Fahmi Firdaus
, Jurnalis-Sabtu, 28 Februari 2026 |07:49 WIB

Kemenag Rumuskan Proyeksi Santri Masa Depan Lewat Takjil Ramadhan
JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan, bahwa santri perlu memiliki target belajar yang maksimal. Santri tidak hanya dituntut untuk tafaqquh fiddin, tetapi juga memahami dan menguasai ilmu ketatanegaraan serta kebangsaan agar mampu mengambil peran strategis di berbagai bidang.
Demikian disampaikan Sekjen Kemenag Kamarudin Amin, saat menghadiri kegiatan Takjil Pesantren di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan.
“Santri masa kini jika bisa tidak hanya memiliki target tafaqquh fiddin tetapi bisa belajar ketatanageraaan juga sehingga bisa sukses di pos pos strategis,” ujar Kamarudin, Sabtu (28/2/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh PP Al-Tsaqafah KH Said Aqil Siradj menerangkan bahwa pesantren memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang sangat besar, salah satunya melalui khazanah kitab kuning yang menjadi fondasi pembelajaran.
Kiai Said menjelaskan, konstruksi keilmuan pesantren bertumpu pada tiga pilar utama, yakni bayan ilahi yang bersumber dari wahyu, bayan nabawi yang merujuk pada sunnah, serta bayan aqli yang berkembang melalui ijtihad ulama seperti ijma dan qiyas.
“Pesantren itu kaya, salah satunya karena tradisi kitab kuningnya. Di dalamnya ada bayan ilahi, ada bayan nabawi, dan juga bayan aqli yang melahirkan ijma serta qiyas sebagai metode istinbath hukum,” jelas Kiai Said Aqil.
Direktur Pesantren Basnang Said menmbahkan, bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “San Trend Ramadhan” yang meliputi Takjil Pesantren, Ramadhan Insight dan lain sebagainya.


















































