Masuk Kandang Jebak, Begini Kondisi Harimau yang Ditangkap di Agam

2 weeks ago 30
  • Satu individu harimau sumatera (Panthera tigis sumatrae) masuk kandang jebak yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar di hutan Nagari Tigo Balai, Matur, Agam, Sumatera Barat, Rabu (12/3/2025). Penangkapan dilakukan karena harimau tersebut sudah beberapa kali makan ternak warga.
  • Saat dievakuasi, harimau betina usia 3-4 tahun ini, dalam kondisi cacat. Kaki kiri depannya buntung sementara telapak kaki kanan depan putus. Menurut Antonius, luka tersebut kemungkinan akibat jerat.
  • Jerat merupakan ancaman utama satwa liar di hutan. Jumlah yang dipasang tidak sebanding dengan petugas patroli yang melakukan pembersihan. Tingginya penggunaan jerat dikarenakan mudah dan tidak ada aturan.
  • Harus ada regulasi tentang jerat dikarenakan sangat berbahaya.

Satu individu harimau sumatera (Panthera tigis sumatrae) masuk kandang jebak yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar di hutan Nagari Tigo Balai, Matur, Agam, Sumatera Barat, Rabu (12/3/2025). Penangkapan dilakukan karena harimau tersebut beberapa kali memangsa ternak warga.

“Kondisinya baik,” terang Antonius Vevri, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumbar, Jumat (14/3/2025).

Saat dievakuasi, harimau betina usia 3-4 tahun ini, dalam kondisi cacat. Kaki kiri depannya buntung sementara telapak kaki kanan depan putus. Menurut Antonius, luka tersebut kemungkinan akibat jerat.

“Pernah terpantau kamera jebak tahun lalu dengan kondisi seperti itu. Dengan kondisi tersebut, diperkirakan kemampuan berburunya berkurang sehingga mengincar mangsa yang memiliki kemampuan lari rendah.”

Saat ini, harimau yang diberi nama Si Maung tersebut, menjalani perawatan di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi.

“Observasi menyeluruh dilakukan agar diketahui kondisi kesehatan dan perilakunya.”

Kasus terakhir, Si Maung memasang anak kerbau di Jorong Taruyan, Senin (10/3/2025). Atas laporan tersebut petugas BKSDA memasang kandang jebak untuk menangkapnya.

“Kondisi fisik membuatnya tidak mampu berburu mangsa di hutan.”

Antonius menambahkan, kemunculan harimau hingga memakan ternak di Sumatera Barat terpantau sejak 2023. Namun, makin sering pada 2024 yang terpantau di wilayah Koto Tinggi, Pagadih, Pasie laweh, Palupuh, Palembayan, Matur, hingga Koto Tinggi di Kabupaten Lima Puluh Kota.

“Di sejumlah daerah tersebut, lima ekor sapi dan kerbau diterkam. Anjing dan kambing kamungkinan jadi korban.”

Baca: Tragis, Harimau Betina Mati Terjerat di Hutan Agam

Harimau sumatera yang semakin terdesak akibat habitatnya menyempit. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Perlu regulasi penggunaan jerat

Dwi Nugroho Adhiasto, ahli konservasi dan penegakan hukum satwa liar yang juga Technical Advisor Yayasan SCENTS, menyebut jerat merupakan ancaman utama satwa liar di hutan. Jumlah yang dipasang tidak sebanding dengan petugas patroli yang melakukan pembersihan. Tingginya penggunaan jerat dikarenakan mudah dan tidak ada aturan.

“Jerat bisa dipasang massal dengan bermacam cara dan tidak memandang jenis satwa. Bisa jadi, targetnya babi hutan namun yang kena harimau,” ujarnya, Sabtu (15/3/2025).

Terkait kondisi Si Maung yang kakinya buntung, menurut Dwi, hal itu mengindikasikan wilayah tersebut banyak jerat.

“Harus ada regulasi, karena jerat sangat berbahaya. Harus ada pengawasan terhadap distributor maupun pembuatnya, apakah dibuat sendiri atau secara banyak. Sejauh ini, yang dilakukan adalah operasi sapu jerat, sehingga masalahnya belum selesai,” ujarnya.

Baca: Kala Jerat Babi di Ladang Jagung Tewaskan Harimau di Pasaman

Si Maung saat dievakuasi dari kandang jebak, di hutan Nagari Tigo Balai, Matur, Agam, Sumatera Barat, Rabu (12/3/2025). Foto: BKSDA Sumbar

Sunarto, ekolog satwa liar Indonesia yang juga anggota IUCN SSC Cat Specialist Group, menyatakan keprihatinannya atas cacatnya Si Maung yang diduga menjadi awal terjadinya konflik.

Dia berharap, proses rehabilitasi dan observasi dapat dilakukan dengan baik dan cermat. Dengan begitu, keputusan untuk melepas kembali ke alam atau merawatnya di ex situ, dapat didasarkan pada berbagai pertimbangan matang.

“Selain penanganan harimau, yang paralel perlu dilakukan adalah penyelesaian akar masalah termasuk menghentikan pemasangan jerat dan perburuan liar. Kajian sekaligus peningkatan pengetahuan masyarakat harus dilakukan, agar muncul kesadaran pentingnya eksosistem lingkungan.”

Sunarto mengapresiasi masyarakat yang telah melaporkan dan memberi kepercayaan kepada petugas berwenang, untuk menangani persoalan ini.

“Agar tidak ada korban manusia maupun harimau,” jelasnya.

Baca: Lagi dan Lagi, Harimau Sumatera Terluka Akibat Jerat

Kondisi Si Maung cacat akibat terkena jerat. Foto: BKSDA Sumbar

Jangan pasang jerat

Lugi Hartanto, Kepala BKSDA Sumatera Barat, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak memasang jerat.

“Mengingat, sudah ada korban harimau sebelumnya.”

Satu individu harimau mati akibat jerat, pada 25 Juli 2024. Harimau betina usia 2-3 tahun itu, ditemukan dengan leher terjerat di wilayah Nagari Sungai Pua, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Hasil nekropsi menunjukkan, satwa dilindungi ini mati akibat trakhea pecah fraktur pada tulang leher yang mengakibatkan gagal napas.

Lugi menerangkan, terkait operasi sapu jerat, pihaknya hanya memiliki kewenangan di kawasan konservasi. Untuk itu, butuh dukungan pemerintah daerah, mulai kecamatan, kabupaten dan provinsi. Sementara, bagi pelaku yang sengaja memasang untuk mendapatkan harimau maka sanksi hukum menanti.

“Jika terbukti, dikenai UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dengan ancaman 5 tahun penjara.”

Baca juga: Harimau Sumatera Tewas Mengenaskan di Rokan Hulu

Berbagai jenis jerat yang biasa dipasang pemburu di hutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Antonius menambahkan, pihaknya rutin patroli, namun tidak semua jerat bisa dibersihkan dari kawasan.

“Kami tidak bisa menyisir kebun masyarakat dan tidak mungkin mengikuti pergerakan harimau,” pungkasnya.

Catatan Akhir Tahun: Jerat yang Lagi-lagi Membuat Harimau Sumatera Sekarat

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|