- Sebagai negara dengan wilayah perairan terluas di dunia, laut Indonesia menyimpan sumber daya yang melimpah. Meski demikian, dalam waktu sama, sektor ini juga menghadapi tantangan, seperti perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga degradasi lingkungan.
- Perikanan budidaya diklaim menjadi tumpuan utama untuk pangan biru, karena potensinya yang besar dan masih belum termanfaatkan dengan baik sampai sekarang. Budi daya bersanding dengan perikanan tangkap yang diprediksi akan terus menyusut produksinya
- Tetapi, tantangan untuk mengembangkan pangan yang berasal dari laut juga tidak mudah. Sebabnya, karena ada fenomena perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan degradasi lingkungan yang terus terjadi secara cepat di Indonesia
- Kunci agar pangan biru bisa diproduksi dengan baik, adalah dengan mengelola kawasan konservasi laut (MPA) dengan baik. Menjaga MPA juga akan memastikan ekosistem terlindung dan sumber makanan dari sumber daya laut akan terus berproduksi
Sebagai negara dengan wilayah perairan terluas di dunia, laut Indonesia menyimpan sumber daya melimpah. Meski demikian, dalam waktu sama, sektor ini juga menghadapi tantangan, seperti perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, hingga degradasi lingkungan.
Rasman Manafi, Asisten Deputi Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengatakan, pemanasan global yang memicu perubahan iklim meningkatkan suhu dan pengasaman laut. Situasi itu mengubah pola migrasi ikan dan mempengaruhi produktivitas perikanan.
Begitu juga dengan pertumbuhan penduduk. Menurut Rasman, penduduk yang terus bertambah akan menambah tekanan pada kebutuhan pangan, terutama protein hewani dari hasil laut. Sementara degradasi lingkungan karena pencemaran plastik menyebabkan ekosistem mangrove dan terumbu karang rusak.
“Tumbuhan laut menghasilkan hampir setengah dari oksigen yang kita hirup. Namun, suhu permukaan laut rerata meningkat sekitar 0,7 derajat celsius selama 100 tahun terakhir, kemungkinan akan meningkat lebih dari tiga derajat celsius di beberapa wilayah laut di akhir abad ini,” katanya.
Memburuknya laut karena berbagai tekanan secara global akan mengancam jutaan orang di dunia yang menggantungkan mata pencaharian dari sektor ini, seperti perikanan tangkap, wisata bahari, budidaya laut, dan lain-lain.

Sumber pangan
Laut menyediakan 60% protein makanan bagi negara tropis di dunia. Sekitar 90% produk perdagangan melalui jalur laut, dan 170 juta pekerjaan tersedia di laut. Karena itu, sangat penting memastikan laut agar laut tak makin terdegradasi. Salah satunya, dengan memperluas kawasan konservasi laut (marine protected area/MPA).
“Tujuan dari MPA untuk melestarikan dan melindungi habitat, spesies, integritas ekologi, keanekaragaman hayati, dan produktivitas,” katanya.
Pengelolaan MPA yang efektif, akan meningkatkan sumber pangan laut dari sumber daya ikan (SDI).
Indonesia, katanya, negara mega keanekaragaman hayati laut hingga bisa meningkatkan pangan akuatik sebagai sumber pangan nasional. Potensi besar itu, berasal dari produksi pangan di ekosistem terumbu karang, rumput laut, dan padang lamun.
Saat ini, produk pangan laut yang menjadi andalan Indonesia adalah udang, ikan, dan rumput laut. Ketiga produk itu sudah cukup mengangkat nama Indonesia di pasar internasional, seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Jepang.
Bagi Rasman, laut adalah sumber ekonomi biru yang akan mendukung kedaulatan pangan Indonesia. Kondisi itu bisa terwujud dengan memperkuat integrasi dan tata kelola di pesisir dan pulau-pulau kecil melalui pengelolaan MPA yang efektif.
Mohammad Rahmat Mulianda, Direktur Kelautan dan Perikanan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), menambahkan, efektivitas pengelolaan MPA tidak hanya mendorong kedaulatan pangan juga batu loncatan mewujudkan strategis jangka panjang yang produktif dan berkelanjutan.

Permasalahan
Pengelolaan MPA yang efektif tidak mudah. M. Firdaus Agung Kunto, Direktur Konservasi Ekosistem dan Biota Perairan KKP menyebut, terdapat sejumlah permasalahan pengelolaan MPA ini, antara lain, masalah anggaran yang tidak tersusun berdasar tipe kawasan, seperti suaka dan taman.
MPA juga belum memiliki kajian atau profiling potensi pembiayaan di tingkat tapak dan tingkat nasional. Fakta lain, MPA belum cukup efektif dalam menghasilkan pemasukan. Sementara, MPA saat ini masih belum mampu memanfaatkan skema-skema baru dalam pembiayaan.
“Tetapi, jika pengelolaan MPA bisa dengan optimal, dampaknya akan terasa lebih cepat pada penguatan swasembada pangan laut yang diharapkan bisa terwujud pada 2028 mendatang,” ucap Kunto.
Budi Sulistyo, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP mengatakan, pangan biru mencakup di dalamnya adalah ikan. Komoditas itu tak hanya berperan sebagai sumber protein, juga bahan baku industri pengolahan.
Pada 2024, Indonesia berhasil mencatatkan produksi perikanan 24,7 juta ton dari perikanan budidaya dan tangkap. Merujuk Peraturan Menteri KKP 18/2021 tentang Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) dan Laut Lepas serta Penataan Andon Penangkapan Ikan, potensi lestari perikanan tangkap mencapai 12,01 juta ton per tahun.
“Sebagai negara kepulauan, tentu ini momentum baik bagaimana kita menggali dan mengelola sumber protein ini untuk masyarakat,” katanya menyinggung tentang target swasembada pangan.
Di hulu, KKP terus berupaya meningkatkan perikanan budidaya melalui berbagai modeling. Sedangkan sektor perikanan tangkap, KKP melakukan transformasi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya dan meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.
Pada sektor hilir, KKP terus mendorong pelaku usaha agar pengolahan ikan menghasilkan produk perikanan berkualitas dan aman konsumsi. Penguatan ini termasuk dengan menyiapkan platform digital untuk memudahkan pemetaan maupun distribusi hasil perikanan. “Apa yang kami lakukan yaitu memetakan kondisi saat ini. Kira-kira potensi ikan yang ada seperti apa, didaratkan di mana saja,” katanya.
Hamdan Hamedan, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan menjelaskan, mewujudkan kedaulatan pangan menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah bahkan mengalokasikan anggaran Rp139,4 triliun untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional, termasuk sektor perikanan.
Yudi Nurul Ihsan, Guru Besar Ekologi Laut Tropis Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran mengatakan, perikanan tangkap dan budidaya berperan penting memenuhi kebutuhan protein masyarakat. “Indonesia memiliki potensi perikanan dan akuakultur yang baik yang baik,” katanya.
***
Ekonomi Biru di Indonesia: antara Konservasi Laut dan Ekonomi Maritim