Anggie Ariesta
, Jurnalis-Jum'at, 27 Februari 2026 |16:03 WIB

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini. (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA — Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini, turun 28 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp16.787 per dolar AS.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah minggu ini dipengaruhi sentimen eksternal, terutama ketegangan geopolitik terkait Iran. Washington mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah dan mengancam tindakan militer jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir.
“Pembicaraan AS-Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada hari Kamis tanpa kesepakatan yang jelas. Namun, kedua pihak mengisyaratkan akan segera melanjutkan negosiasi, dengan diskusi tingkat teknis juga akan berlangsung minggu depan di Wina, kata mediator Oman,” tulis Ibrahim, Jumat (27/2/2026).
Ketidakpastian yang meningkat atas perekonomian AS juga menjadi faktor berikutnya, terutama setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden Donald Trump. Namun, Trump menanggapi dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk, sehingga pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut.
Selain itu, pasar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter The Fed karena para pembuat kebijakan masih khawatir tentang inflasi yang tinggi. Secara luas, pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Maret dan April.
Sementara penurunan suku bunga pada bulan Juni, yang sebelumnya dianggap kemungkinan paling besar, kini tampaknya kurang pasti. Menurut CME FedWatch Tool, pasar melihat pertemuan di bulan Juli sebagai waktu lebih mungkin untuk penurunan suku bunga berikutnya, dengan probabilitas sekitar 66 persen.
Dari sentimen domestik AS, Departemen Perdagangan (DOC) mengumumkan pada Selasa pengenaan bea masuk imbalan atas sel dan panel surya yang diimpor perusahaan dari India, Indonesia, dan Laos. Langkah ini dilakukan untuk melawan subsidi yang mendukung industri di ketiga negara tersebut.


















































