang 85,9 mm.
Warna kulit bagian punggung gelap, dari cokelat ke hitam, dengan bintik berwarna kuning. Sementara bagian perut putih terang. Warna kulit demikian diduga membantu cecak ini tersamar dengan lingkungannya yang dekat tanah dan relung gelap yang tidak terpapar sinar matahari.
Secara morfologi, C. pecelmadiun memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibanding C. marmoratus (cecak jari lengkung jawa). Pemeriksaan molekuler yang dilakukan para peneliti menyimpulkan spesies baru ini berbeda dengan C. Petani, kerabat dekatnya.
Baca: Mengenal Cecak Jarilengkung Hamidy, Spesies Baru dari Kalimantan

Mengutip laporan itu, Jawa adalah salah satu daerah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di bumi dan merupakan pulau terbesar ketiga belas di dunia dengan luas sekitar 128 ribu km persegi. Hampir seluruh daratan Pulau Jawa berasal dari gunung berapi. Pulau ini terdiri 38 gunung berapi aktif yang membentuk punggung timur-barat.
“Hal ini menciptakan kondisi geografis dan ekologis pulau yang unik yang telah berkontribusi pada evolusi fauna gekkonid Jawa selama jutaan tahun, dengan banyak spesies menjadi endemik di pulau ini,” tulis laporan penelitian mereka yang dimuat pada Jurnal Zootaxa, 2025.
Baca: Cyrtodactylus jatnai, Spesies Baru di Taman Nasional Bali Barat

Menurut para peneliti, adanya temuan baru menunjukkan potensi keanekaragaman hayati di pulau ini yang belum terhali.
“Kami sangat menganjurkan penggunaan pendekatan taksonomi integratif yang telah membantu mengungkap keanekaragaman Cyrtodactylus yang tersembunyi dari Jawa dan tempat lain,” tulis Awal.
Taksonomi integratif merupakan metode yang memadukan karakteristik morfologi, genetika, ekologi, dan data lain dalam mengklasifikasikan spesies tertentu. Seperti halnya yang dilakukan para peneliti dengan temuan spesies C. pecelmadiun.
Baca juga: Inilah Spesies Cecak Batu Baru di Gunung Muria

Beda dengan cecak rumah
Cecak rumah (Hemidactylus frenatus) amat mudah ditemukan di Indonesia. Selain di rumah, jenis ini kerap terlihat di bangunan, dan gedung yang memakai lampu penerang. Cecak rumah adalah satwa nokturnal, kerap mengincar serangga yang mendekat ke lampu.
Cecak rumah punya kemampuan merayap di dinding vertikal tanpa tergelincir atau terjatuh. Bahkan satwa ini juga bisa merayap dengan posisi punggung menggantung. Semua itu berkat bantalan kakinya yang bisa menempel pada bidang seperti lem.
Ada jutaan rambut yang disebut setae pada permukaan jari kakinya yang melebar. Kondisi ini menghasilkan gaya intermolekuler lemah, disebut gaya Van der Waals, yang kuat menopang berat tubuhnya.

Seperti namanya, Cyrtodactylus yang berarti jarilengkung, cecak ini memiliki ciri khas jari yang ramping dan melengkung, mengandalkan cengkeraman jari dibanding setae. Bentuk kaki yang demikian amat berguna saat diam atau bergerak pada permukaan yang kasar seperti pohon, atau batu.
Persamaannya, kedua satwa ini harus dipertimbangkan sebagai pengendali hama. Cecak rumah dikenal sebagai pemangsa nyamuk dan serangga lainnya. Seekor cecak rumah per harinya bisa makan 63 hingga 109 ekor nyamuk, tergantung kepadatan, menurut penelitian Gwendola K. Tkaczenko dan Adeline C. Fischer di Jurnal Herpetology (2014).
“Cecak bisa jadi pengendali hama penyakit yang merugikan,” jelas riset tersebut.
Begitu pula peran C pecelmadiun yang cukup penting menjaga keseimbangan ekosistem melalui mekanisme rantai makanan. Meskipun, menurut Awal, belum ada penelitian langsung mengenai jenis makanan yang menjadi preferensi spesies baru ini. Diperkirakan, C pecelmadiun pengendali populasi serangga di sekitar permukiman. Untuk itu, sebaiknya kita tidak membersihkan kebun dari gulma menggunakan herbisida.