Opini
, Jurnalis-Minggu, 01 Maret 2026 |15:25 WIB

Ustadz Bachtiar Nasir (foto: dok ist)
Penulis: Ustadz Bachtiar Nasir
Di tengah dentuman mesiu di Teheran, mata dunia kini juga tertuju pada Jakarta. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pemegang mandat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton pasif. Presiden Prabowo Subianto memikul tanggung jawab moral dan geopolitik untuk memastikan Indonesia tetap hadir sebagai kekuatan penyeimbang.
Ada tiga langkah strategis yang harus diambil pemerintah dan umat Islam Indonesia.
1. Diplomasi Aktif “Jalan Tengah”
Indonesia harus segera mengambil inisiatif di level Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di satu sisi, kita tidak boleh terjebak dalam polarisasi Barat versus Timur atau konflik sektarian. Namun di sisi lain, suara Indonesia harus menjadi suara kemanusiaan yang tegas mendesak penghentian agresi militer.
Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki legitimasi moral untuk menunjukkan sikap tegas terhadap penjajahan dan hegemoni. Indonesia harus bertindak cepat mencegah meluasnya perang terbuka yang hanya akan mengorbankan warga sipil tak berdosa.
Kita juga harus mengingatkan dunia bahwa stabilitas di Selat Hormuz merupakan urat nadi ekonomi global, termasuk bagi ketahanan energi Indonesia sendiri.
2. Mengantisipasi Dampak Ekonomi Domestik
Secara realistis, wafatnya Ali Khamenei dan meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Pemerintah perlu memperkuat bantalan sosial dan memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga. Ini menjadi ujian bagi kemandirian ekonomi Indonesia. Krisis global tidak boleh menjadi pintu masuk bagi instabilitas domestik.
Kita juga perlu waspada terhadap dinamika global yang dapat menyeret Indonesia ke pusaran konflik besar, baik melalui tekanan ekonomi, politik, maupun diplomatik.














































