Feby Novalius
, Jurnalis-Senin, 19 Januari 2026 |13:29 WIB

Industri benang Indonesia menyambut 2026 dengan optimisme. (Foto: Okezone.com/AnE)
JAKARTA – Industri benang Indonesia menyambut 2026 dengan optimisme, meski sempat terdampak kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) sebesar 19% yang berlaku sejak Agustus 2025. Tarif ini lebih rendah dibandingkan rencana awal sebesar 32%, sekaligus menjadi salah satu yang terendah di kawasan ASEAN.
"Kami lihat, tantangan pasti selalu ada. Tahun lalu saja menghadapi tarif yang luar biasa menantang. Tapi tahun ini kami fokus pada pertumbuhan untuk memaksimalkan hasil sesuai yang diharapkan," ujar President Director American & Efird Indonesia Sanjay Chandraratna, Senin (19/1/2026).
Produsen benang garmen asal AS ini mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi pertumbuhan dan komitmen industri yang akan dijalankan sepanjang 2026. Strategi tersebut antara lain berfokus pada penataan ulang, konsolidasi, dan ekspansi yang ditargetkan di seluruh segmen bisnis utama tahun mendatang.
"Target ekspor terbesar tentu masih ke AS, ada juga Eropa, Jepang, dan lain-lain. Seperti 2025, kami tetap kuat, tidak hanya di satu divisi, tapi juga di apparel, backpack, dan sepatu yang tumbuh di akhir 2025 dan diproyeksikan tumbuh lagi tahun ini," tambahnya.
Pabrikan benang yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur, PT Benang Amefird Indonesia (BAI), juga menyoroti kemajuan yang telah dicapai terhadap prioritas strategis tahun lalu, termasuk pencapaian utama, pelajaran yang dipetik, dan dinamika pasar yang terus berkembang. Kepemimpinan perusahaan menekankan bahwa tahun mendatang akan menandai fase kalibrasi strategis, memperkuat bisnis inti, mengoptimalkan operasi, dan memastikan sumber daya selaras dengan penciptaan nilai jangka panjang.

















































