Sulap Lahan Marginal, Budidaya Serai Wangi Jadi Cuanamp;nbsp;

6 days ago 12

Sulap Lahan Marginal, Budidaya Serai Wangi Jadi Cuan 

Budidaya serai wangi menjadi cuan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan marginal. (Foto: Okezone.com/Pixabay)

JAKARTA - Budidaya serai wangi menjadi cuan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan marginal. Hal ini sekaligus melirik potensi serai wangi untuk diolah menjadi bahan bioaditif ramah lingkungan dan berbagai produk turunan bernilai ekonomi. 

Kisah perjalanan serai wangi berawal dari Desa Bukit Mulia yang berada di wilayah terdekat lokasi operasional Tambang Kintap. 

Desa ini dihadapkan pada permasalahan tanah yang kurang subur atau marginal sehingga banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara produktif. Serai wangi (Cymbopogon nardus, sp), adalah satu dari sedikit tanaman yang dapat bertumbuh di lahan tidak produktif ini sehingga dipilih para petani meski nilai ekonominya belum cukup tinggi.

Penggarapannya belum optimal lantaran keterbatasan pengetahuan warga. 

Menyadari potensi tanaman serai wangi untuk pemanfaatan lahan kritis serta peningkatan perekonomian, Arutmin Indonesia menjalin kolaborasi dengan para pemangku kepentingan termasuk kalangan akademisi untuk mengoptimalkan budi daya dan pengolahannya. 

Direktur BUMI sekaligus CEO Arutmin Indonesia Ido Hutabarat, menyatakan, Arutmin tidak hanya fokus memproduksi batu bara untuk ketahanan energi nasional.

"Namun juga berkomitmen menjaga lingkungan dan menjalankan tanggung jawab sosial di seluruh wilayah kerjanya," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (28/3/2025).

1. Isu Lahan Marginal di Wilayah Operasional Tambang

Pada 2022, perusahaan menginisiasi program bioaditif serai wangi melalui Sinergi Masyarakat Tambang Kintap (Terangi Simantap).

Terkait terpilihnya budi daya serai wangi ini, KTT Arutmin Tambang Kintap Dedi Heriyanto mengatakan, social mapping selalu menjadi salah satu pertimbangan utama agar program tepat sasaran. Untuk lingkar Tambang Kintap, budi daya serai wangi dinilai dapat menjawab kebutuhan warga, yang sebagian adalah petani dan pekebun, menuju kemandirian perekonomian berkelanjutan.  

“Serai wangi juga mudah ditanam bahkan di tempat yang minim unsur hara sehingga cocok untuk ditanam di lahan yang tidak produktif dan area reklamasi. Tanaman ini juga berfungsi sebagai cover crop dan dapat mencegah erosi tanah serta merehabilitasi lahan kritis. Selain manfaat ekonominya cukup besar, minyak atsirinya juga bisa diolah jadi campuran bioaditif. Diharapkan, inovasi ini dapat memberikan dampak positif secara luas, baik bagi lingkungan, masyarakat, maupun perusahaan,” kata Dedi,.

Sebagai motor penggerak, Arutmin melakukan penguatan kelembagaan BUMDesa Berkah Mulia untuk pengembangan program dengan melibatkan masyarakat. Petani didampingi dan dibina dalam hal penanaman dan pengelolaan lahan agar lebih optimal. Hasil panen ditampung dan disuling menjadi minyak atsiri yang kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan seperti campuran antiseptik alami, sabun, lilin aroma, dan minyak urut; yang difasilitasi juga pemasarannya. 

Tidak berhenti di sana, pihaknya juga bekerja sama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) dalam mengembangkan pengolahan minyak atsiri lebih lanjut menjadi bahan bioaditif yang berguna untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi bahan bakar pada kendaraan atau mesin industri. Hasilnya didapatkan penghematan B35 (campuran minyak sawit dan solar) mencapai 5-13 persen serta penurunan emisi CO2 dalam operasional perusahaan. 

2. Raup Cuan hingga Rp400 Juta

Berbagai dampak positif telah dirasakan warga dari program Terangi Simantap. Dari sisi sosial ekonomi, ratusan tenaga kerja telah diserap dan 2.400 warga desa telah menerima manfaat dari budi daya serai wangi ini, termasuk sekitar 200 orang dari kelompok rentan (masyarakat miskin, ibu rumah tangga, lansia, dll) yang diberdayakan melalui program tersebut. Pengetahuan masyarakat akan Good Agricultural Practice pun meningkat berkat berbagai pelatihan.

Dhani, petani serai wangi sejak 2018, mengaku sangat terbantu karena program ini tidak hanya memaksimalkan pemanfaatan lahan kritis, melainkan juga mengoptimalkan potensi serai wangi, membuka peluang usaha, dan menjadi tambahan penghasilan. 

“Petani mendapatkan bibit, pupuk, dan pendampingan pengolahan lahan. Kemudian diberikan pelatihan dan pembuatan produk turunan.  Dukungan lain berupa alat suling dan pemasaran produk turunan serai wangi,” tutur pria yang juga bertugas mengelola alat penyulingan ini.

Read Entire Article
Apa Kabar Berita | Local|