- Lemang menjadi kuliner wajib yang disajikan di rumah sejumlah Suku Melayu di Sumatera Selatan, saat Ramadan dan Idul Fitri. Kuliner yang terbuat dari beras ketan ini dimasak dengan cara dibakar dalam bambu. Di Sumatera Selatan, ada beberapa jenis lemang yang disajikan seperti lemang durian maupun lemang manis.
- Lemang merupakan simbol keluarga atau kelompok masyarakat yang memiliki kedaulatan Sebab, beras ketan yang digunakan adalah varietas lokal, yang disebut pulut.
- Di Sumatera, makanan lemang dikenal masyarakat dari Aceh hingga Lampung. Di Aceh disebut leumang bambu, di Sumatera Utara dikenal lemangg durian, di Sumatra Barat lemang dimakan bersama tapai ketan hitam, dan di Bengkulu dikenal lemang tapai.
- Berdasarkan bukti arkeologi, beras sudah dikonsumsi masyarakat yang menetap di sekitar pusat Kedatuan Sriwijaya, sekitar abad ke-9 hingga 12 Masehi.
Lemang menjadi kuliner wajib yang disajikan di rumah sejumlah Suku Melayu di Sumatera Selatan, saat Ramadan dan Idul Fitri. Di Sumatera Selatan, ada beberapa jenis lemang yang disajikan seperti lemang durian maupun lemang manis.
Lemang itu dimasak dengan dibakar. Caranya, bahan lemang dibungkus daun pisang kemudian dimasukan ke dalam satu ruas bambu, yang kemudian dibakar dengan bara api.
“Di sini, bahan lemang berupa beras ketan, santan kelapa, dan garam. Memang ada yang mencampurnya dengan pisang atau durian. Kalau lemang asli, dimakan dengan madu, air nira, atau gula merah cair,” kata Pauzan Septiawan, warga Desa Tanjung Tebat, Kecamatan Tanjung Tebat, Kabupaten Lahat, Selasa (18/3/2025).
Selain dikonsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri, kuliner tradisional ini juga disajikan dalam berbagai tradisi masyarakat Suku Besemah di Kabupaten Lahat. Sebut saja sedekah bumi dan hajatan seperti perkawinan, maupun khitanan.
“Lemang itu semacam simbol keluarga atau kelompok masyarakat yang memiliki kedaulatan pangan. Hidup layak dan makmur karena melimpahnya hasil alam,” kata Pauzan yang juga dikenal sebagai penyair.
Sebab, beras ketan yang digunakan adalah varietas lokal, yang disebut pulut. “Jadi, tradisi ini secara tidak langsung melestarikan padi lokal. Setiap keluarga akhirnya wajib memiliki sawah, dan menanam pulut,” katanya.
Baca: Beras Aruk, Tercipta Saat Jepang Menguasai Pulau Nangka

Masyarakat Suku Musi di Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), setiap Ramadan menggelar tradisi masak lemang bersama yang dinamakan “melemang”.
“Semacam wujud syukur sekaligus ajang silahturahmi keluarga yang mudik lebaran,” kata Azizah (48), Senin (17/3/2025).
Ada dua rasa lemang yang biasa dimasak. Pertama, lemang beno, yang rasanya gemuk. Bahannya beras ketan, santan kelapa, dan garam. Kedua, lemang pisang, yang bahannya beras ketan, santan kelapa, dan pisang.
Kalau lemang pisang langsung dimakan, sementara lemang beno menggunakan cecelan bernama nonoman. Bahannya dari santan kelapa, gula aren, dan kuning telur, yang dimasak hinggal kental.
Bagi masyarakat Suku Semende yang menyebar di Kabupaten Muara Enim, Ogan Komering Ulu Selatan, dan beberapa wilayah di Bengku, lemang juga merupakan penganan yang terhubung hari perayaan dan lainnya.
Saat Ramadan digelar tradisi Ngantar Lemang, yakni memberikan takjil atau makanan untuk buka puasa bersama yang dilakukan suami isteri kepada orang tua dan mertua. Tapi, bukan hanya lemang yang diantarkan, juga makanan atau lauk pauk lainnya.
Saat pulang, orang tua atau mertua akan membalasnya dengan memberikan perlengkapan rumah tangga, seperti tikar, ambal, piring, gelas, periuk, kuali, dan panci.
Baca: Asida, Bulan Ramadan, dan Jejak Peradaban Maritim di Nusantara

Beras ketan
Sementara Suku Musi di Desa Kertayu, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, setiap tahun atau sehabis panen padi, menggelar sedekah lemang gemuk dan manis. Hanya sebagian warga menikmatinya dengan masakan opor ayam, bukan hanya gula aren.
“Setiap Ramadan dan Idul Fitri, kami masak lemang. Hukumnya wajib,” kata Abdul Gafur [42], warga Desa Kertayu.
Lemang merupakan penganan khas masyarakat Melayu di Asia Tenggara. Lemang selalu disajikan dalam perayaan hari besar atau suci, termasuk selama Ramadan dan Idul Fitri. Di Sumatera, masakan lemang dikenal masyarakat dari Aceh hingga Lampung.
Di Aceh disebut leumang bambu, yang terbuat dari beras ketan, santan kelapa, dan santan. Di Sumatera Utara dikenal lemangg durian. Di Sumatra Barat, lemang dimakan bersama tapai ketan hitam, atau dengan opor ayam maupun rendang.
Di Bengkulu dikenal lemang tapai. Lemang dibuat dari beras ketan yang dicampur bawang putih dan kemiri. Lemang ini dikonsumsi bersama tapai beras ketan hitam.
Di Kalimantan dan Malaysia, juga dikenal tradisi lemang. Selama Ramadan dan Idul Fitri, sejumlah masyarakat di Malaysia juga mengonsumsi lemang.
Baca juga: Suku Semende: Sawah Itu Seperti Manusia, Butuh Waktu Istirahat Tanam

Padi lokal Sumatera Selatan
Keberadaan penganan lemang merupakan bukti jika masyarakat Melayu di Sumatera Selatan sudah mengonsumsi beras sudah ratusan tahun. Sebab, beras ketan yang digunakan adalah beras lokal, yang disebut pulut.
Di sawah maupun di talang, pulut ini ditanam bersama jenis padi lokal lainnya. Misalnya Suku Musi mengenal padi pulut (beras ketan), padi kumpal bawah, padi puyuh, padi kure, padi alus, padi abang (beras merah), padi puring, padi telok ikan, padi arang (beras hitam), padi serai putih, padi seni, padi ketumbar, padi ketan, padi ketan hitam, padi arang, padi paing kancil, padi kumpai, dan padi selasi.
Sementara Suku Semende dan Suku Besemah juga mengenal padi lokal, yakni jamba tewas, urik, pulut.
Baca: Di Sumatera Selatan, Padi Sudah Ditanam Sejak Masa Kedatuan Sriwijaya

Dikutip dari buku “Morfologi dan Molekuler Padi Lokal Sumatera Selatan” yang ditulis Laila Hanum dan kawan-kawan [2018], tercatat sekitar 27 varietas padi lokal di sejumlah wilayah Sumatera Selatan [Hanum et al, 2015].
Varietas tersebut tersebar di Kabupaten Ogan Ilir [OI], Ogan Komering Ilir [OKI], Banyuasin, Musi Rawas, dan Muara Enim. Sebut saja padi pegaga, padi talang, padi sanapi, padi ketan item, padi ketan putih, dan padi ketan abang.
Beragam jenis padi itu memiliki cara pengelolaan. Beberapa beras yang dikonsumsi untuk makan sehari-hari, ada yang dibuat menjadi olahan makanan, seperti lemang, tapai ketan, dan kue seperti kue gunjing dan daun lumay bawak gulai.
Berdasarkan bukti arkeologi, beras sudah dikonsumsi masyarakat yang menetap di sekitar pusat Kedatuan Sriwijaya, abad ke-9 hingga 12 M.
Bukti tersebut berupa temuan sekam padi pada batu bata yang digunakan untuk Percandian Bumiayu [Hindu-Buddha], yang berada di Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [PALI], Sumatera Selatan.
Retno Purwanti, arkeolog yang melakukan penelitian di kompleks Percandian Bumiayu pada 1993, 1996 dan 2000-an, menjelaskan percandian seluas 187 hektar tersebut memiliki 13 gundukan tanah yang diduga berisi struktur batu bata sisa bangunan kuno [candi].
Gundukan tanah yang sudah dibuka itu merupakan lima candi, yakni Candi 1, Candi 2, Candi 3, Candi 5 dan Candi 8. “Percandian Bumiayu diperkirakan dibangun dari abad ke-9 hingga 14 M,” kata Retno, awal Juli 2024 lalu.
Saat ini, sejumlah kelompok masyarakat yang menetap di Sumatera Selatan, tetap menanam padi lokal.