- Rumah Belajar Konservasi dan Ekowisata (RBKE) merupakan pusat kegiatan masyarakat, di Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Letaknya persis di pinggir Sungai Subayang, pada ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan sungai. Desa ini, merupakan gerbang SM BRBB yang luasnya 141.226,25 hektar.
- “Sejak awal, fungsi RBKE itu sebagai tempat belajar dan kegiatan konservasi. Orang datang mengenal alam sambil wisata. Ada pemandu untuk mengenalkan apa saja yang ada di dalam hutan sekitar,” jelas Khaerul Anwar, Community Based Tourism (CBT) Expert, Indonesia Ecotourism Network (Indecon).
- Agustinus Wijayanto, Direktur Program ITHCP, menyebut Rumah Belajar Konservasi dan Ekowisata (RBKE) sarana pengembangan sumber daya manusia. Dimulai dari generasi muda, termasuk anak-anak sekolah. Juga, masyarakat luas untuk memahami konservasi.
- Lasti Fardilla Noor, Knowledge Management Working Group ICCAs Indonesia (WGII), menjelaskan, banyak masyarakat adat yang mendirikan sekolah adat sebagai upaya pengembangan literasi. Misal, di Ngata Toro, yang wilayah adatnya dalam Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Sulawesi Tengah.
Belasan murid UPT SD Negeri 012 Desa Muara Bio, nampak antusias menyusuri hutan pinggiran Suaka Margasatwa Bukit Rimbang-Bukit Baling (SM BRBB), Desember lalu. Mereka mendengar penjelasan Aprial Efendi, pemandu kegiatan, siang itu.
Kegiatan itu bagian dari sosialisasi pengenalan hutan, tumbuhan dan hewan, masuk dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS), bagian kurikulum merdeka.
Sambil berkeliling, beberapa murid memegang papan interpretasi, talenan kayu dengan lubang tengahnya. Mereka mengamati daun dari lubang itu, dan mencocokkan dengan jenis-jenis daun yang menempel di sekeliling lubang.
“Ayo. Siapa bisa jawab, daun apa itu?” kata Aprial.
Jawaban mereka tak seragam. Salah satu yang sering dia temukan adalah keruing asam (Dipterocarpus). Pada papan interpretasi itu juga ada daun karet, jambu tangkalak (Bellucia pantamera naudin), timoho (Kleinhovia hospita L), sungkai (Peronema canescens), saga (Abrus precatorius) dan gaharu (Aquilaria malaccensis).
Tak cuma daun, papan interpretasi juga berisi gambar sejumlah binatang, sejenis serangga, kalajengking, katak hingga pacet. Tidak seperti daun, mereka sukar temukan binatang, kecuali semut yang selalu nampak berbaris di batang pohon.
Pacet termasuk paling banyak. Bahkan, tak disadari sudah masuk sepatu dan mengisap darah, selama kegiatan menyusuri hutan di belakang Rumah Belajar Konservasi dan Ekowisata (RBKE) itu.
RBKE merupakan pusat kegiatan masyarakat, di Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Letaknya persis di pinggir Sungai Subayang, pada ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan sungai. Desa ini, merupakan gerbang SM BRBB seluas 141.226,25 hektar.
Ide pendirian RBKE mulai sejak 2018 di atas sepetak tanah Masyarakat Adat Tanjung Belit. Kini, sudah lengkap fasilitas toilet dan aula terbuka. Di lokasi ini juga dapat menginap dengan peralatan camping.

“Sejak awal, fungsi RBKE itu sebagai tempat belajar dan kegiatan konservasi. Orang datang mengenal alam sambil wisata. Ada pemandu untuk mengenalkan apa saja yang ada di dalam hutan sekitar,” kata Khaerul Anwar, Community Based Tourism (CBT) Expert, Indonesia Ecotourism Network (Indecon).
Erul, panggilannya, juga Program Manager Ekowisata dalam Integrated Tiger Habitat Conservation Program (ITHCP). Bersama Yapeka, Indecon dan Forum HarimauKita, mereka melakukan kajian sekaligus pendampingan masyarakat adat menyangkut perlindungan hutan. Rimbang Baling, merupakan habitat harimau Sumatera.
Pendampingan itu mengedepankan konsep harmonisasi manusia dan alam. Ada program pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan ekonomi berbasis sumber daya lokal, salah satunya ekowisata.
Bukan sekadar tempat wisata alam, RBKE juga fasilitas literasi buat belajar sekaligus mengetahui informasi seputar keanekaragaman hayati kawasan Rimbang Baling. Lengkap dengan peralatan interaktif berisi informasi satwa dan tumbuhan.
Di beberapa sudut, terdapat kubus terangkai pada rangka besi yang mudah diputar. Berisi keterangan gambar pada empat sisi masing-masing kubus. Dari situ, pengunjung dapat mengetahui ragam jenis kera, seperti beruk, ungko, siamang dan simpai.
Ada juga kotak informasi jenis ikan dalam Sungai Subayang, seperti barau, pantau, tapah hingga belida. Sama seperti kotak ‘kera’ besar sebelumnya, gambar ikan-ikan ini juga disertai penjelasan mengenai status, deskripsi bentuk tubuh, makanan hingga sifat satwa tersebut.
Beruk, ungko, siamang dan simpai, dilindungi oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) karena hampir punah. Adapun belida dilindungi dengan status perlindungan penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021.
Benda-benda itu menjadi mainan baru murid SD 012 Muara Bio, termasuk siapa pun pengunjung yang mampir ke RBKE. Sifatnya interaktif, memancing murid untuk membaca dan saling berbagi informasi selama menggunakan alat itu.
Pengunjung juga dapat mencermati gambar pada papan informasi yang terbuat dari besi. Ia dirancang dengan teknik blok atau dalam seni rupa disebut gambar ruang negatif.
Pemuda masyarakat adat lewat pokdarwis yang kelola penuh RBKE. Apriyal, juga dubalang Muara Bio, tidak sekadar memandu wisata pengunjung lokal maupun domestik. Keterlibatan mereka dalam perlindungan hutan konservasi lebih dari itu.
Dubalang, dalam masyarakat adat di Rimbang Baling, pengawal ninik mamak tiap suku, dalam upacara adat. juga bertugas mengamankan hutan adat. Mereka jadi kader konservasi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Salah satu perannya, pemasangan kamera jebak untuk memantau populasi harimau Sumatera, juga satwa lain yang tertangkap foto maupun video kamera.

Pusat pembelajaran
Agustinus Wijayanto, Direktur Program ITHCP, menyebut Rumah Belajar Konservasi dan Ekowisata (RBKE) sarana pengembangan sumber daya manusia. Dimulai dari generasi muda, termasuk anak-anak sekolah. Juga, masyarakat luas untuk memahami konservasi.
“Pendidikan konservasi dan ekowisata menjadi salah satu aspek dalam meningkatkan kehidupan berkelanjutan di Rimbang Baling,” katanya, melalui keterangan tertulis, Sabtu (1/2/25).
Literasi konservasi dan seni budaya di tengah masyarakat adat dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap alam, misal, satwa liar seperti harimau sumatera dalam hutan, dan sungai sebagai urat nadi kehidupan serta akses utama masyarakat. Supaya masyarakat lebih tergugah meningkatkan kepedulian lingkungan.
Kawasan SM BRBB sebenarnya sudah jadi pusat konservasi dan kantong habitat satwa liar. Namun bisa punah sewaktu-waktu jika tidak dijaga semua orang, termasuk generasi muda. Karenanya, literasi konservasi jadi upaya penyadaran.
“Mereka dapat lebih memahami kondisi hutan, sungai, desa dan alam. Literasi konservasi, seni budaya penting sebagai pelajaran dan warisan generasi sekarang untuk akan datang.”.
Lasti Fardilla Noor, Knowledge Management Working Group ICCAs Indonesia (WGII), menjelaskan, banyak masyarakat adat yang mendirikan sekolah adat sebagai upaya pengembangan literasi. Misal, di Ngata Toro, yang wilayah adatnya dalam Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), Sulawesi Tengah.
Persis masyarakat adat sembilan desa, Sungai Subayang, yang masuk kawasan SM BRBB. Kecuali Tanjung Belit, merupakan gerbang kawasan konservasi yang melingkupi dua kabupaten, Kampar dan Kuantan Singingi.
Asti, panggilan akrabnya, bilang, di tengah dukungan pemerintah yang terbatas dan minim, generasi muda Ngata Toro mempelajari sistem kelembagaan adat, hukum adat, pengetahuan lokal, bahkan sampai sistem informasi berbasis internet lewat sekolah adat.
Masyarakat adat di sana juga mempelajari lanskap ruang hidup dan keanekaragaman hayatinya. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tapi mengembangkan pemikiran kritis mempertahankan keberlanjutan sistem nilai.
Sambil mengembangkan kualitas kehidupan di tengah situasi dan tantangan yang dihadapi.
“Kita tahu, bahwa hampir sebagian besar kawasan konservasi adalah lokasi terisolir dan akses sangat terbatas. Entah itu jalan, listrik atau akses terhadap internet yang lebih baik,” terang Asti, lewat pesan tertulis, Jumat (31/1/25).
Menurutnya, pemerintah jangan ragu berikan pengakuan dan perlindungan atas sistem maupun hukum adat. Termasuk praktik pengelolaan alam dan wilayah oleh masyarakat adat.
Masyarakat adat di Indonesia punya ragam praktik konservasi. Berbasis hukum adat, budaya, pengetahuan dan kearifan lokal yang terbukti efektif. Praktik ini mampu mendukung kehidupan berkelanjutan mereka dengan lingkungannya.
“Seperti masyarakat adat dalam kawasan Rimbang Baling. Mereka mendapatkan manfaat ekonomi dari ikan dengan tetap menjaga sungai sebagai habitat ikan lewat lubuk larangan.”
Sejalan dengan harapan Irma Susanti, wali kelas yang memboyong murid UPT SDN 012 Muara Bio ke RBKE. Baginya, pengenalan lingkungan buat muridnya sangat penting. Sebab itu, kegiatan tersebut jadi program rutin.
Ini bukan perkara sulit. Pasalnya, UPT SDN 012 Muara Bio termasuk sekolah lain berada dalam kawasan konservasi Rimbang Baling. Sederhananya, para guru cukup membawa anak didik ke hutan dan sungai sekitar sekolah.
“Kami dekat dengan lingkungan dan alam. Bagi seorang guru, kami harap Rimbang Baling tetap terjaga di masa mendatang untuk anak dan cucu,” ucap perempuan yang sudah 13 tahun mengajar itu.
“Sekarang, hutan banyak gundul, ditebang tanam sawit. Udara jadi panas. Adanya Rimbang Baling, hutan terjaga, udara segar dan sejuk. Anak-anak bisa mengenal hutan dan tumbuhan langsung ke alam. Kalau di kelas cuma lihat hambar.”

*****