Udang dan Lobster, Kenali Perbedaan Krustasea Ini

1 week ago 21
  • Udang dan lobster apakah sama? Secara morfologi, lobster berukuran lebih besar dibandingkan udang. Beberapa jenis lobster, dapat tumbuh hingga lebih satu meter.
  • Secara usia, lobster memiliki umur panjang bahkan hingga 100 tahun, sementara udang memiliki umur pendek berkisar satu tahun.
  • Beberapa jenis udang mendiami berbagai macam lingkungan akuatik, termasuk semua lautan (di berbagai kedalaman), danau, sungai air tawar, serta muara pantai. Beberapa spesies bahkan menunjukkan adaptasi semi-terestrial. Sedangkan lobster merupakan penghuni bentik laut yang ditemukan di dasar laut dalam celah atau liang, seringkali di substrat berbatu atau berlumpur.
  • Udang dan lobster memiliki peran ekologis signifikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan, baik di laut maupun air tawar.

Udang dan lobster apakah sama? Meski sama-sama krustasea, namun keduanya memiliki perbedaan.

Krustasea dikutip dari Wikipedia adalah kelompok besar artropoda, yang terdiri sekitar 52.000 spesies yang mencakup lobster, kepiting, udang, dan teritip.

Secara morfologi, lobster berukuran lebih besar dibandingkan udang. Beberapa jenis  lobster, dapat tumbuh hingga lebih satu meter.

Lobster bercapit. Ciri khasnya berupa sepasang cakar besar pada kaki pertama yang asimetris, dengan satu cakar lebih besar dan kuat untuk menghancurkan. Sementara cakar lainnya yang lebih ramping dan tajam untuk memotong dan merobek makanan.

Sementara udang, ukurannya lebih kecil dengan beberapa kaki memiliki bentuk seperti capit. Beberapa spesies udang yang umum di Indonesia, di antaranya adalah udang windu (Penaeus monodon), udang vanname (Litopenaeus vannamei), udang galah (Macrobrachium rosenbergii), dan beberapa jenis udang air tawar seperti udang beras (Caridina gracilirostris) dan udang palemon merah (Palaemon styliferus).

Selain itu, ada juga udang hias seperti (Caridina dennerli) dan (Caridina woltereckae) yang endemik Sulawesi. Untuk lobster, spesies yang sering muncul di Indonesia adalah lobster mutiara (Panulirus ornatus) dan lobster pasir (Panulirus homarus).

Baca: Ada Udang Selingkuh di Papua, Seperti Apa?

Macrobrachium equidens atau udang muara yang masih jarang diteliti. Foto: Rena Tri Hernawati/BRIN

Lobster berumur panjang dibanding udang

Perbedaan signifikan juga terlihat pada pola pertumbuhan dan umur. Lobster menunjukkan pertumbuhan tidak terbatas (indeterminate growth) dan dapat hidup lama atau beberapa dekade, terus berganti kulit (molting) sepanjang hidup mereka.

“Beberapa lobster yang memiliki masa hidup sangat panjang adalah lobster amerika (Homarus americanus) hingga 100 tahun, lima kali lipat masa hidup lobster berduri karibia (Panulirus argus), yang bahkan tidak mencapai 20 tahun,” kata Thomas Matthews, ahli biologi lobster, dikutip dari Live Science.

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti menemukan bahwa lobster memiliki gigi di dalam perutnya yang tetap ada selama proses pergantian kulit. Gigi ini memiliki garis-garis yang mirip cincin pohon dan dapat membantu menentukan usia lobster. Para peneliti sedang menentukan bagaimana garis-garis ini terbentuk, serta apakah suhu air mempengaruhi penampilan atau tingkat pertumbuhannya.

Baca juga: Uniknya Udang Muara, Memijah di Air Payau dan Berkembang di Laut

Udang unta, bisa berada di celah-celah batu di kedalaman antara 5-35 meter. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Sebaliknya, udang umumnya memiliki umur lebih pendek, yakni sekitar satu tahun untuk banyak spesies komersial dan pola pertumbuhannya terbatas. Ukuran pada saat dewasa untuk udang coklat jantan sekitar 4,5 inci dan 6,5 inci untuk betina. Umur maksimum mereka sekitar 1,5 tahun, tetapi hanya sedikit yang hidup lebih dari 1 tahun.

Siklus hidup udang umumnya melibatkan beberapa tahap: telur, nauplius (larva planktonik), protozoea (planktonik), mysis (planktonik), postlarva (menetap di muara), remaja, dan dewasa. Udang betina dapat menghasilkan ratusan ribu hingga jutaan telur, dan perkawinan sering terjadi setelah betina berganti kulit. Bahkan, beberapa spesies udang kerdil menunjukkan perkembangan langsung tanpa tahap larva planktonik.

Sementara siklus hidup lobster, jauh lebih panjang. Betina membawa telur yang dibuahi sekitar 9-12 bulan, kemudian telur menempel di bawah ekornya selama 9-12 bulan lagi. Setelah menetas, larva lobster menghabiskan sekitar 4-6 minggu sebagai plankton, mengalami beberapa kali pergantian kulit sebelum menetap di dasar laut sebagai postlarva.

Lobster betina menghasilkan banyak telur, dari ribuan hingga lebih dari 100.000 telur, tergantung ukurannya. Perkawinan terjadi setelah lobster betina berganti kulit.

Lobster hias dari Papua ini bernama Cherax pulverulentus. Foto: Jiri Patoka/Jurnal Zootaxa Januari 2025

Habitat dan peran ekologis

Perbedaan lain adalah pada habitat. Beberapa jenis udang mendiami berbagai macam lingkungan akuatik, termasuk semua lautan (di berbagai kedalaman), danau, dan sungai air tawar, serta muara pantai. Beberapa spesies bahkan menunjukkan adaptasi semi-terestrial. Contohnya, termasuk udang air tawar dan udang di ventilasi hidrotermal laut dalam yang memiliki adaptasi khusus.

Di sisi lain, lobster bercapit terutama merupakan penghuni bentik laut yang ditemukan di dasar laut dalam celah atau liang, seringkali di substrat berbatu atau berlumpur. Mereka mendiami sebagian besar lautan kecuali wilayah kutub dan perairan yang sangat dalam.

Di balik perbedaan yang sangat mencolok itu, udang dan lobster memiliki peran ekologis yang signifikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan, baik di laut maupun air tawar.

Nelayan menunjukkan lobster jenis mutiara hasil tangkapannya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia

Udang memainkan peran ekologis beragam, baik di ekosistem air tawar maupun air asin. Mereka berfungsi sebagai mangsa penting bagi hewan lebih besar, termasuk ikan dan burung laut. Selain itu, banyak spesies udang berperan sebagai pengurai, memakan detritus dan membantu dalam siklus nutrisi. Beberapa jenis udang juga membantu mengendalikan populasi alga dan dapat memengaruhi komposisi komunitas bentik di habitatnya.

Sedangkan lobster, terutama di ekosistem laut, berperan sebagai predator tingkat menengah yang membantu mengatur populasi organisme lebih kecil seperti kepiting dan bulu babi.

“Para peneliti menemukan bahwa lobster berduri bertindak sebagai “ksatria berbaju besi berduri” yang melindungi terumbu karang dari predator,” tulis para pegiat ikan dan satwa liar Florida.

Aktivitas makan lobster juga membantu mengendalikan pertumbuhan alga di terumbu karang, menjaga keseimbangan ekosistem. Lebih lanjut, beberapa spesies lobster menciptakan tempat berlindung bagi hewan lain melalui liang dan celah yang mereka gali.

Spesies Baru: Lobster Hias Papua yang Berkelana ke Eropa

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|