- Virginia Foster, Direktur Frameworks and Landscapes Programs, Rainforest Alliance, mengunjungi Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, yaitu ke Koperasi Wana Manunggal Lestari (KWML), akhir 2024 lalu. Tujuannya, menggali lebih dalam program Forest Allies, yang menghubungkan hutan yang dikelola masyarakat dengan pasar. Program ini telah dikerjakan di beberapa negara dan juga di Gunungkidul.
- Rainforest Alliance, sebuah organisasi nirlaba yang beroperasi di 60 negara, fokus pada kelestarian alam, keberlanjutan, serta kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar hutan.
- Untuk Forest Allies di Gunungkidul saat ini memasuki fase tiga tahun kedua. Pertama, periode 2020– Kedua, dari 2023–2026. Ukuran keberhasilannya adalah, selain peningkatan kapasitas, juga pembiayaan mandiri untuk sertifikasi.
- Forest Allies dikembangkan untuk benar-benar mengubah solusi pembiayaan berbasis pasar guna mengangkat hutan kemasyarakatan. Dengan demikian, tidak terjebak donor, program, atau Namun, menemukan cara berbeda yang lebih berkesinambungan.
Ini merupakan kali pertama Virginia Foster, Direktur Frameworks and Landscapes Programs, Rainforest Alliance, mengunjungi Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Saat kakinya memasuki halaman kantor Koperasi Wana Manunggal Lestari (KWML), potongan dan serpihan kulit kayu sedikit merintangi jalannya.
Sudah 15 tahun, dia berkecimpung di Rainforest Alliance, sebuah organisasi nirlaba yang beroperasi di 60 negara. Mereka fokus pada kelestarian alam, keberlanjutan, serta kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar hutan.
Di ruangan kantor koperasi terpampang peta berukuran besar berjudul “Peta Persebaran Hutan Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan Lahan Kelola Mitra KWML.”
“Saya suka peta,” seru perempuan lulusan George Washington University, Amerika. “Kita sekarang ada di mana?”
Puji Raharjo, Ketua KWML, menunjuk lokasi tersebut dan menjelaskan persebaran kelompok tani yang menjadi mitra koperasi.
“Anggota koperasi tersebar di 15 desa, dengan jumlah petani sekitar 1.800 orang. Terdiri 27 kelompok tani yang meliputi 15 Hutan Rakyat, 11 Hutan Kemasyarakatan, dan 1 Hutan Tanaman Rakyat. Sebagian besar berada di tengah dan selatan Gunungkidul.”
Sebelumnya, Virginia bertemu Pemda Luwu Utara, Sulawesi Selatan, terkait Lanskap Sehat (Thriving Landscape). Tujuan program ini adalah mengembangkan perekonomian masyarakat yang fokus pada praktik pertanian dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Sementara, kedatangannya ke Playen akhir 2024 lalu, adalah menggali lebih dalam program Forest Allies, yang menghubungkan hutan yang dikelola masyarakat dengan pasar. Program ini telah dikerjakan di beberapa negara dan juga di Gunungkidul.
Berikut petikan wawancara Mongabay dengan perempuan berusia 41 tahun yang aktif di lingkungan. Turut mendampingi juga Putra Agung, Direktur Rainforest Alliance Indonesia, dan Zainuri Hasyim, Manager Community and Smallholder Forestry Rainforest Alliance. Mereka juga menambahkan jawaban yang diberikan Virginia ketika diperlukan.
Baca: Menabung Karbon, Merawat Hutan ala Petani Gunungkidul

Mongabay: Apa maksud dan tujuan program Forest Allies?
Virginia: Tujuannya mencoba menghubungkan hutan yang dikelola masyarakat dengan pasar. Bagaimana usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan masyarakat ini bisa menemukan pasar yang lebih baik.
Mongabay: Apakah Playen yang pertama di Indonesia? Ada cerita sukses di tempat lain yang bisa diterapkan di sini?
Virginia: Untuk Indonesia, ini yang pertama. Kami membangun Forest Allies sebagai praktik bersama antara komunitas hutan dan perusahaan. Kami membuat laporan tahunan, tempat kami mengumpulkan semua kisah sukses dengan tujuan berbagi pembelajaran.
Contohnya, dua tahun lalu kami memakai model pemantauan High Conservation Value Research Network (HCVRN) untuk karbon dan biodiversitas yang digunakan masyarakat, sehingga mereka bisa memantau mandiri dan tidak tergantung tenaga ahli kehutanan.
Kami telah mencoba di Mintom, Kamerun, hingga Selva Maya, Guatemala, dan bersamaan dengan tumbuhnya investasi bisa diperluas ke kawasan lain. Dengan demikian, komunitas masyarakat di hutan dapat membuka peluang pembiayaan untuk ekosistem berkelanjutan.
Rainforest Alliance sudah berdiri lebih 30 tahun, dengan pengalaman panjang manajemen hutan yang bisa menjadi pondasi besar untuk mengembangkan kapasitas masyarakat. Kami membawa dua hal, pengalaman dan pengetahuan plus peluang di tingkat tapak yang bisa dikombinasikan.

Selva Maya merupakan kawasan hutan tropis terluas di Amerika Tengah, yang membentang antara Guatemala hingga Meksiko. Sementara Mintom, Kamerun, merupakan kawasan hutan hujan pegunungan yang memiliki nilai ekosistem tinggi karena menjadi habitat gorila.
Selva Maya menjadi rute penyelundupan narkoba dan penggundulan hutan. Penebangan liar juga menjadi ancaman bagi kelestarian biosfernya. Alih-alih meminggirkan masyarakat adat dan lokal yang hidup dari sumber daya hutan, mereka justru diberi konsesi untuk mengelola hasil hutan kayu dengan syarat dilakukan berkelanjutan.
Hasilnya, selama 30 tahun, konsesi yang dikelola masyarakat menunjukkan rasio tingkat deforestasi terendah. Rainforest Allience menjadi organisasi nirlaba pertama yang melihat peluang bagaimana masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan bisa menjadi penjaga kelestarian hutan.
Hutan di Gunungkidul menjadi contoh lain bagaimana hutan bisa dikelola dan dimanfaatkan berkelanjutan. Hutan ini dapat mewakili persoalan hutan di Pulau Jawa. Menurut Putra Agung, dalam konteks kehutanan secara umum, Jawa menjadi yang paling siap dalam hal tenurial lahan.
“Grafik tutupan hutan Papua di masa lalu masih tinggi, namun sekarang menurun. Hal yang terjadi pada Kalimantan dan Sumatera. Jawa pada masa lalu demikian, namun seiring waktu, luas tutupannya naik. Ini karena petani mulai menanam kayu. Hal ini disebabkan aspek ternurial atau kepemilikan lahan di Jawa lebih jelas,” katanya.
Zainuri Hasyim menjelaskan, Gunungkidul dipilih karena lebih siap dalam hal integrasi pemanenan dan pemanfaatan hasil kayu berkelanjutan.
“Ada entitas yang bersedia mendampingi proses pemasaran. Kalau hanya sertifikasi sudah banyak dilakukan di berbagai tempat. Namun, banyak yang tidak berlanjut karena akses ke pasar belum dimiliki. Koperasi di sini juga bagus, mulai pendampingan kelompok, pencatatan keuangan, sampai hal teknis seperti segregasi kayu nonsertifikasi dan sertifikasi,” ungkapnya.
Baca: Suratimin, Sonokeling, dan Hitung Karbon Hutan Rakyat Desa Semoyo

Mongabay: Apa yang didapatkan Rainforest Alliance dengan pengalaman di sini?
Virginia: Tempat ini menjadi pilot project sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) untuk skema kepemilikan lahan kecil dan Rainforest Alliance yang mengerjakan programnya. Ada dua negara yang melaksanakan uji coba, yaitu Indonesia dan Vietnam.
Untuk Forest Allies di Gunungkidul saat ini memasuki fase tiga tahun kedua. Pertama, periode 2020- 2023. Kedua, dari 2023-2026. Ukuran keberhasilannya adalah, selain peningkatan kapasitas, juga pembiayaan mandiri untuk sertifikasi.
Kami mengembangkan Forest Allies untuk benar-benar mengubah solusi pembiayaan berbasis pasar guna mengangkat hutan kemasyarakatan. Dengan demikian, kami tidak terjebak donor, program, atau hibah. Namun, menemukan cara berbeda yang lebih berkesinambungan.
Baca juga: Wawancara: Sudarmi, Sosok Perempuan Pelestari Hutan Jati Paliyan

Mongabay: Apa perbedaan Forest Allies dengan Thriving Landscape?
Virginia: Thriving Landscapes melihat seluruh lanskap dalam cara pandang dan pendekatan lanskap atau yuridiksional dalam konteks perencanaan lahan jangka panjang. Forest Allies menjadi bagian Thriving Landscape untuk mendukung perhutanan sosial yang berproses di dalamnya. Jadi Thriving Landscape akan mendukung masyarakat, dengan mengembangkan rencana aksi jangka panjang, misalnya hingga 20 tahun.
Thriving Landscape memungkinkan kita memadukan kerja sama perhutanan sosial, keahlian kita dalam peningkatan kapasitas, dan komoditas pertanian hutan. Misalnya kopi atau cokelat. Thriving Landscape membantu kita melakukan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan lahan baik bagi pemerintah daerah maupun masyarakat setempat. Kita dapat menghubungkan semuanya itu dalam satu bagian, dibanding mengerjakannya secara terlepas.
Di masa depan, kami berencana memperluas dan membawa Forest Allies, kerja-kerja hutan kemasyarakatan, ke dalam Thriving Landscape.
Mongabay: Apa harapan Anda tentang program ini?
Virginia: Menambah anggota Forest Allies, dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam inisiatif ini kami bisa mendukung kelompok hutan kemasyarakatan, dan dapat memperluas Forest Allies ke dalam Thriving Landscape kami. Untuk melakukan itu semua, tentu kami butuh lebih banyak dukungan.