- Setelah 25 tahun mati suri, budidaya rumput laut di Kolorai, Kabupaten Kepulauan Morotai kembali bangkit. Para petani mendapat bantuan bibit yang merupakan bagian dari program kemitraan sebuah perusahaan.
- Di Kolorai, rumput laut sempat berjaya di era 1990-1999 sebelum akhirnya mati suri imbas dari konflik yang pernah terjadi. Pihak desa memberi bantuan perahu ketinting untuk operasional kelompok tani.
- Lokasi penanaman berada di kawasan konservasi perairan Pulau Rao Tanjung Dehegila yang luasnya mencapai 65.892,42 hektar. Dari total luasan itu, 200 hektar di antaranya dimanfaatkan 130 KK, baik perorangan maupun yang tergabung dalam kelompok nelayan.
- Para petani berharap adanya dukungan dari pemerintah dengan memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas. Sebabnya, para petani kerap kesulitan menghadapi ice-ice, penyakit yang menyababkan bercak pada batang rumput laut dan mengakibatkan gagal panen.
Sekelompok orang mayoritas ibu dan anak itu terlihat sibuk. Tangannya cekatan memilah rumput laut yang akan mereka jadikan bibit. Sufina Ela-ela, sejak pagi sudah kerjakan itu. Lebih 50 kilogram bibit rumput dia kumpulkan. Dia ikat kecil-kecil dan kumpulkan. Nantinya, bibit-bibit itu akan mereka tanam di perairan sekitar Kolorai dan Pulau Dodola, Kabupaten Morotai Selatan, Maluku Utara. “(Bibit) ini diambil dari hasil tanam 40 hari sebelumnya. Itu kalau mau jadi bibit. Sementara untuk jual butuh waktu 2-2,5 bulan,” kata perempuan 65 tahun ini.
Lokasi penanaman berada di kawasan konservasi perairan Pulau Rao Tanjung Dehegila, yang memiliki luas 65.892,42 hektar. Dari luasan itu, 200 hektar sudah terkelola 130 keluarga, baik perorangan maupun tergabung dalam kelompok nelayan.
Zulfikar Lajami, Kepala Desa Kolorai, mengatakan, budidaya rumput laut sebenarnya sudah ada sejak dulu. Sempat berjaya di era 1990-1999, rumput laut Kolorai kemudian mati suri sejak 2000 karena konflik, mulai kembali bangkit awal 2024.
“Kala itu pendapatan warga luar biasa. Tak heran dari usaha ini, bisa membangun rumah beton, biaya pendidikan untuk anak hingga biaya kesehatan,” katanya.
Yusri Lajame, mantan Kades Kolorai benarkan itu. Dia bilang, pendapatan dari usaha rumput laut sejatinya tidak jauh berbeda dengan menangkap ikan. “Kalau nelayan pendapatan harian tapi rumput laut jangka panjang sekira 2,5 bulan sekali panen.”
Di Kolorai, ketika usaha rumput laut bergeliat usaha lain terhenti. Mereka fokus rumput laut. Anak-anak hingga orang dewasa berlomba menanam rumput laut. Saat musim tanam, anak-anak bahkan bisa mendapatkan uang Rp50.000-70.000 sehari.
Hasil panen rumput laut bisa jual dalam dua bentuk kering atau basah. “Kalau langsung diambil perusahaan dihitung harga per tali. Yang lalu, punya saya ada 100 tali. Satu tali Rp100.000 ,” kata Yusri.
Kini, setelah terhenti hampir 25 tahun, budidaya rumput laut kembali bergairah. Tentu, dengan harapan harga jual kering lebih baik dari sebelumnya. “Dulu, cuma Rp16.000 . Mudah-mudahan, sekarang bisa naik jadi Rp20.000,” harapnya.

Pada 2018, Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon sempat mendatangkan bibit dan melakukan pendampingan untuk melatih warga menanam rumput laut dengan membentuk beberapa kelompok. Namun, inisiatif itu gagal sebelum akhirnya kembali bangkit awal tahun lalu.
Bagi masyarakat sekitar Kepulauan Morotai, budidaya rumput laut memang bukan hal baru. Di Pulau Galo-galo, Ngele-ngele dan Pulau Rao, misal, budidaya itu sudah berlangsung sejak turun temurun hingga kini. Bahkan, bibit yang warga tanam di Kolorai, dari perusahaan dari sana.
Zulfikar mengatakan, pemberian bibit rumput laut merupakan bagian kemitraan antara PT Dagang Hasil Laut (DGL) yang sebelumnya telah menjalin memorandum of understanding (MoU) dengan pemerintah setempat. Bibit mereka berikan jenis brokoli hijau dan merah. Untuk mendukung program ini, pemerintah desa pun membantu operasional dengan menyediakan perahu ketinting.
“Sarana ini kita support dari dana desa. Pada 2024, ada anggaran prioritas untuk pangan yang dikembangkan di laut. Maka itu kita serahkan fasilitas ketinting untuk kegiatan masyarakat,” katanya.

Serangan penyakit
Kendati begitu, harapan untuk menghidupkan kembali budidaya rumput laut bukan tanpa tantangan. Menurut mereka, ada satu penyakit yang sampai saat ini menjadi musuh bagi pembudidaya rumput laut. Yakni, penyakit ice ice yang memunculkan bercak pada batang dan ikan predator.
Yusri bilang, seturut pengalamannya, penanaman rumput laut paling baik pada periode November-April. Dia meminta, para nelayan paham betul dengan periodesasai penanaman ini. “Ketika Mei dan seterusnya sudah mulai terganggu. Makanya, petani juga harus tahu,tidak sembarangan menanamnya.”
Dia berharap, pemerintah bisa memberi perhatian dengan menggelar pelatihan peningkatan kapasitas. Harapannya, para petani bisa lebih memahami cara menangani tatkala rumput laut terkena penyakit.
Riset Admi Athirah Dkk., dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan menyebutkan, potensi lahan perikanan budidaya di Morotai mencapai 7.134,30 hektar. Sementara yang dimanfaatkan baru 570,74 hektar, meliputi budidaya rumput laut 389,84 hektar, budidaya kerapu 34.32 hektar, dan budidaya kerang mutiara 4,21 hektar. Ada juga budidaya sea ranching seluas 316,20 hektar. “Lokasi budidaya di Morotai masih sangat luas sehingga sangat memungkinkan untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut,” tulis Admi dalam risetnya.
Admi katakan, faktor oseanografi seperti fisika, kimia, dan dinamika air laut sangat mempengaruhi pertumbuhan dan penyebaran rumput laut, termasuk jenis substratnya. Selama 2010-2014, beberapa desa di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Barat membudidayakan rumput laut, namun tidak berlanjut karena masalah teknis. Seperti kesulitan mendapatkan bibit, serangan ice-ice, hingga harga yang anjlok.
Admi mendorong pentingnya pembinaan dan peningkatan kapasitas dalam hal pemasaran rumput laut. Selain itu, para pembudidaya juga perlu kenal teknologi pasca panen yang lebih baik hingga produk sesuai permintaan pasar, lokal maupun internasional.
“Ini sangat membantu karena memberi nilai tambah yang lebih besar guna menambah pendapatan. Pengembangan kelembagaan juga sangat penting untuk menjamin keberlanjutan usaha rumput laut. Tentu dengan memperhatikan manajemen yang transparan, komitmen tinggi antara pihak yang bermitra. Perlu pendampingan dengan ahli di bidangnya dan konsolidasi antar kelompok nelayan.”
*****