Anggie Ariesta
, Jurnalis-Minggu, 18 Januari 2026 |17:05 WIB

Rupiah Diprediksi Melemah Tembus ke Rp17.100 per USD, Ini Pemicunya (Foto: Freepik)
JAKARTA - Mata uang Rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan pada pekan depan, dengan potensi pelemahan yang bisa menembus level psikologis baru.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS akan sangat fluktuatif akibat akumulasi sentimen global yang memanas.
Berdasarkan analisis teknikalnya, Ibrahim menyebut jika Rupiah mengalami pelemahan pekan depan, target pertama berada di Rp16.920. Namun, risiko pelemahan yang lebih dalam sangat terbuka lebar.
"Pelemahan mata uang Rupiah kemungkinan besar ya itu di minggu depan itu di Rp17.100. Artinya apa? Bahwa intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia kemudian kebijakan-kebijakan pemerintah ya ini pun juga belum bisa membuat Rupiah ini menguat tajam," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Ibrahim mengidentifikasi lima faktor krusial yang akan mendominasi pergerakan pasar pekan depan. Pertama, Uni Eropa mulai menerapkan bea masuk dumping terhadap produk alumina China sebesar 88,7 persen hingga 110,6 persen. Di sisi lain, AS mengancam tarif 20 persen bagi Eropa terkait isu wilayah Greenland.
Kemudian, pemanggilan Jerome Powell oleh Jaksa Agung serta kisruh pemecatan pejabat di lingkaran Donald Trump memperburuk stabilitas internal AS.
Ketegangan Rusia-Ukraina yang meningkat serta situasi di Iran yang kian genting dengan penutupan wilayah udara dan pergerakan kapal induk AS, Abraham Lincoln, ke Timur Tengah.
Ada spekulasi penurunan suku bunga AS di tengah masa pensiun Powell tetap menjadi fokus pasar. Ketidakpastian global memicu bank sentral dunia (China, India, hingga ASEAN) melakukan aksi borong emas besar-besaran, yang secara tidak langsung menekan mata uang negara berkembang.














































