- Tidak banyak spesies serangga yang menghabiskan waktunya hanya untuk menggulung, menggelindingkan, lalu membenamkan kotorannya, seperti yang dilakukan kumbang kotoran [Coleoptera: Scarabaeidae].
- Kebiasaan unik ini ternyata memiliki peran siginifikan dalam menyehatkan ekosistem hutan, termasuk mempercepat dekomposisi kotoran dan meningkatkan siklus nutrisi tanah.
- Kumbang kotoran juga memainkan peran penting dalam penyebaran benih sekunder. Jarak maksimum yang tercatat untuk bola induk kumbang kotoran [yang diduga berisi benih] adalah 10-15 meter.
- Namun, segudang layanan ekosistem penting yang diberikan oleh kumbang kotoran kini terhambat dan terancam degradasi hutan, sehingga kemampuan alam untuk membersihkan diri akan semakin terganggu.
Brown adalah sosok kumbang kotoran [Coleoptera: Scarabaeidae] paling terkenal dari sekitar 7.000 spesies yang ada di dunia. Ia merupakan karakter unik sekaligus aneh dalam serial film kartun komedi terkenal “Larva”.
Aktivitas menggulung, menggelindingkan, lalu membenamkan kotoran yang dilakukannya mungkin terlihat sia-sia bagi kita, namun nyatanya memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan ekosistem hutan. Mereka adalah “petugas kebersihan” handal.
“Dengan perilaku makan dan reproduksi yang dilakukan di sekitar tinja, maka kumbang kotoran sangat membantu menyebarkan dan menguraikan tinja sehingga tidak menumpuk di suatu tempat,” jelas hasil riset Shahabuddin dan kolega [2005].
Lebih lanjut, saat kumbang ini mengubur kotoran, mereka menyuburkan dan mengaerasi tanah, serta mempercepat daur ulang nutrisi. Ini membuat tanah lebih kaya nutrisi seperti nitrogen, fosfor, dan kalsium. Selain itu, aktivitas mereka meningkatkan bahan organik tanah di hutan.
Dalam dunia pertanian, kumbang kotoran alias Dung Beetle juga membantu menjaga padang rumput tetap sehat. Kotoran yang dibiarkan di permukaan, dapat merusak rumput dan membuatnya rentan terjangkit parasit yang kurang disukai hewan ternak.
“Dengan mengubur kotoran, kumbang mencegah masalah ini dan menjaga padang rumput dan hutan tetap produktif.”
Nichols dan kolega [2008], pernah merangkum sejumlah kontribusi penting kumbang kotoran. Termasuk, peningkatan perannya dalam mengendalikan parasit, yang sangat berguna dalam ekosistem pertanian dan perternakan.
Dijelaskannya, aktivitas makan dan bersarang mereka mengurangi jumlah lalat hematofag [lalat pengisap darah] dan detritivora [pemakan bangkai], serta parasit seperti cacing dan protozoa.
“Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kumbang kotoran secara signifikan mengurangi jumlah larva parasit pada kotoran hewan ternak. Bahkan, lebih efektif dibanding beberapa metode pengendalian lainnya. Namun, keberhasilan pengendalian populasi lalat lebih efektif ketika seluruh komunitas kumbang kotoran hadir, bukan hanya satu spesies,” jelasnya.
Baca: Trilobita, Kumbang Aneh Penghuni Hutan Pulau Bangka

Mengutip artikel Manning dan kolega [2021], kumbang kotoran dibagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan kebiasaan makan dan bersarang.
Pertama, kelompok “penghuni” [telekoprid atau dwellers] yang langsung menetap di tumpukan kotoran, berkembang biak dan membesarkan larva di sana.
Kedua, “pembuat terowongan” [parakoprid atau tunnelers] yang menggali terowongan di bawah kotoran, menyeret potongan kotoran untuk dijadikan bola induk, dan bersaing untuk mendapatkan pasangan.
Ketiga, “penggulung” [endokoprid atau rollers] yang membentuk bola kotoran dan menggulingkan ke tempat aman untuk dikubur, dan larva berkembang di dalam bola tersebut.
“Mereka memiliki banyak peran ekologis penting dalam ekosistem alam dan pertanian, yang dapat membantu kita lebih memahami tentang kesehatan ekosistem,” tulis Manning dan kolega.
Baca: Kepik Emas, Kumbang Imut Indah Nan Mempesona

Kumbang sang penebar benih
Kumbang kotoran memainkan peran penting sebagai penebar benih sekunder, sebuah proses krusial regenerasi tanaman di ekosistem tropis. Meskipun benih dalam kotoran awalnya hanya kontaminan bagi kumbang, namun aktivitas mereka mengubur kotoran untuk sarang larva sangat penting.
Proses ini, baik secara vertikal maupun horizontal, membantu benih terhindar dari pemangsa, penyakit, dan kondisi tidak menguntungkan, sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan.
“Pembersihan benih selama pembuatan bola induk dapat mengurangi kemungkinan pemangsaan hewan pengerat dengan mengurangi aroma kotoran, meskipun dampak ini masih spekulatif,” tulis Nichols dan kolega.
Masih penelitian yang sama, jarak maksimum yang tercatat untuk bola induk kumbang kotoran [yang diduga berisi benih] adalah hingga 15 meter di Afrotropis dan 10,6 m di Neotropis.
Namun, peran kumbang kotoran dalam penyebaran benih di luar Neotropis, seperti di savana dan hutan Dipterocarpa [termasuk di Indonesia], serta dampaknya pada penyebaran spesies tanaman invasif, masih perlu dieksplorasi.
“Meskipun kumbang kotoran bukan satu-satunya. Cacing tanah dan semut juga berkontribusi sebagai penebaran benih.”
Penelitian Shahabuddin dan kolega menjelaskan, kumbang kotoran berperan melindungi “bank biji”, sehingga turut menjaga regenerasi hutan. Namun, penguburan terlalu dalam dapat menghambat perkecambahan yang membutuhkan cahaya.
“Sementara penguburan cukup dalam dapat melindungi benih dari pemangsa.”
Baca : Rahasia Kumbang Besi yang Tidak Terluka Meski Disakiti

Kumbang sebagai penjaga ekosistem hutan
Kumbang kotoran telah diakui sebagai spesies kunci bagi ekosistem hutan tropis, karena segudang layanan lingkungannya.
“Tanpanya, kemampuan alam untuk membersihkan diri akan sangat terganggu, seperti dekomposisi kotoran melambat, siklus nutrisi terganggu, dan infiltrasi air berkurang,” tulis Torabian dan kolega [2024].
Hal ini diperkuat riset S. Shahabuddin, [2011], yang menyoroti dampak perubahan penggunaan lahan terhadap fungsi ekosistem kumbang kotoran di wilayah Wallacea, Sulawesi, Indonesia.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi ekosistem kumbang kotoran, terutama aktivitas penguburan kotoran, sangat terganggu oleh perubahan penggunaan lahan dari hutan alami ke area pertanian terbuka.”
Baca juga: Apa Pentingnya Kumbang bagi Ekosistem Lingkungan?

Hasil uji coba menunjukkan, kehadiran kumbang kotoran mampu meningkatkan sekitar 53 persen dari total kotoran yang dihilangkan. Mengurangi sekitar 83 persen populasi lalat dan 63 persen jumlah spesies lalat.
“Hal ini menunjukkan kontribusi yang jelas dari kumbang kotoran dalam ekosistem kita,” tulis S. Shahabuddin.
Selain itu, kumbang kotoran juga diketahui memiliki interaksi kuat dengan sebagian besar mamalia hutan. Hal ini berkaitan dengan pemanfaatan kotoran oleh kumbang yang berasal dari mamalia.
Dengan demikian, jika kita melihat beberapa spesies kumbang kotoran menghilang dari hutan, ini menunjukkan mamalia hutan mungkin juga menghilang.
“Penurunan global kumbang kotoran, khususnya dalam 30 tahun terakhir, telah didokumentasikan yang menyoroti pentingnya pemulihan spesies ini,” tegas Torabian.
Referensi:
Manning, P., Ong, X. R., & Slade, E. M. (2021). Dung Beetles Help Keep Ecosystems Healthy. Frontiers for Young Minds, 9.
Nichols, E., Spector, S., Louzada, J., Larsen, T., Amezquita, S., & Favila, M. E. (2008). Ecological functions and ecosystem services provided by Scarabaeinae dung beetles. Biological Conservation, 141(6), 1461–1474. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.biocon.2008.04.011
Shahabuddin, H. P., Noerdjito, W. A., & Manuwoto, S. (2005). Penelitian biodiversitas serangga di Indonesia: Kumbang tinja (Coleoptera: Scarabaeidae) dan peran ekosistemnya. Biodiversitas, 6(2), 141–146. https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fsmujo.id%2Fbiodiv%2Farticle%2Fdownload%2F621%2F643%2F641&psig=AOvVaw03mzQntFX3DrvF5d6Cvvtf&ust=1741617589255000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CAYQrpoMahcKEwj4gbafnf2LAxUAAAAAHQAAAAAQBA
Shahabuddin, S. (2011). Effect of land use change on ecosystem function of dung beetles: experimental evidence from Wallacea Region in Sulawesi, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 12(3).
Torabian, S., Leffler, A. J., & Perkins, L. (2024). Importance of restoration of dung beetles in the maintenance of ecosystem services. Ecological Solutions and Evidence, 5(1), e12297.