Konflik Satwa dan Manusia: Siapa yang Sebenarnya Mengganggu?

2 weeks ago 29

Seekor harimau melintas di semak belakang rumah warga Desa Kinal Jaya, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara. Kejadian terekam oleh pemilik rumah dalam video pada November 2024. Tak sendirian, harimau itu juga bersama dengan lima kucing belang lainnya. Kemunculan kawanan harimau menimbulkan kekhawatiran bagi warga untuk pergi sendirian ke kebun. 

Tak hanya harimau, di Lampung Barat, kawanan gajah juga tampak mendekati pemukiman warga pada Desember 2024. Masyarakat membunyikan kentongan sebagai upaya cegah kawanan gajah memasuki pemukiman. Tak jarang dalam beberapa kasus, terjadinya peningkatan konflik manusia dengan gajah.

Akhir-akhir ini kejadian satwa liar masuk ke pemukiman dan ladang warga kian meningkat. Tak hanya harimau dan gajah, juga orangutan, beruang madu hingga monyet ekor panjang. Ini tentu menambah daftar deret angka konflik manusia dengan satwa liar yang mengancam bagi satwa liar dan manusia. Tapi apa yang menjadi penyebabnya?

Tangkapan layar di akun Facebopok, Rio Diar, yang menjual orangutan. Perdagangan satwa ilegal secara online masih terus marak.

Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) DKI Jakarta menyatakan bahwa kemunculan hewan di pemukiman warga disebabkan berkurang luas hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Ruang hidup satwa kini banyak yang beralih fungsi menjadi pemukiman, perkebunan bahkan pertambangan. 

Setidaknya dalam 10 tahun terakhir luas hutan yang hilang mencapai 12,5 juta hektar. Pada tahun 2023 saja, deforestasi Indonesia dapat mencapai 257.384 hektar. Ini menjadi penyebab satwa kehilangan rumahnya. Seperti apa cerita satwa liar yang kembali ke rumahnya tapi kini dianggap menganggu manusia?

Baca juga: Jika Kamu Melihat Orangutan Muncul ke Pemukiman, Apa yang Harus Dilakukan?

1. Harimau di Sumatera Barat

Harimau sumatera merupakan satwa liar dilindungi yag habitatnya selalu dijaga oleh masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Sepanjang Januari 2025, warga Jorong Pagadih Hilia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) beberapa kali melihat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di sekitar daerah mereka. Bahkan, satwa karnivora tersebut sempat menerkam beberapa ternak warga. Berdasarkan catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, sejak 2022 memang terjadi puluhan kasus seperti ini setiap tahunnya. 

Forum Harimaukita menyebutkan harimau membutuhkan setidaknya 250 kilometer sebagai wilayah jelajahnya. Namun, kondisi hutan yang semakin menyempit membuat ruang hidup manusia dan harimau semakin dekat. 

2. Gajah

Seekor gajah sumatera bersama sang mahout di Taman Nasional Way Kambas. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Terdapat dua spesies gajah di Indonesia, gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan gajah borneo (Elephas maximus borneensis). Sayangnya, berdasarkan daftar merah IUCN keduanya dalam status kritis akibat perburuan.

Gajah kalimantan diketahui telah kehilangan setidaknya 16% habitatnya sejak 2003-2010. Sedangkan dalam kisaran 25 tahun, gajah sumatera telah kehilangan 70% habitatnya. Pulau Sumatera, salah satu wilayah dengan deforestasi terparah di dunia yang menyebabkan populasi gajah berkurang cepat.

Perubahan fungsi lahan membuat wilayah jelajah gajah bertabrakan dengan pemukiman, perkebunan atau ladang masyarakat.. Seperti yang terjadi selama Juli 2024 di Desa Sepintun, Kecamatan Pauh, Sarolangun, Jambi. Kawanan gajah berkeliaran, memakan tanaman sawit dan obrak abrik pondok warga. Konflik manusia dengan gajah menjadi dampak yang tidak terhindarkan apabila habitat mereka terus tergerus. 

Baca juga: Mengapa Beruang Madu Taman Nasional Batang Gadis Masuk Pemukiman Warga

3. Beruang Madu

BKSDA Pasaman Barat dan warga pasang kandang jebak bt beruna gmadu. Foto: Vinolia/ Mongabay Indonesia

Seekor beruang madu (Helarctos malayanus) terlihat tengah mengais sampah di sekitar Pasar Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Kejadiannya terjadi dua kali pada Agustus 2024. Perilaku anehnya ini menunjukkan beruang kekurangan makanan di hutan. 

Kejadian serupa dialami oleh warga Desa Teluk Haur dan Desa Betalas, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan pada 2023 lalu. Sekitar tiga ekor beruang madu kerap berkeliaran sekitar pemukiman, mengais sisa-sisa makanan buangan warga. Hewan nokturnal tersebut membuat malam warga terasa mencekam. Satwa liar itu diduga keluar dari habitatnya sebab hutan sekitar yang kian tergerus oleh perkebunan sawit. 

4. Orangutan

Kabel listrik digunakan orangutan kalimantan [Pongo pygmaeus morio] di landskap Kutai, Kalimantan Timur, untuk mencari pakan. Foto: Dok. Yaya Rayadin & Ari Mujahidin

Pernahkah kamu menonton video orangutan yang naik ke atas alat berat? Video yang direkam pada tahun 2013 tersebut, memperlihatkan orangutan yang berlari di atas sisa pohon yang baru saja dirobohkan. Orangutan tersebut berusaha mencari perlindungan dari alat berat yang telah menghancurkan hutan. 

Peristiwa itu menjadi bukti semakin tergerusnya habitat orangutan di Sungai Putri, Kalimantan—habitat alami orangutan kalimantan. Kini tercatat populasi mereka 57.350 individu, menurun 80% dari 50 tahun terakhir. Tak hanya orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), tetapi spesies orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) juga masuk ke status sangat terancam punah dalam daftar merah IUCN tahun 2016. 

Orangutan bagaikan tamu tak diundang di rumahnya sendiri. Daerah yang dulunya hutan rimbun wilayah mereka, telah berubah menjadi lapangan kosong untuk jalan truk sawit. Mereka sudah tidak memiliki pakan lagi dan terpaksa memakan buah sawit. Namun, perilaku itu justru membuat satwa satu ini dianggap hama yang kemudian diburu oleh perusahaan. 

5. Buaya muara

Petugas BKSDA mengevakuasi Buaya Muara (Crocodylus porosus) sepanjang 4 meter lebih yang ditangkap warga saat masuk ke area perkebunan warga di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Oktober 2023. Foto : BKSDA Sultra

Tidak hanya dialami hewan daratan, buaya muara (Crocodylus porosus) turut muncul dekat pemukiman warga di Sumatera Utara. Pada Juli 2024, dilaporkan buaya muara telah muncul selama tiga bulan terakhir. Reptil tersebut terlihat berada di sungai ataupun kadang naik ke daratan untuk berjemur. 

Habitat buaya muara sebenarnya terbentang luas, meliputi hutan bakau, sungai, pantai, dan rawa. Dalam habitat itu, mereka mampu mencari mangsa seperti ikan, mamalia kecil, ataupun penyu. Namun, alih fungsi lahan yang memakan wilayah tersebut membuat habitat buaya muara terus menyusut. Sungai dan rawa yang tercemar oleh limbah industri turut membahayakan bagi kesehatan buaya ataupun mangsanya.  

(****)

*Bernardino Realino Arya Bagaskara, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Rio aktif sebagai jurnalis di pers mahasiswa Teras Pers. Dia memiliki minat pada isu sosial kemasyarakatan, termasuk lingkungan.

Sedih, Orangutan Kalimantan ini Mati Tersengat Arus Listrik

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|